Selasa, 07 Mei 2013

Susahnya Membangun Komitmen


Komitmen
Komitmen itu ibarat suatu arsitektorat kehidupan, maka komitmen membutuhkan perancangan yang matang mulai dari permulaan hingga perawatannya. Komitmen itu dibangun, bukan asal hinggap dan pergi. Komitmen itu dibangun di atas suatu pondasi yang kokoh. Kemudian, secara kontinyu dan bertahap, komitmen didirikan dengan memancangkan tiang-tiangnya. Dilengkapi dengan dinding penguat dari segala bentuk rasa suka dan duka. Baru setelah itu, pematutan atap dengan konstruksi yang ada di bawahnya. Harus terukur, berat dan kualitas atapnya. Harapannya, bangunan ini akan kuat dan tetap tegar walau dibantai seribu kali oleh badai, didera oleh seribu kali gempa, diliput segala banjir, dan tetap terlindung dari segala kobaran api yang membakar segenap hati. Itulah komitmen.

Sumber: http://suzannita.files.wordpress.com/2010/11/komitmen.jpg

Komitmen kadang mudah dibangun
Komitmen kadang mudah diucapkan tetapi dalam pelaksanaannya, banyak yang hangat-hangat tahi ayam. Komitmen, dalam kasus ini gampang untuk menggambarkan hubungan antar manusia, hubungan antara seorang lelaki dengan perempuan. Banyak orang bilang, tentang cinta. Cinta monyet, cinta yang diobral, dan sebagainya. Bagiku, cinta itu satu kata sederhana saja. Ada yang lebih agung dari sekedar bilang, “Aku cinta kamu”. Yaitu, “Aku berkomitmen sama kamu”.

Aku komitmen denganmu
Gampang terucap, susah terungkap. Suatu ketika, aku bercengkerama dengan seorang kawan. Dia mengaku sudah mendekat dengan salah seorang yang sudah memikatnya. Dia mengaku sudah berbicara dengannya, bersepaham dengannya, berkomitmen padanya. Bukan suatu hal yang luar biasa memang. Bukankah hidup khalayak ramai seperti itu?

Komitmen versi saya, suatu cita-cita yang masih asing
Komitmen dalam hal ini adalah komitmen berhubungan dengan seseorang yang kepadanya kamu menaruh hati. Saat ini, termasuk kawan saya tadi, telah salah kaprah, memasung makna komitmen dan menggantinya dengan caranya sendiri. Komitmen dijadikan kambing hitam. Hina.

Saya bukanlah orang yang cukup paham dengan akidah dan akhlak, namun saya mempunyai suatu keyakinan dalam hati, keyakinan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Bismillah.

Komitmen tak perlu dengan cara yang biasa layaknya orang pacaran. Dalam pandangan Islam yang saya pegang, tak ada kata pacaran di dalamnya. Tak ada bermesraan sebelum menikah syar’i. Tak ada pacaran islami, tak ada berkhalwat pranikah yang halal. Berkhalwat sederhananya adalah berduaan lain jenis kelamin tanpa mahram di tempat yang sepi. Dengan alasan apapun, banyak pemuda dan pemudi yang berlaku seperti ini. Saya belum juga mengerti, bagaimana bisa seorang muslim dan muslimah, yang sedewasa ini, sudah paham tentang arti kesucian diri, masih saja melakukannya.

Saya sok suci?
Bukan, bukan begitu maksud saya. Agaknya untuk saat ini menyindir secara fisik baik bicara maupun perbuatan sudah tak mempan lagi. Justru ‘memperkuat’ keyakinan kawan-kawan untuk berbuat demikian. Maka, sesuai sunnah Rasul, hadapilah dengan hati. Menyindir dengan hati, sepertinya lebih bermakna. Karena secara sadar atau tidak, ucapan dalam hati akan membekas dalam diri ini. Sebagai kewajiban sesame muslim adalah saling mengingatkan untuk tidak bermaksiat dan mendekati diri dari zina.

Nasib komitmen yang dikorbankan
Kasihan memang. Makna komitmen dikambing hitamkan, sebagai dalih “Aku sama dia sudah komitmen kok, satu pandangan, maka terserah dong apa yang kami lakukan. Maka terserah kata orang tentang kami. Toh, yang ngerti isi hati kami sesungguhnya hanya Allah yang Maha Mengetahui.” Naudzublillah, sampai membawa-bawa nama Allah, untuk ‘menghalalkan’ pacaran itu.

“Serius, kami gak melakukan apa-apa!”
Sampai sesewot itu, bisa jadi diucapkan. Apa yang tidak kalian lakukan? Kalian tidak berduaan, tidak bersentuhan, tidak bermesraan, tidak berkata-kata syahdu? Serius? Itu pertanyaan dasar yang akan saya ajukan jika kawan-kawan saya menolak sindiran saya.

Saya dianggap tidak dewasa?
Saya hanya sedang mengamati dan belajar. Bagaimana komitmen yang disalahgunakan, sehingga saya mengerti arti komitmen hidup dan cinta sesungguhnya. Tentu dengan aturan islami, yang dimulai dengan khitbah (melamar) sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Pada waktu rentang antara khitbah dan pernikahan itulah, masa taaruf (perkenalan) diperbolehkan. Kedua pihak boleh mencari tahu hal-hal yang membuat keduanya semakin ingin menikah. Tentu dalam masa ini pun tetap didampingi oleh mahram. Baru setelah semuanya tetap sepakat hingga tanggal pernikahan, maka segerakanlah prosesi akad itu.

“Tapi pacaran, PDKT, dan sebagainya itu buat mengatasi masalah saat nikah lho.”
Banyak statistik justru menunjukkan pacaran itu membutakan diri akan keburukan-keburukan masing-masing pihak, sehingga baru ketahuan setelah menikah dan serumah. Munculah percekcokan rumah tangga yang tidak harmonis.

“Lalu, apakah taaruf yang singkat mampu menjamin keberlangsungan hubungan?”
Permasalahan dalam rumah tangga itu sangat wajar, sebagai bumbu nikmatnya bersuami istri. Seorang muslim dan muslimah ketika memutuskan untuk menikah, secara penuh akan mendasarkan hubungan mereka karena Allah semata, sehingga permasalahan rumah tangga akan diputuskan dengan cara tawakal kepada Allah. Keduanya saling mengingatkan akan dasar-dasar pelaksanaan rumah tangga yang sudah dituliskan dalam Al-Quran dan hadits.

“Apakah hanya itu, masalah langsung kelar?”
Ya bukan begitu juga. Artinya, kalau dimaknai dengan firman Allah, maka penyelesaian akan mudah karena dilandasi ketenangan dan ketakwaan hati kepadaNya. Bukan karena harta, tahta, dan dunia.

Jadi, jangan pernah mengulangi menyalahgunakan komitmen!