Rabu, 01 Februari 2023

Mengurus Surat Sehat di RSUD Sleman - Januari 2023


Update 30 Januari 2023.

Hari saya mengurus surat sehat dari RSUD Sleman (Gedung Baru). Ada hal yang berbeda pada prosedurnya, yaitu menjadi semakin mudah. Dahulu saya pernah mengurus surat yang sama pada bulan Juli 2017, dan saya ceritakan caranya di sini.

Kali ini, pada bulan Januari 2023, saya mengurus surat sehat yang terdiri dari:
1. Surat Keterangan Sehat Jasmani
2. Surat Keterangan Sehat Rohani
3. Surat Keterangan Bebas NAPZA

Maka, berikut prosedur mudahnya:
1. Siapkan Kartu Pasien (berwarna biru atau merah) bagi Anda yang pernah berurusan ke RSUD Sleman, atau jika belum pernah, langsung saja ke RSUD dengan membawa identitas diri seperti KTP. Jangan lupa sediakan uang (bisa QRIS) sekitar Rp. 325.000,00.

2. Saran saya, datanglah pagi-pagi, karena mengantisipasi panjangnya antrian. Jam 07.30 WIB adalah waktu yang pas untuk mulai mengurus surat sehat Anda. Saya datang pukul 08.00 sudah mendapatkan antrian sekitar 10 orang. Bayangkan jika semakin siang. Pertimbangkan pula lamanya mengurus uji lab nantinya. 😀

3. Parkirkan kendaraan Anda di basement, atau ikuti petunjuk petugas satpam.

4. Segeralah menuju Meja Informasi pada bagian Lobby terdepan. Utarakan maksud Anda dan Anda akan diberikan secarik kertas nomor antrian.

5. Menuju ke Ruang Pendaftaran. Anda wajib menunggu sesuai antrian. Jika sudah dipanggil, Anda menuju ke Loket 5. Utarakan kembali maksud Anda secara detail sebab pada bagian inilah, kemana saja Anda harus pergi akan dijelaskan oleh petugasnya, yaitu Medical Check Up, lantai 4. Dari sini, Anda akan diberi tiket.

6. Menuju ke Medical Check Up, lantai 4. Boleh naik lift kalau malas pakai tangga. Serahkan tiketnya. Setelah itu, Anda dipersilakan menunggu dipanggil lagi. Setelah ada panggilan, petugas memeriksa Anda dan Anda akan diberi:
- Soal dan lembar jawab Tes Woodworth
- Surat rujukan ke Lab, untuk tes NAPZA
- Nota MCU putih, biru, kuning

7. Anda harus membayar dahulu di loket sebelahnya. Bisa pakai QRIS kok. Untuk standar biaya pengurusan surat sehat ini (per Januari 2023):
- Biaya Laborat (Uji Sampel Urin), Rp 140.000,00
- Biaya Medical Check Up (MCU), Rp 185.000,00
TOTAL Rp 325.000,00

Anda akan diberi nota biru untuk diberikan ke petugas yang memberikan nota MCU tadi.

8. Selanjutnya Anda sebaiknya langsung menuju ke Laboratorium. Lokasi Lab ini terletak di lantai 4 juga. Letakkan surat rujukan ke dalam keranjang bertuliskan "Pendaftaran" yang ada di loket Lab, dan tunggu untuk dipanggil. Sembari menunggu, kerjakan Soal Woodworth ke lembar jawab yang sudah disediakan. Anda menunggu di Lab ini untuk dipanggil dan diberikan wadah urin bertutup kuning. Begitu Anda mendapatkan wadah urin, Anda dapat mencari toilet di sebelah utara Lab. Jangan terlalu banyak urin yang Anda ambil, cukup 1/3 wadah. Setelah itu, Anda kembali ke Lab dan letakkan sampel urin Anda pada keranjang "Sampel Urin" yang tersedia. Sampai tahap ini, Anda hanya memegang berkas:
- Soal dan lembar jawab Tes Woodworth
- Nota MCU putih

9. Soal Woodworth sudah selesai Anda kerjakan? Jika sudah, cek hasil Lab, sudah ada? Kembalilah ke MCU tadi untuk menyerahkan lembar jawab WW dan buku soalnya tersebut. Sampai sini, Anda hanya akan memegang:
- Nota MCU putih

10. Di Ruang Medical Check-Up, Anda akan diperiksa oleh dokter umum (untuk Surat Sehat Jasmani) dan dokter spesialis (untuk Surat Sehat Rohani dan Surat Bebas NAPZA). Jika sudah selesai, Anda akan membawa pulang:
- Surat Keterangan Sehat Jasmani
- Surat Keterangan Sehat Rohani
- Surat Keterangan Bebas NAPZA
- Hasil Lab
- Kuitansi Pembayaran Lunas

Selesai sudah Anda mengurus surat sehat yang Anda perlukan. Mungkin kebutuhan Anda bisa lebih banyak dari yang saya ceritakan disini. Mungkin Anda memerlukan rontgen (untuk periksa TBC), dan yang lainnya. Bahkan mungkin Anda tidak memerlukan tes NAPZA sehingga prosedur lebih simpel. Namun biar bagaimanapun, saya memilih RSUD Sleman adalah karena (1) saya berdomisili KTP di Sleman, dan (2) dari segi biaya, jauh-jauh lebih terjangkau daripada ke RSUP Dr. Sardjito.

Semoga bermanfaat.

Rabu, 09 Desember 2020

[UPDATE 25/12/2020] Bepergian ke Luar Negeri di masa COVID

sumber gambar: disini

Hai teman-teman semua,

Di sini saya mau berbagi kisah pengalaman saat saya harus travelling meninggalkan tanah air, di masa-masa sulit akibat COVID ini. Jadi, sebagai penumpang yang baik dan tentunya agar lancar perjalanannya, saya harus mengikuti prokes alias protokol kesehatan yang ditentukan untuk perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Langsung saja ya.

Beberapa waktu lalu (Oktober 2020), rute terbang saya dari Yogyakarta (YIA) menuju Amsterdam (AMS). Maka saya punya penerbangan domestik (YIA-CGK Jakarta) dan internasional (CGK-AMS). Saran saya kalau memang harus terbang, baik domestik maupun internasional, carilah rute sependek mungkin. Kadang kita kan milih ya, di hari-hari normal, biasanya tiket murah itu selalu banyak transitnya. Lho kan sekalian jalan-jalan kak? Ya iya kalau hari normal, mau cari rute lewat mana aja ya bisa. Tapi musim COVID begini, kalau kita nggak pikir-pikir, (1) makin banyak transit, makin besar kemungkinan terpapar; (2) makin banyak proses/administrasi pengecekan di setiap tempat, padahal sebagai passenger, kita kan pengin serba praktis.

Yuk, kita list dulu apa aja persiapannya (p.s. ini pengalaman Oktober 2020; untuk memastikan yang terbaru, perlu cari tahu lagi ya):

  1. Surat dokter/lab bebas COVID: rapid test dan atau PCR (swab) test. Buat domestik, pemerintah kita cuma mensyaratkan rapid test. Buat internasional, cek di website pemerintah negara tujuan. Kalau saya tujuan Belanda, cuma diminta unduh formulir "Health Declaration Form" yang bisa diunduh di sini.

    Untuk rapid test, sekarang sudah bisa dilakukan dimana-mana dengan harga terjangkau. Kalau saya, karena ingin yang sepi tempat rapid testnya, saya memilih di Gadjah Mada Medical Center (GMC), membayar 150 ribu kalau nggak salah, udah dapat surat sehat berikut.

    Kalau punya uang berlebih dan agar yakin betul-betul sehat, maka bisa daftar swab PCR test. Sebab, rapid test itu hasilnya tentu masih besar ketidak-akuratannya. Bisa-bisa, cuma gegara begadang semalam sebelumnya, paginya aga ngedrop, lalu rapid test, hasilnya reaktif. Kan berabe. Padahal negatif COVID.

    Catatan: hasil tes ini berlaku biasanya 7 hari. Tapi semakin dekat dengan hari H terbang, misal H-2 atau H-1, itu lebih aman di pengecekan administrasi. Dan di bandara keberangkatan, mereka juga ada pos rapid test. Cuma disitu kita gak bisa memprediksi akan seberapa lama hasilnya keluar. Dan kepanikan ini hanya akan membuat pikiran kalut. Jadi sebaiknya, siapkan H-1 deh ya.

    Update informasi per 25 Desember 2020: Pemerintah Belanda memberlakukan wajib negatif PCR test, maksimal 72 jam sebelum boarding (Info selengkapnya ada di sini) dan mengisi formulir deklarasi negatif (diunduh di sini).


  2. Surat sehat dokter. Mungkin ini nggak begitu terpakai, tetapi buat jaga-jaga, siapkan aja. Karena, surat sehat dokter ini biasanya juga ada keterangan kesehatan tambahan kita, e.g. tinggi dan berat badan, usia, tekanan darah, dsb.

  3. Beli tiket pesawat! Ini agak-agak gambling sebetulnya. Antara beli tiket dulu atau tes COVID dulu. Tiket pesawat biasanya dibeli jauh-jauh hari agar dapat harga murah. Sedangkan test COVID, diwajibkan mendekati hari H terbang. Jadi agak tricky. Tapi saran saya, beli aja dulu tiket, baru test. Semisal positif COVID itu sudah resiko, setidaknya tiket yang terbeli masih harga yang murah kan?

  4. Download dan isi eHAC. Ini semacam kontrol kesehatan resmi dari Kemenkes, yang dipakai untuk tracking manakala ada dari penumpang yang ternyata positif COVID. Download aplikasi bisa di Google Playstore atau sejenisnya. Untuk Playstore, silakan dicek di sini 

    Nanti kalau sudah download dan install, silakan diisi eHAC-nya, termasuk detail pesawat dan nomor kursinya. Akan ada QR Code yang nanti di-scan sama petugas di bandara (kalau saya di bandara CGK pas ngecek ini).

  5. Masker! Masker selalu dipasang dimanapun berada. Kalaupun harus dilepas, usahakan di tempat yang sepi. Saran saya, gunakan masker ganda (dobel). Kalau ada masker N95, itu bagus banget. Tapi kalau itu susah didapat, dan punyanya masker non-medis yang hijau atau biru itu, pakai dobel. Kalau pakai masker kain, pastikan pori-pori kainnya yang rapat. Cara ceknya, pakai masker kain, lalu hembuskan nafas ke arah cermin/kaca. Kalau masih berembun, berarti kainnya sia-sia.

    Kalau saya kemarin, karena benar-benar ikhtiar  menjaga diri. Saya pakai dobel, di dalam pakai N95, yang luar pakai yang biasa. Sia-sia? Kalau N95 itu sebetulnya udah cukup. Tapi karena saya mau terbang jauh dan lama, maka pikir saya, biar yang luar itu yang murahan, jadi setiap 5 jam diganti. Lha kalau N95 tok, nanti harus ganti baru kan muahal yak.. hehe... tips aja sih ini.

    Tambahan: Ketika sudah di dalam pesawat, masker tetap dipakai. Boleh dilepas, ketika harus makan/minum untuk penerbangan jauh. Siapkan stok masker ganti di tempat terjangkau, biar cepet gantinya.

    Bolehkah pake face-shield? Tentu boleh, asal tetap pake masker! Masker tidak bisa digantikan oleh face-shield.

    Saya pakai goggle juga, itu lhoh, kacamata laboratorium, yang rapat. Kacamata biasa juga gak papa. Dan saya juga bawa obat tetes pelembab mata, agar mata terlalu kering ketika penerbangan jauh.

  6. Hand sanitizer. Penting ini bawa kemana-mana. Juga tissue alkohol basah, dan kering. Pokoknya alat bersih-bersih lah. Untuk memastikan diri yakin sudah berusaha bersih.

    Pastikan cairan-cairan ini pada botol kemasan travel size ya... alias maksimal 100 mL. Walaupun mereka basisnya alkohol, alias flammable mudah terbakar, tapi selama botolnya transparan dan <100 mL, mereka diperbolehkan dibawa ke kabin atas. Justru, jangan disimpan di koper. Saya dapat info ini dari petugas check-in drop bagasi.
Kira-kira itu sih yang terpenting untuk persiapan. Sisanya mengikuti aturan penerbangan seperti biasa: paspor, visa/resident card, tiket, KTP, bagasi sesuai kuota yang dibeli, hati-hati sama barang berharga versi customs, dsb.

Nah, setelah semua barang ala COVID ini siap, kita masuk ke bandara keberangkatan. Disini saya dicek tiket, paspor, dan surat rapid test nya. Oleh karena itu, siapkan semua berkas ini di tempat yang terjangkau, mudah diambil dengan cepat. Saran saya, pakailah tas kecil di depan/ selempang ala anak muda itu. Jadi tak perlu menurunkan tas ransel dari punggung.

Setelah masuk, mengikuti alur jalan, dan sampailah ke pengecekan surat rapid test nya oleh petugas kesehatan. Disini akan di stempel suratnya dengan cap mereka. Penting: jangan sampai hilang! 

Lalu, bila tidak membawa surat rapid, akan diminta rapid test dulu disitu. Dan ini sangat tidak disarankan karena pasti kita sudah sangat terburu-buru.

Baru kalau lolos, kita masuk ke hall check in drop bagasi. Tunjukkan identitas diri (paspor, KTP) dan surat bebas COVID. Disini alurnya normal seperti biasanya. Lalu setelah beres,  jangan lupa kemasi berkas-berkas tadi. Jangan terburu-buru! Kita sedang membawa banyak berkas. Jangan sampai ketinggalan dan LUPA ditaruh dimana. 

Setelah itu ke ruang tunggu boarding dekat gate. Buat nunggu usahakan cari tempat duduk yang jauh dari keramaian. Nah, disini boleh-boleh aja sambil nyemil/makan.

Waktunya boarding!
Siapkan lagi berkas-berkasnya untuk dicek sama petugasnya. Ingat antri jaga jarak ya.

Lalu tertiblah masuk ke kabin pesawat, dan cari tempat duduk dan masukkan bagasi kabin yang mudah diawasi. 

Biasanya, di masa-masa COVID, jumlah okupansi tempat duduk (jumlah penumpang) cuma 20-an % alias kosong melompong. Good news bukan! Karena memang batasnya 50% kalau gak salah. Bayangkan, penerbangan internasional, lama, dan satu deretan kita kosong... wuih, bisa selonjoran buat tidur... kadang kalau pasang wajah 'masa bodo' bisa nambah makan kali ya.. hehe... tapi terpenting lagi, jadi agak tenang karena isi pesawat sedikit. Dan untuk pesawat ini, dilengkapi sama filter udara yang canggih dengan sirkulasi yang sudah dipehitungkan. Setidaknya untuk pesawat Garuda ya (soalnya saya pakai Garuda dari Yogya ke Amsterdam). Yang lain saya belum tahu.

Trus sampailah di CGK Terminal 3.
Saya jalan menuju hall untuk ambil koper. Oiya! ada kemungkinan teman-teman mengambil koper dan check in drop bagasi ulang ya, karena siapa tau ada pengecekan-pengecekan lagi kan. Ini untuk yang internasional, karena bergantung dengan perbedaan regulasi penumpang begitu.

Di tengah jalan menuju hall klaim koper, seluruh penumpang diminta menunjukkan QR Code eHAC. Makanya isi eHAC sebelum berangkat ya, biar disini cepat.

Terus ambil koper. Karena saya harus ke gate internasional, saya naik ke lantai atas untuk check in bagasi di hall check in. Singkat cerita, semua beres. Masuk lewat pengecekan imigrasi, beres. Nunggu. Lapar, tapi toko-toko di dalam ruang tunggu banyak yang tutup. Jadi, lagi-lagi bawalah cemilan sendiri dari rumah.

Kemudian boarding seperti biasa dan....... sampailah di Schiphol dengan selamat dan aman. Alhamdulillah.

Disini kemudian kita langsung ke cek imigrasi. Karena saya ada kartu residen, walaupun paspor saya paspor Indonesia hijau, saya harusnya bisa ikut antrian EU Citizen. Tapi demi ingin agak ngantri, sambil ngumpulin nyawa. Nah, disini cek paspor sama Health Declaration Form tadi. Begitu beres, cus ambil koper dan keluar bandara. Lalu beli tiket kereta, dan otw menuju Enschede.

Jika ada tambahan/kekurangan/saran/update info, kabari saya yaa... biar saya update lagi catatan ini, dan membantu teman-teman yang lain.

Makasih.
@Enschede Belanda

Jumat, 03 Juli 2020

Memperpanjang Paspor di Unit Layanan Paspor (ULP) Bantul - Juli 2020

Ini adalah pengalaman saya memperpanjang (mengganti) paspor saya karena sudah mau kadaluarsa. Jadi, perlu diketahui bahwa pengurusan perpanjangan (pergantian) paspor yang mau habis itu bisa dilakukan sejak 6 bulan sebelum tanggal kadaluarsanya. 

Oiya, ini paspor saya yang berwarna hijau. Jadi tidak tahu saya kalau untuk perpanjangan paspor biru alias paspor dinas. Mungkin sama, mungkin berbeda. Saya juga kok ya tidak tanya sekalian sama petugasnya ya.


Nah, bagi teman-teman yang akan memperpanjang paspor, kuy disimak catatan perjalanan saya. Saya akan menceritakan pengalaman saya sekaligus beberapa hal yang perlu jadi perhatian. Mungkin jadi tips juga.


1. Booking lewat antrian.imigrasi.go.id atau unduh aplikasi layanan paspor online lewat android atau iOS. Perlu diketahui, bisa dapat nomor antrian ini bener-bener keberuntungan lho. Susaah banget dapatnya. Kalau kata apps/websitenya, pengambilan nomor antrian tersedia pada hari Jumat s.d. Minggu. Itu menurut pengalaman, Jumat jam 14 buka antrian, jam 15 udah habis. Saya hari Jumatnya sempat putus asa.

Kiri: lewat apps, Error - Kanan: lewat website, capcha nya aja gak ada.
Beberapa teman menyarankan untuk datang offline aja. Memang sih, perlu usaha lebih. Toh kalau ada error saat masuk ke laman apps maupun websitenya, setidaknya bisa tanya petugas on the spot. Namun alhamdulillah, hari Sabtu pagi-pagi saya iseng buka lagi apps saya di android, dan voila! Saya bisa masuk ke lamannya dengan lancar, dan bisa dapat nomor antrian! Bersyukur beud.



Pilih tempat/kantornya ini pun bisa jadi tricky. Pilihlah kantor yang relatif tidak akan jadi jujugan banyak orang. Biasanya kantor-kantor imigrasi cabang lebih sepi. Untuk DIY sendiri ada 3 kantor: 1 kantor pusat di dekat bandara, 1 Unit Layanan Paspor (ULP) Bantul - utaranya gerbang UMY Ringroad barat, dan 1 kantor cabang di Kota Wates, Kulon Progo.


Saya pilih yang ULP Bantul. Dan dapat! Itupun saat itu tinggal 3 nomor termasuk saya. Geregetan.


2. Saya save dan screenshot. Ini sesuai dengan petunjuknya kok.


3. Siapkan berkas-berkas berikut:


  • Paspor lama, 
  • KTP elektronik, 
  • Kartu Keluarga (KK), 
  • Akta lahir, 
  • Buku/surat nikah/ijazah. Kalau aku bawa buku nikah. Ini fungsinya untuk verifikasi nama, apakah sudah benar konsisten atau belum: ini termasuk singkatan-singkatan nama.
  • Kalau kamu domisilinya dari luar daerah (luar propinsi), kamu akan diminta surat pengantar alasan kenapa bikin paspornya di propinsi DIY. Untuk kamu para mahasiswa, suratnya harus dari departemen/jurusan/prodi. Untuk kamu para pekerja/pegawai, mintalah dari atasan. Untuk orang umum, minta surat pengantar dari Kelurahan. - Ini informasi verbal dari petugasnya disana.

    Fotokopi semua berkas 1 kali. Yang asli tetap dibawa untuk verifikasi.
  • Jangan lupa bawa materai 6000 sebanyak 1 lembar.
4. Pada hari yang dijanjikan, bawa berkas dan skrinsut-an nomor antrian ke kantor yang sesuai dengan pilihanmu saat mendaftar antrian. Lalu bawa semua berkas ke petugas untuk dapat nomor antrian lagi. Kalau kasusku kemarin, disini mulai ditanya-tanya, untuk apa, kemana... lalu kita diberi:

  • map kuning khusus dari sana, diisi nama dan lain-lain pada bagian muka depan.
  • formulir isian, diisi full sesuai petunjuk. 
  • formulir pernyataan kebenaran data, diisi sesuai petunjuk dan materai, tanda tangan diatas materai.

    Tenang, disana banyak bolpen hitam disediakan!

5. Terus menunggu dipanggil untuk verifikasi entry, ejaan nama, dsb. Siapkan berkas-berkas dalam map kuning yang tadi. Bakal ditanya-tanya lagi disini keperluannya apa, dan mau kemana, dst.


6. Setelah itu baru foto dan input sidik jari. Sebetulnya cuma disamping persis sih, namun bisa jadi antri agak banyak, jadi mungkin nunggu dipanggil lagi.


7. Setelah itu, kamu akan menerima tagihan untuk dibayar, biaya pembuatan paspor.
Untuk kasus saya, karena sistem baru perbaikan katanya, maka dikasih solusi: akan diberitahu bukti tagihannya ke nomor WA, lalu bawa nomor WA tersebut ke teller bank (mana saja). Harus teller, biar dapat bukti bayar yang besar itu. Terus 3 hari kerja setelah bayar, ke ULP lagi, buat ambil paspor. DONE!

Itu sekilas cerita pengalaman penggantian paspor karena sudah mau habis masa berlaku. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua yang mau mengganti paspornya, atau bikin baru pertama kali... kurang lebih sama alur dan syaratnya. Yang paling ngeselin adalah rebutan slot antrian lewat apps atau websitenya. Saran saya, carilah waktu yang paling seloo.. misalnya pagi2, atau bahkan dini hari... Sebab kalau siang dan sore, sudah pasti yang akses dua kanal itu banyak orang.. padat. 

Kamis, 12 September 2019

Sebuah Pesan dari Eyang Habibie untuk Generasi Milenial


"Semoga selalu di garis depan dalam berkarya nyata."
- B.J. Habibie, di Taman Pintar Jogja, 6 - 2 - 2011

Kita merasa sedih dengan kepergian Eyang Habibie. Bagaimana tidak, semenjak keberhasilan Beliau dalam menerbangkan pesawat N250 Gatotkaca dari landasan pacu Bandara Halim Perdana Kusuma, semua bayi yang lahir berdarah Indonesia pasti dibesarkan dengan gaung karya emas anak bangsa tersebut. Ini tidak berlebihan, pasalnya pesawat terbang merupakan wujud teknologi yang begitu mutakhir: menerbangkan besi.

Saya kemudian terngiang pesan Beliau ketika saya berkesempatan berjumpa dengan Beliau. Saya waktu itu meminta nasihat Beliau. Saya bilang, "Eyang, mohon berkenan Eyang menuliskan nasihat kepada kami, para Pemuda Indonesia." Beliau tersenyum antusias dan menerima spidol yang saya berikan. Beliau lalu menulis nasihat tersebut lengkap dan khas dengan tanda-tangan Beliau.

Berkarya Nyata.
Begitu dalam frasa ini. Begitu nyata. Minimal bagi saya. Oleh sebab itu, semenjak perjumpaan saya dengan Beliau saat itu, saya merasa mendapat suntikan semangat ketika mengingat nasihat beliau. Asli.

Momen yang tepat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil Beliau dalam garis waktu dunia yang begitu tepat, setidaknya dalam perspektif saya. Skenario Allah yang begitu apik dan rapi, seolah tiada henti mengajarkan kepada manusia bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Juga setiap yang bernyawa akan dimintai pertanggung jawabannya. Juga setiap peristiwa akan menjadi pembelajaran bagi yang lainnya, bagi orang-orang yang mau berpikir.

Saat ini, Bangsa Indonesia tengah diselimuti polemik bangsa yang terlampau ruwet. Sebagian sudah pesimistis dengan nasib bangsa ke depan. Kepercayaan kepada pemerintah yang dipandang tiada berdaya menuntaskan permasalahan masyarakat, juga semakin terombang-ambing dengan berita-berita hoax yang merajalela. Beberapa talkshow dan tayangan juga menjadi bukti bahwa citra pemerintah semakin hari semakin tipis. Sebut saja, ketertutupan industri mobil Esemka, isu separatis Papua, isu penyempitan wewenang KPK, tersendatnya pembayaran BPJS ke rumah sakit, lapangan kerja, dsb.

Saya bilang, ini momen yang Allah kasih kepada kita, bahwa kita, khususnya para pemuda generasi milenial, sudah waktunya meneruskan perjuangan Eyang Habibie untuk berkarya nyata. Jangan pernah lengah dengan bergulirnya waktu. Masa muda jangan habis untuk berfoya-foya. Tenaga prima saat muda mari kita gunakan untuk membantu bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, menjadi negeri yang mulia, tanah yang kaya. 

Mari Generasi Milenial, 

Belum ada kata terlambat untuk berubah. Nyatakan karya kita, sesuai bidang keilmuan kita, sesuai dengan keahlian kita. Apa yang bisa kita wujudkan sebagai karya nyata, wujudkan.

Ingat pesan Eyang Habibie, "Semoga selalu di garis depan dalam berkarya nyata."

Jumat, 09 Agustus 2019

Layanan Kantor Samsat Sleman - Agustus 2019

Bulan Agustus ini, saya memperpanjang STNK 5 tahunan di Samsat Sleman. Seperti saat mengurus surat sehat di RSUD Sleman atau SKCK di Polres Sleman, saya bermaksud untuk menuliskan pengalaman dan alur layanan di Samsat Sleman, yang terletak di Jalan Magelang, setelah Pasar Sleman - kalau dari arah Kota Yogyakarta. Namun, ternyata sudah ada yang mengulasnya dengan jelas di blog sapacerita. Jadi, bagi Anda yang pengin tahu alurnya, biar tidak terlalu bingung, cek aja di blog sapacerita itu. Walaupun begitu, jaman sekarang ini, layanan-layanan di instansi-instansi pemerintah sudah semakin jelas dan tertata. Saya datang ke Samsat tidak tahu menahu pada awalnya tentang alur perpanjangan STNK, namun melihat khalayak yang juga mengurus hal yang sama di sana, jadinya cepet ngertinya. Belum lagi sama petugas polisi nya juga sudah diarahkan dengan jelas.

Well, karena sudah dijelaskan sapacerita, maka tidak akan saya jiplak disini karena alurnya masih sama untuk Agustus 2019 ini. Di sini, saya akan memposting tambahannya saja, yaitu Jenis Pelayanan di Kantor Samsat Sleman, per Agustus 2019.





Semoga bermanfaat.

Selasa, 16 April 2019

Jejak ekologis: ada dosa yang tidak kita ketahui

Suatu sore, temen saya mengirimkan link film dokumenter berjudul Sexy Killers, besutan Dandhy Laksono dan Suparta Arz. Karena memang baru istirahat dari pekerjaan saya, maka saya klik link itu dan nonton sambil makan siang.

Cerita sekilas, film itu menceritakan dampak negatif pada aspek sosial lingkungan dari kegiatan pertambangan batubara, berikut para pelaku usaha batubara yang ternyata orang-orang penting di pemerintahan, baik di daerah maupun pusat. Batubara yang dikeruk di bumi Kalimantan dibawa menggunakan tongkang-tongkang menuju PLTU-PLTU di Jawa dan Bali. Listrik yang dihasilkan oleh PLTU menyokong kehidupan di Pulau Jawa, Bali dan sekitarnya.

Kita di Jawa, terlupa bahwa listrik yang kita nikmati di rumah selama ini ternyata membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit pada warga di sekitar areal pertambangan dan PLTU, bahkan lingkungan laut di sekitar PLTU. Kita merupakan bagian dari rantai panjang perubahan-perubahan ini. Inilah yang kemudian dibahas oleh para ahli lingkungan, sebagai istilah Jejak Ekologis.

Ternyata, jejak ekologis ini kadang membawa efek buruk, yaitu terdampaknya kehidupan sosial dan lingkungan sekitar. Ini barangkali menjadi dosa kepada kita, dan kita tidak pernah menyadarinya. Oleh sebab sempitnya pengetahuan kitalah, kita diajarkan doa taubat, mohon ampun pada Allah Subhanahu wa ta'ala seperti berikut ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii"

"Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan." (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang tidak ketahui.
Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1463-doa-memohon-segala-ampunan.html

Sabtu, 12 Januari 2019

Pengalaman tentang tidur

Kali ini tentang tidur.

Setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Ada kalanya tubuh bisa beraktivitas prima, namun ibarat mesin, ada waktu untuk istirahat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan waktu malam untuk waktu istirahat bagi manusia, bahkan bagi sebagian besar makhluk hidup. 

“Karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. al-Qashas: 73)

Istirahat yang dimaksudkan adalah tidur. Nah, disini saya bermaksud mengemukakan pendapat saya berdasarkan pengalaman saya saat tidur.

Tidur merupakan suatu misteri bagi kita semua. Proses dan fenomena alamiah bernama tidur ini benar-benar di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, salah satunya untuk menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar lemah, yang masih membutuhkan tidur. Banyak para peneliti yang meneliti dengan seksama proses tidur ini, hingga sampai pada teori fase-fase tidur: Non-Rapid Eye Movement dan Rapid Eye Movement. Silakan cari di google untuk itu.

Saya belum begitu percaya dengan fase-fase tersebut. Namun ada pengalaman menarik yang saya rasakan saat tidur.

Ada kebiasaan orang tidur sambil mendengarkan sesuatu, seperti radio atau televisi. Pun dengan saya, beberapa hari terakhir ini membutuhkan radio sebagai pengantar tidur. Saya mendengarkan Radio Muslim di laman streaming.

Nah, ternyata malam itu saya bermimpi. Mimpi saya isinya tentang sesuatu yang biasa diputar di radio tersebut. Yang membedakan adalah kadang ada satu adegan saya dinasihati oleh suara-suara yang ternyata dari radio. Juga ada suara ngaji al-Qurán yang terbawa sampai mimpi.

Hingga akhirnya terbangun, siaran radio masih aktif dari ponsel saya, yang saya letakkan agak jauh dari bantal.

Saya kemudian berpikir, kalau memang iya suara radio masuk ke dalam alam bawah sadar, maka benar-benar berbahaya jika kita memilih suara pengantar tidur itu dari hal-hal yang diharamkan seperti radio atau televisi penuh musik.

Jadi, lewat tulisan ini, saya berpesan pada siapapun yang biasanya tidur sambil mendengarkan suara tertentu dari radio atau televisi, pilihlah suara yang halal seperti murottal atau radio yang bersih seperti Radio Muslim. Silakan baca juga hukum mendengarkan murottal sebagai pengantar tidur.

#pengin-ketemu-Rasulullah-dalam-mimpi

Senin, 05 November 2018

[1] Mengapa tidak

Disclaimer: Judul diakhiri tanpa tanda titik, koma, tanya, atau apapun. Sengaja, judul dibuat multitafsir agar luwes bisa saya kemudikan kemanapun arah pembicaraan ini. Namun ada penomoran judul yang itu menandakan tulisan ini berlanjut di jilid yang lain. Tulisan ini juga terinspirasi dari mas Aji.

Tepat tanggal 2 Oktober 2018, saya berangkat ke Negeri Belanda. Saya adalah tuna media sosial kekinian kecuali WhatsApp. Risiko yang sudah saya sadari sejak sekitar tahun 2015 yang lalu ketika meninggalkan Facebook dan menutup akun saya secara total. Tak ada penyesalan, toh dulu yang membuatkan akun Facebook juga bukan saya. Dulu saya juga punya akun twitter, tapi juga bukan saya yang mau dan yang membuatkan. Ada beberapa akun yang lain, tapi lagi-lagi bukan saya yang bikin. Mereka adalah teman-teman saya, teman sekolah dan kampus, yang gemas karena saya anti medsos. Jika ada orang yang disebut ansos--antisosial, maka ternyata ada juga anmedsos--anti media sosial, ialah saya.

Kembali ke topik Belanda.
Resiko saya alami dari sebelum keberangkatan: saya buta dengan informasi, saat itu. But, that's fine. Saya masih bisa kontak beberapa teman saya, seperti Reza yang sudah menetap di Belanda dan sabar membantu saya menerangkan apapun, termasuk sekadar "bagaimana cara naik dan memilih kereta di Belanda".

Saya baru mendarat di Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam tanggal 3 Oktober, pagi, menggunakan Garuda Indonesia. Sebelumnya saya diberi tahu Reza untuk naik kereta NS dari Schiphol menuju Enschede, direct intercity.

Syahdan. 
Ponsel saya mati sejak dari pesawat. Dan di stasiun Shciphol saya tidak menemukan tempat colokan listrik. Padahal saya ingin bertanya ke Reza, karena belum tau dimana beli tiket kereta, dan seterusnya.

Inisiatif survival muncul.
Saya melihat lalu lalang orang-orang, akhirnya menuju ke loket NS untuk beli tiket. Tiket kereta pertama yang terbeli 24 euro. Lalu saya melihat-lihat lagi bagaimana orang menggunakan tiketnya, ternyata ada sistem check-in dan check-out pada sebuah mesin kecil yang banyak terpasang di stasiun. Kenapa saya gak nanya saja ke petugasnya? Gak ada inisiatif saat itu. Entah. Akhirnya, Saya masuk ke peron sesuai jurusan, yaitu menuju Enschede.

Begitu singkat cerita, saya sudah settled di Enschede untuk saat ini, 4 November 2018. Alhamdulillah.

Baru saja menikmati ritme hidup di Enschede, mas Aji dan mas Aul, senior di kampus, sesama orang Indonesia, mendorong-ndorong saya untuk maju ke Pemilihan Ketua PPIE--Persatuan Pelajar Indonesia Enschede, per akhir tahun 2018 ini.

Hemm, apakah tidak cukup meragukan, saya kok diminta ikutan Pemilu Ketua PPIE? Bukankah seharusnya saya melihat jejak rekamnya dulu bagaimana PPIE di lapangannya, baru kemudian memutuskan untuk memperbaiki atau meneruskan sistemnya?

Saya muntir. Tidak mau.
Namun, gigih sekali rupanya mereka ini. Ditambah beberapa teman-teman yang lain yang pada akhirnya mendukung saya. Saya tidak tahu persis kehidupan PPIE, namun sudah diminta ikutan nyalon. Yassalam.

Ada perdebatan dalam diri saya: apa sih yang saya cari di Enschede sini? Apakah saya mau fokus menyusun proposal dan artikel jurnal saya? Itu jelas yang utama. Selesaikan saja dulu yang utama. 

Kalau jadi pelajar biasa, apakah kemudian saya tidak bisa bersosialisasi dengan warga/pelajar Indonesia yang lain, yang mana mereka tergabung dengan PPIE? Tidak mungkin tidak kan?

Jadi buat apa nyalon ketua? PPIE tanpa saya juga akan jalan juga. Tetap akan ada juga yang nyalon jadi ketua dan seperangkat pengurusnya. Fokus saja lah, kalau mau kegiatan ekstra, mending ikut pengajian-pengajian kelompok muslim saja yang ada. Atau kalau ada kegiatan yang diadakan PPIE ya gabung aja sebagai peserta.

Akan tetapi,
kemudian saya berpikir. PPIE tidak hanya berisi kegiatan-kegiatan untuk para anggotanya. PPIE juga bertanggung jawab dengan nasib para anggotanya, bahkan ikut berpartisipasi pada nasib WNI di Enschede sini. Setidaknya, sebagai sesama bangsa Indonesia yang minoritas tinggal di negeri orang, legitimasi pada satu badan organisasi legal adalah bentuk manifestasi perlindungan bagi masing-masing anggota. Katakanlah, jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, maka jika kita sudah terakui terlibat dalam PPIE, kita akan dibantu dan dilindungi. 

PPIE adalah sebuah cabang, bagian dari bangsa Indonesia, yang jauhnya 14.000 km dari tanah air, tapi rasa cinta dan bangga terhadap negerinya tak pernah berkurang.

Di situ, saya kembali berpikir untuk menimbang dukungan para teman-teman saya, untuk bisa lebih maksimal bermanfaat walaupun saya merasa belum terbantu PPIE saat kedatangan saya di Enschede (karena mungkin anti medsos). Maka, untuk mencalonkan diri menjadi bagian yang bermanfaat di PPIE, mengapa tidak...

Rabu, 02 Mei 2018

Ketika matahari sepenggalah naik

Dulu saya pikir, sholat Dhuha dan membaca dzikir itu pembuka pintu rezeki, dan dulu juga saya pikir, rezeki itu berwujud uang, gaji yang besar, banyak order, banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan di bank, punya banyak aset, seperti: kendaraan, properti di sana-sini, hingga pada intinya: Harta.

Setelah mencari tahu lebih dalam apa makna rezeki dalam Islam, ternyata saya salah besar selama ini.


Ternyata, langkah kaki yang dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rezeki. Karena dengan hadir di dalamnya, mendengarkan nasihat dan fadhilah (keutamaan) menjadikan diri menjadi tahu tentang agama ini.

Langkah kaki yang dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid, adalah rezeki. Sebab tidak banyak, yang kaki dan hati ini bisa sekonyong-konyong bergerak melangkah ke masjid ketika adzan berkumandang.

Hati yang Allah jaga jauh dari iri, dengki, dan kebencian, adalah rezeki. Sebab semua penyakit hati itu merusak segalanya, termasuk menciptakan suasana hidup yang tidak tenang.

Punya teman-teman yang sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rezeki. Sebab, hidup menjadi lebih baik. Seumpama mereka masuk surga dahulu, sedang diri ini belum, maka Allah membolehkan mereka untuk menjemput kita. "Seseorang bersama dengan yang dicintainya." [1]

Saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga rezeki. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, angkuh bahkan lupa diri.

Punya orang tua yang sakit-sakitan,ternyata itu adalah rezeki, karena merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila kita tulus ikhlas mengurusnya.

Tubuh yang sehat, adalah rezeki. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rezeki karena sakit adalah penggugur dosa.

Dan mungkin akan ada jutaan list lainnya bentuk-bentuk rezeki yang kita tidak sadari. Suami, istri, dan anak-anak sehat itu rezeki, anak-anak Anda sekolahnya lancar itu rezeki, hidup rukun sama tetangga itu rezeki.

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, padahal begitu banyak hak Allah yang belum mampu atau tidak kita tunaikan. Barangkali itu adalah hukuman bagi kita, istidroj.



 ﻭَﻣَﺎ ٱﻟْﺤَﻴَﻮٰﺓُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎٓ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ 
"... Dan kehidupan dunia ini tidak lain 
hanyalah kesenangan yang menipu."
(Al-Hadid - 57:20)


*disadur oleh Muhammad Arifin, via sebuah WA Group. 2018.

Rabu, 18 April 2018

Tentang Kehormatan

"Seseorang dihormati karena dua hal, yaitu karena akhlak atau karena takut."
Karena akhlak baik, 
penghormatan yg diberikan bersifat tulus. From the deepest part of the heart. Kita kasih senyum tulus kepada orang lain yang kita temui dari awal hari hingga tutupnya kelopak mata, dan kita beri yang terbaik bagi mereka dengan sebaik-baik perbuatan dan sikap kita, maka bersiaplah mendapatkan hal yang sama. Hati menjadi tenang, aman, dan tenteram. Kita dikelilingi orang-orang yang baik kepada kita. Bersyukurlah.

Kalau karena takut, 

penghormatannya dusta. Banyak orang tersenyum di dunia ini bukan karena salut dan takjub pada akhlak baik seseorang, melainkan karena takut padanya. Mengapa? Ia memberi senyum pada seseorang karena malas mendapatkan keburukan dari orang tersebut. Sehingga senyumannya hanya dari sedangkal bibir, bukan sedalam hati. Jika kita menjadi seseorang tersebut, yang diberi senyum karena takut akan keburukan kita, maka bertaubat dan berubahlah!

Which one do you prefer?

Kamis, 29 Maret 2018

Before you feel pressure, watch this!

Saya mendapatkan kiriman video 
yang cukup menggugah pikiran dari dosen saya melalui WAG (WhatsApp Group). Kemudian saya cari video aslinya di Youtube, untuk mendapat versi HD-nya. Berikut ini video yang saya maksud:

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=6S9E0MVteEc

Lalu saya menjadi teringat kata Ulama
bahwa masing-masing dari kita memang sudah punya jatah hidup yang sudah ditentukan semenjak ruh kita ditiupkan ke janin ibu. Itu pun sudah sepaket dengan segenap timeline-nya, entah tentang rezeki, tentang jodoh, tentang nasib dan lain-lain.

😒 Wah kalau gitu,
berarti kita hidup mending let it flow aja dong. Kan semua sudah diplotkan gitu? 

😉 Nope at all. Tetap menjadi kewajiban kita untuk berusaha. Sebab yang dinilai bukanlah hasil, melainkan proses.

😒 Trus kalau gitu pula,
kita bebas sesuka hati berbuat apapun? Asal kita-nya untung? 

😉 Nope at all. Tetap pula menjadi kewajiban kita untuk memilih usaha yang baik-baik saja. 

Usaha yang baik dan menghasilkan yang baik. Bahkan kalaupun harus berhadapan dengan yang buruk-buruk (tidak ada pilihan yang baik), maka pilih yang lebih ringan keburukannya dari pilihan buruk-buruk itu.

But Why?
Sebab, selain yang dinilai itu adalah proses, yang lebih penting lagi adalah bagian akhirnya. Lebih jelasnya, bagian akhir dari hidup kita. Apakah hidup kita diakhiri dengan perbuatan baik atau buruk, itu jelas akan menjadi poin paling penting.

Tapi kita kan gak tau, umur sampe kapan, mati akan kapan?
Yes, itulah alasan kenapa kita menjadi harus terus menerus berbuat baik, karena kita tak pernah tau batas timeline kita akan sampai kapan. Hehehe...

#disclaimer: jangan jadikan video itu bertajuk "Semua akan indah pada waktunya" lalu itu menjadi alasan kita bermalas-malasan untuk menyelesaikan skripsian dan kuliah. Hehe...

Jumat, 06 Oktober 2017

Mainkan saja peran Anda!

Seringkah merasa suntuk dan bete, gegara apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan? Kalau sering, segera duduk dan renungkan: bahwa rencana Allah adalah yang paling baik, paling bermanfaat, karena Dia adalah Dzat sebaik-baik Perencana. Lalu mengapa gundah gulana menentang keputusanNya?

Cara move on-nya adalah, mainkan saja peran Anda. Sebagai anak, mainkan peran sebagai anak, tunaikan kewajiban sebagai anak, berperilakulah sebagai anak. Jika Anda sebagai ayah atau ibu, mainkan saja peran Anda sebaik-baiknya sebagai ayah dan ibu. Lalu, jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, mainkan saja peran Anda sebagai siswa atau mahasiswa.

Maka tidak ada lagi alasan takut akan kegagalan, toh kegagalan hanya ada dalam kamus manusia. Kegagalan diukur dari adanya orang lain yang dianggap sukses dan kita tidak mampu menyerupainya. Betul bukan?

Sehingga, apapun yang terjadi pada diri Anda,
tetaplah Anda memainkan peran sebagai makhluk yang menghamba hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ditulis di tengah rasa suntuk yang beberapa hari mendera, namun sekarang tidak lagi.
Yogyakarta, 16 Muharram 1438H

Kamis, 03 Agustus 2017

Mengurus SKCK di Polres Sleman


Pada beberapa waktu yang lalu saya menulis pengalaman mengurus surat-surat kesehatan sebagai salah satu syarat pendaftaran beasiswa. Berikut ini, saya akan menuliskan pengalaman saya mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian alias SKCK.

Saya membutuhkan SKCK untuk mendaftarkan diri pada formasi dosen non-PNS di Universitas Gadjah Mada. Menurut daftar persyaratan yang saya terima memang tidak ada keterangan untuk kebutuhan SKCK. Namun, saya akhirnya memutuskan untuk membuatnya dengan dalih, (1) siapa tahu diperlukan, karena biar bagaimanapun SKCK dewasa ini merupakan kewajiban bagi para pencari pekejaan, (2) saya bisa latihan mengurusnya jika suatu saat harus mengurus dengan waktu yang mendesak, (3) saya sekarang punya cukup waktu luang... 😅

Akhirnya, saya bertanyalah kesana kemari, ke polsek, ke kelurahan dan kemudian saya tahu keribetannya dan cara terefektif bin legal untuk mengurus semuanya.

Saya harus mengurus SKCK di Polres Sleman. Kantor kepolisian yang saya tuju harus setingkat kabupaten karena untuk keperluan mencari kerja di tingkat pemerintah (baca: PNS), tidak boleh hanya sekadar Polsek (setingkat kecamatan). Selain itu, peralatan yang menunjang untuk SKCK di polsek juga mungkin tidak memadai.

Berikut langkah-langkahnya, mengurus SKCK di Polres Sleman (mungkin di polres lain berbeda kebutuhannya):

1. Hal yang harus disiapkan dari rumah:
- Surat pengantar dari Kantor Kelurahan (untuk mengurus ini, harus punya surat pengantar dari Dukuh* tempat tinggal Anda).
- Fotokopi KTP 2 lembar
- Fotokopi KK 1 lembar
- Fotokopi Akta Kelahiran 1 lembar
- Pasfoto Berwarna Background Merah 5 lembar
(Pasfoto yang digunakan untuk kepolisian harus berlatar merah, walaupun foto Anda pada KTP berlatar biru).
- Uang receh yang cukup (untuk fotokopi) dan Rp 30.000,00 pas (untuk SKCK).

2. Datang pagi-pagi ke Polres Sleman. Loket buka secara normal pukul 08.00 WIB, sebab pagi-pagi biasanya para petugas masih apel pagi. Namun, karena ini kantor yang melayani masyarakat umum, semakin pagi semakin baik karena terkadang antri cukup banyak.

3. Parkir motor di area parkir motor, atau mobil di halaman gedung (minta petugas parkir untuk mengarahkan).

4. Langsung menuju ke Bagian Sidik Jari (INAFIS) di sebelah selatan gedung pembuatan SIM. Di bagian ini, yang diperlukan adalah 1 lembar FC KTP dan 1 pasfoto merah. 
- Berikan dua hal itu kepada petugas. 
- Begitu diberikan, nanti Anda langsung diberi kartu formulir sidik jari. 
- Isi dengan sebisanya data-data yang diperlukan, termasuk ciri-ciri fisik Anda.
- Setelah selesai, baru dikumpulkan lagi ke petugasnya. 
- Tak berselang kemudian, akan dipanggil untuk dimintakan cap sidik jari. Ada petugas yang memandu itu sehingga jangan bingung.
- Selesai pengecapan, cuci tangan Anda dan kartu formulir akan diproses.
- Anda tinggal menunggu untuk dipanggil dan diberi Kartu Rumus Sidik Jari.
- Pada bagian ini, petugas akan mengatakan "biaya seikhlasnya", jangan beri apapun, cukup terimakasih. Menurut saya, ini termasuk pungli alias uang gelap yang saya temukan di Polres Sleman (walau berkedok seikhlasnya).

5. Lalu bersegeralah ke tempat fotokopi yang berada di sebelah utara gedung pembuatan SIM. Ada fotokopi di samping warung (kantin) kecil. Lokasinya persis di sebelah timur gedung ujian tulis SIM. Dari sini, siapkan 1 lembar fotokopi Kartu Rumus Sidik Jari.

6. Anda masih punya:
- Surat pengantar dari Kantor Kelurahan
- Fotokopi KTP 1 lembar
- Fotokopi KK 1 lembar
- Fotokopi Akta Kelahiran 1 lembar
- Pasfoto Berwarna Background Merah 4 lembar
- ditambah Fotokopi Kartu Rumus Sidik Jari 1 lembar

7. Bersegeralah ke bagian Pelayanan SKCK, yang terletak di gedung depan (sebelah barat parkir motor, dekat pintu gerbang masuk kompleks Polres - akan ada tulisan petunjuknya besar).

8. Begitu sampai di loket,
- Serahkan semua berkas yang Anda pegang tadi.
- Petugas akan memeriksa dan memberikan 1 bendel formulir dan biaya resmi sebesar Rp 30.000,00.
- Isikan secara lengkap sampai akhir, walaupun jawabannya "Tidak ada" atau "Tidak pernah".
- Serahkan kembali bendel formulir yang sudah terisi kepada petugas dan kemudian menunggu panggilan.
- Anda akan dipanggil untuk mendapat SKCK asli, dan akan diminta memfotokopi untuk legalisir sekalian.

Pada tahap ini, sebetulnya Anda sudah bisa pergi. Namun, tidak ada salahnya jika Anda melegalisir sekalian. Silakan menuju tempat fotokopi yang tadi dan kembali lagi ke Bagian Pelayanan SKCK.

Sekian.

*p.s. Untuk surat pengantar dari Dukuh, siapkan KTP dan KK untuk didata nomornya oleh RT/Dukuh.

Rabu, 12 Juli 2017

Mengurus surat sehat di RSUD Sleman - Juli 2017

Surat sehat ini biasanya digunakan juga untuk beberapa keperluan pendaftaran seperti pendaftaran beasiswa, calon pegawai negeri, atau pegawai di perusahaan-perusahaan yang cukup ketat persyaratannya. Hari Senin, 3 Juli 2017, saya mencoba mengurus surat sehat dari dokter untuk keperluan apply beasiswa LPDP. Saya kemudian googling untuk mencari informasi terkait, dan ketemulah dengan blog seseorang yang sangat membantu dengan pencerahannya di sini.

Si penulis blog sangat rapi dalam menceritakan pengalamannya mencari surat yang sama di RSUD Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu saya print saja halaman blognya, dan saya pegang untuk dipelajari dan menjadi panduan ketika di rumah sakit nantinya. Saya terhitung orang yang males untuk mengikuti birokrasi yang rumit dan tidak jelas. Rumit sih boleh, tapi kalau tidak jelas, saya mah ogah. Jadi, thanks untuk si empunya blog atas bantuannya.

Dijelaskan dalam blog tersebut bahwa untuk memenuhi persyaratan pendaftaran beasiswa LPDP atau lowongan kerja yang berbasis negara atau perusahaan swasta tertentu, surat sehat harus diterbitkan oleh rumah sakit pemerintah. Sepenangkap saya pada awalnya juga RSUP (Pusat)-lah yang dimaksud oleh persyaratan tersebut. Tapi si empunya blog sudah menelepon pihak LPDP, menanyakan apakah RSUD bisa juga atau tidak, dan ternyata bisa. Mengapa harus memilih RSUD daripada RSUP? Ada beberapa pertimbangan, namun yang paling penting adalah tentang biaya. Hehehe... biaya di RSUD Sleman jauh lebih murah daripada di RSUP Sardjito, Yogyakarta. Karena surat sehat ini tidak ter-cover oleh BPJS dan sejenisnya, maka biaya yang sedikit tinggi sudah bikin ngos-ngosan.

Oke, saya ceritakan proses pengurusan surat sehat versi saya di RSUD Sleman.
Pada intinya, ada tiga hal yang akan diurus:
(1) surat sehat jasmani-rohani, diurus di Klinik Jiwa
(2) surat bebas narkoba, diurus di Klinik Jiwa dan Laboratorium (uji urin)
(3) surat bebas tbc, diurus di Klinik Jiwa dan Radiologi (rontgen)


Berikut langkah-langkahnya. Cukup sederhana.
1. Persiapkan dari rumah: uang sekitar Rp 400.000,00 (dihitung per bulan Juli 2017, mungkin sudah berubah).

2. Datang ke RSUD Sleman Gedung Utara (bertingkat). 

- Silakan parkir di basement (akan diarahkan oleh Satpam RSUD).
- Menuju lobby gedung di Lantai 1 dan ke meja informasi.
- Anda akan ditanya oleh petugasnya: keperluannya apa dan apakah Anda pasien baru atau lama. Kalau lama, Anda harus menyerahkan kartu pasien. Kalau baru, Anda akan diberi formulir pendaftaran pasien dan diantrikan sebagai pasien baru. Karena saya belum pernah ke sana, maka saya mendaftar dahulu sebagai pasien baru, mengisi formulir 10 menit. Bawa formulir ke Ruang Pendaftaran.
- Ucapkan terimakasih dan pamit.

3. Lalu mengantrilah ke ruang selanjutnya, yaitu Ruang Pendaftaran.
- Tunggu nomor antrian Anda dipanggil.
- Jika nomor Anda disebut, perhatikan akan ke loket berapa Anda harus datang. Untuk pasien baru dan keperluan umum, biasanya ke loket 5.
- Antrian terkadang banyak, sehingga Anda harus menunggu agak lama. Saran saya semakin pagi, semakin cepat dan lebih baik.
- Ketika di loket, serahkan formulir Anda yang sudah diisi dan Anda akan ditanya lagi keperluannya apa. Silakan sebutkan dengan jelas. Kalau saya mengatakan bahwa saya akan memohon dibuatkan surat sehat jasmani-rohani, surat bebas narkoba, dan surat bebas tbc.
- Setelah Anda mengumpulkan formulir pendaftaran, Anda tunggu sebentar untuk disiapkan sebendel berkas dari petugasnya.
- Setelah petugasnya memberikan bendelan berkas yang baru, Anda akan diarahkan ke Klinik Jiwa yang terletak di sebelah selatan loket pendaftaran 5.
- Ucapkan terimakasih lalu pamit.

4. Di Klinik Jiwa
- Anda harus menyerahkan berkas yang diberikan petugas pendaftaran tadi ke perawat yang bertugas di dalam Klinik Jiwa. Ya, Anda harus masuk ke ruangan dengan mengetuk pintu dahulu. Pintu Klinik Jiwa memang secara otomatis tertutup.
- Anda akan diminta menunggu di luar ruangan dan duduk di tempat tunggu, untuk menunggu panggilan. Sekali lagi, lama waktu tunggu bergantung dengan banyaknya pasien yang mempunyai keperluan sama.
- Setelah nama Anda dipanggil, silakan Anda masuk ruangan Klinik Jiwa.
- Anda akan ditanya keperluannya, dan jawab saja dengan jawaban ketika di Pendaftaran tadi: surat sehat jasmani, rohani, bebas narkoba, bebas tbc.
- Anda juga akan ditanya surat sehat ini nanti untuk keperluan apa, dan silakan jawab sesuai keperluan Anda. Kalau saya saat itu menjawab untuk mendaftar beasiswa.
- Petugas di Klinik Jiwa itu akan menjelaskan bahwa akan ada 3 hasil surat:
(1) surat sehat jasmani sekaligus bebas tbc
(2) surat sehat rohani
(3) surat bebas narkoba

- Petugas akan membuat nota tagihan biaya, dan Anda akan diberitahu berapa biayanya. Saat saya mengurus itu, rincian biayanya adalah:
(1) Biaya Klinik Jiwa Rp 35.000;
(2) Biaya Klinik Umum Rp 25.500;
(3) Biaya Skrining napza Rp 23.000;
(4) Biaya Tes woodworth (tes rohani) Rp 43.000;

sehingga Total Tagihan Pertama adalah Rp 126.500.
- Anda akan diberikan nota tagihan tersebut bersama dengan beberapa berkas dan formulir.
- Anda bisa bayarkan Tagihan Pertama ini ke Bank BPD DIY yang terletak di Ruang Pendaftaran (terlihat jelas loketnya).
- Setelah membayar, Anda punya 3 pilihan mana yang akan diselesaikan dahulu:
(1) ke Bagian Radiologi (foto rontgen untuk TBC)
(2) ke Lab (uji urin untuk napza)
(3) kembali ke Klinik Jiwa (tes woodworth untuk tes rohani)


Pada prinsipnya, Anda bisa mengurus masing-masing secara bersamaan. Masing-masing juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Untuk hasil uji rontgen bisa jadi butuh waktu 2 jam, untuk hasil uji urin napza butuh waktu 1 jam, dan tes rohani butuh waktu 30 menit.

5. Bagian Radiologi
- Karena Anda meminta Surat Keterangan yang menjelaskan bebas TBC, maka Anda harus ke Bagian Radiologi yang letaknya di bagian selatan dari Ruang Pendaftaran.
- Sesampainya di meja registrasi Bagian Radiologi, Anda berikan saja berkas-berkasnya yang diberikan petugas dari Klinik Jiwa. Berkas yang diambil adalah surat rujukan foto rontgen.
- Anda lalu harus menunggu untuk dipanggil dan diberi struk nota tagihan baru (Tagihan Kedua) yang harus dibayarkan ke Bank BPD DIY dahulu sebelum foto rontgen, sebesar Rp 83.000.

Jika Anda membutuhkan Surat Keterangan Bebas TBC, Anda wajib foto rontgen di Bagian Radiologi dengan biaya tagihan tambahan yang akan Anda dapat ketika sudah di Bagian Radiologi (sekitar Rp 83.000). Namun jika surat sehat Anda tidak perlu ada keterangan bebas TBC, maka Anda tidak perlu foto rontgen. Demikian pula dengan keterangan bebas napza (jika menggunakan uji napza, maka akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 23.000 yang tadi). Contoh, jika Anda tidak memerlukan uji bebas napza dan bebas tbc, maka Anda cukup membayar Rp 103.500.
- Bayarkan Tagihan Kedua dari Bagian Radiologi ke BPD DIY.
- Kembali lagi ke Bagian Radiologi untuk menyerahkan nota lunas pembayaran Tagihan Kedua (nota khusus rontgen) kepada petugas di meja radiologi. Anda harus ingat, sebelum dibayarkan tagihannya, petugas tidak akan melayani pemotretan rontgen.
- Anda tunggu untuk dipanggil untuk rontgen. Sembari menunggu, Anda cek kembali bahwa Anda masih membawa beberapa berkas dan formulir dari Klinik Jiwa. Lebih baik Anda mengisi formulir pertanyaan skrining narkoba yang Anda bawa tersebut. Ada 28 pertanyaan kuesioner tentang penyalahgunaan obat.
- Anda dipanggil untuk pemotretan.
- Hasil foto akan jadi 2 jam kemudian.
- Karena waktu tunggu foto rontgen jadi cukup lama, lebih baik Anda mengurus uji urin untuk napza di Laboratorium yang lokasinya terletak di sebelah utara persis dari Loket Bank BPD DIY. Nanti Anda harus kembali lagi ke Radiologi untuk menanyakan hasil fotonya.
- Semua urusan di radiologi dan lab bisa diselesaikan secara bersamaan, tidak saling berkaitan. Jadi sehabis dari Klinik Jiwa, bisa ngurus di Laboratorium untuk uji urin dan tidak perlu menunggu sampai kelar sudah bisa ke Radiologi (rontgen) atau sebaliknya. Cara ini lebih efektif.

6. Laboratorium
- Sesampainya Anda di Laboratorium, letakkan berkas-berkas yang tersisa di rak keranjang yang bertuliskan "Pendaftaran".
- Anda akan dipanggil, dan diberi nota tagihan baru (Tagihan Ketiga) sebesar Rp 114.000 beserta botol wadah urin.
- Anda kembali ke BPD DIY dan membayarkan Tagihan Ketiga.
- Anda juga harus menyerahkan urin Anda dalam botol yang diberikan.
- Anda kembali lagi ke Laboratorium dan menaruh botol berisi urin ke keranjang "Tempat Urin". Sekarang waktunya menunggu lagi. Namun saya sarankan Anda untuk mengecek lagi ke Ruang Radiologi (rontgen), karena siapa tahu sudah jadi foto rontgennya.

Sebagai contoh hasil uji urin butuh waktu 1 jam, sedangkan foto rontgen 2 jam dari pemotretan.

7. Bagian Radiologi (lagi)
- Coba Anda tanyakan kepada petugasnya, siapa tahu foto Anda sudah jadi. Saya pernah coba tanya, ternyata punya saya sudah jadi satu jam lebih cepat dari waktu saya foto tadi.
- Jika sudah jadi, silakan Anda ambil hasilnya, mengisi buku pengambilan foto, lalu Anda pamit, dan berterimakasih.

8. Klinik Jiwa (lagi)
-Saya sarankan Anda sebelum ke Klinik Jiwa, Anda mampir ke Lab dan menanyakan apakah hasil Anda sudah jadi atau belum sebab mungkin saja hasil lab Anda sudah jadi tetapi saat nama Anda dipanggil, Anda masih di Bagian Radiologi. Kalau sudah jadi, silakan diambil, namun biasanya belum jadi.
- Pada tahap ini, Anda minimal sudah membawa foto rontgen thorax (dada) Anda.
- Karena uji urin belum keluar hasilnya, Anda bisa ke Klinik Jiwa untuk tes Woodworth dan wawancara.
- Bentuk tes Woodworth adalah kuesioner yang cukup banyak.
- Silakan diisi semuanya, dan jika sudah selesai segera kumpulkan kembali kepada petugasnya beserta kuesioner skrining narkoba.
- Anda akan diminta ke Lab untuk ambil hasil uji urin dahulu (itu jika tadi saat Anda mampir, hasil Lab belum keluar).

9. Laboratorium (lagi)
- Ini adalah kesekian kalinya Anda ke Lab, untuk menanyakan hasil uji urin.
- Jika belum juga jadi, Anda tunggu saja. Anda tidak punya tanggungan apa-apa lagi di bagian lain (karena rontgen dan tes rohani sudah selesai).
- Anda akan dipanggil dan silakan ambil hasilnya berupa lembar kertas berupa rangkuman hasil.
- Silakan pamit dan berterimakasih.

10. Klinik Jiwa (lagi)
- Akhirnya Anda sudah memegang hasil foto rontgen untuk TBC, hasil uji urin untuk bebas napza, hasil tes rohani.
- Anda akan diwawancara sedikit oleh dokter spesialis jiwa.
- Lalu dokternya memberikan acc di surat bebas narkoba dan sehat rohani.
- Lalu dokter menyerahkan sebendel berkas yang harus diserahkan ke Ruang General Check-Up (GCU) lantai 4, bersama hasil rontgen.
- Keluar dari Klinik Jiwa ini, Anda sudah memegang Surat Sehat Rohani dan Surat Bebas Napza. Simpan dua surat tersebut.
- Silakan pamit dan berterimakasih

11. Ruang GCU Lt. 4
- Bersegeralah ke GCU menggunakan lift.
- Ke GCU untuk minta surat bebas TBC (sekaligus berarti surat sehat jasmani).
- Tensi darah Anda akan diukur, dicek hasil rontgen dan denyut jantung sambil rebahan dan tarik nafas.
- Anda kemudian akan mendapat surat sehat jasmani (termasuk bebas TBC dalam 1 surat). Lengkap sudah semua surat yang Anda perlukan.
- Anda bisa pamit dan berterimakasih.
- Selepas ini sebetulnya selesai urusan Anda. Tiga (3) jenis surat sudah Anda pegang. Namun saran saya, sekalian saja membuat kopian terlegalisasi yang bisa diurus di Subbagian Umum lantai 5. Fotokopi RSUD tersedia di lantai 1.

12. Subbagian Umum Lt. 5
- Serahkan saja semua kopian kepada petugas yang ada.
- Akan dipanggil nama Anda, dan Anda diberikan legalisasi sebanyak yang Anda berikan tadi.

---
Sekian pengalaman saya mengurus surat sehat untuk beasiswa LPDP. Harapan saya, tulisan ini bisa membantu untuk teman-teman yang berminat untuk mengurus hal yang sama. Semoga bisa menjadi pertimbangan, khususnya tentang waktu. Semakin pagi datang, semakin cepat selesainya (walaupun pelayanan RSUD Sleman saat ini sudah sangat maju, mudah, dan dekat--hanya satu gedung).