Minggu, 12 Oktober 2014

PRAKATA

Dengan nama Allah Yang Menciptakan Permulaan dan Yang Memutuskan Akhir Jaman, segala puji dan syukur selalu diucapkan untuk-Nya, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah memberikan kekuatan dan nikmat yang tak dapat dihitung satu persatu kepada saya selama ini termasuk dalam penyelesaian kuliah strata satu ini. Tentu dengan peran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, yang mengajarkan manusia untuk terus berusaha dan beribadah hanya kepada Allah. Semoga kedamaian dan keselamatan dilimpahkan Allah kepadanya.

Setiap orang memberikan peran dan pengaruh yang besar. Begitu besar peran mereka sehingga sulit untuk disebutkan satu persatu. Bukan hal yang mudah untuk membalas setiap kebaikan peran mereka. Oleh sebab itu, dalam prakata ini penyusun mencoba untuk mengabadikan nama mereka dan mengucapkan terimakasih kepada
  1. Orang tua, Bapak Tridadi dan Ibu Siti Sukaptini, yang telah menjadi orang pertama sebagai tempat dalam bercerita keluh-kesah sehingga semangat kembali tumbuh setelahnya. Semoga peran Bapak dan Ibu ini mendapat ridho dari Allah.
  2. Ibu Dwikorita Karnawati dan Bapak Sugeng Sapto Surjono beserta segenap staf sekretaris bidang, staf dosen dan karyawan Jurusan Teknik Geologi yang telah melayani selama kurang lebih 4 tahun dengan sangat baik dan antusias. Semoga kebaikan dan pendidikan yang diberikan dinilai ibadah dan mendapat balasan yang baik oleh Allah.
  3. Bapak Subagyo Pramumijoyo, sebagai dosen perwalian akademik yang terus membimbing dan memberikan motivasi serta saran akademik yang selama 4 tahun. Semoga Bapak terus dapat menjadi teladan bagi civitas akademika kampus ini.
  4. Bapak Agung Setianto, sebagai dosen pembimbing pertama tugas akhir yang menjadi tempat bertukar pemikiran mengenai konsep-konsep penginderaan jauh serta pembimbing dalam beberapa proyek ilmiah. Semoga Bapak senantiasa bersemangat untuk mengembangkan proyek ilmiah yang sudah dibangun dan mendapat apresiasi yang sepadan dengan perjuangan berat Bapak.
  5. Bapak Srijono, sebagai dosen pembimbing kedua yang semula merupakan dosen pembimbing pertama tugas akhir. Terimakasih atas semua motivasi moral yang Bapak berikan selama menggeluti perkuliahan.
  6. Bapak Akmaluddin, sebagai dosen penilai yang memberikan masukan berharga dalam penyusunan draft final naskah saya ini.
  7. Eyang Wartono Rahardjo, yang bukan hanya dosen tetapi juga motivator yang terus menanyakan kabar luar biasa. Pengalaman lapangan bersama Eyang akan terus diingat dan pasti bermanfaat bagi pengabdian nanti.
  8. Mas Atmaja Septa Miyosa, yang berulang kali harus mau ikut menanggung kerepotan teknis penyelesaian tugas akhir ini, termasuk saat pengambilan data lapangan hingga larut sore hari. Semoga dilancarkan dalam mengajar di universitas.
  9. Keluarga Geologi angkatan 2010, khususnya Nadiar Ramadhan, Dimas Pratama Putra serta teman-teman lainnya yang terlalu panjang jika disebutkan satu persatu. Di angkatan ini, semangat tumbuh dalam semak suka duka mulai dari tahap awal masuk kuliah, pengenalan dasar lapangan, setiap kuliah lapangan, kegiatan pemetaan, kuliah kerja nyata, dan semester akhir. Angkatan 2010 menjadikan diri semakin mengerti alasan sebab peran geologis harus ada.
  10. Keluarga Pemetaan Geologi Mandiri 2012: Anggit Anggara Santika, Faisal Arif Permana, Saftyan Yudhanto Kartiko, dan Najibatul Adibah yang memberi peran dalam pembelajaran lapangan. Satu bulan dan satu semester adalah waktu yang cukup untuk mengerti manajemen psikologi lapangan.
  11. Keluarga Cendekia Teknika, khususnya Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, Mirza Rahim, Rezha Aditya Maulana Budiman, Anindya Sricandra Prasidya, Ahmad Raditya CB, Irfan Aditya Dharma, Muanisya Sanjaya, Heru Pranoto, Saptiana Mardhiyah, Niqlatun Nafi’ah, Istiqomah Wahyu, Novi Aristia, Isna Uswatun Khasanah, Lani’ah, Atika Nurul Hidayah, Nur Puji Lestari, dan Najibatul Adibah. Juga kepada Jupri Supriadi, Aji N. Pakha, dan Siti Koiromah. Keluarga ini akan selalu diingat sebab di dalamnya ada banyak sekali pesan moral yang tentu membentuk diri ini.
  12. Keluarga Laskar 38 M. Natsir beserta Mas Aditya Alif Pradana dan Mbak Tetty Harahap yang terus mengajak untuk selalu berkontribusi. Semoga karya ini bisa menjadi salah satu bentuk kontribusi itu.
  13. Keluarga Unit KKN BBL-02 (Bangka Belitung), khususnya Faisal Arif Permana, Demas Bayu Handika, Muhammad Abdurahman, Muhamad Rizki Asy’ari, Tubagus Riyadi, Muhlash Hada, Muhammad Rezansyah, Dhimas Ardhi Herizharmas dan teman-teman lain yang telah banyak memberikan gambaran betapa majemuknya hidup orang dan pembelajaran pentingnya apresiasi kepada orang. Tak lupa serta Sub-unit Kurau: Aiman Haidar Shamlan, Sari Dewi Ayuningrum, Sandra Agustina, Haikal Prima Fadholi. Semoga tetap menjadi pembelajar hidup yang tiada henti mengabdi.
  14. Segenap warga Desa Kurau dan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, yang telah memberikan kesempatan untuk belajar mengabdi sehingga menjadi lebih siap dalam pengabdian sesungguhnya.
  15. Keluarga iRCopter THERMAL, khususnya Mirza Rahim, Verdiaz Refikhanata, dan Anindya Sricandra yang telah membantu proyek ilmiah penginderaan jauh berbasis termal. Walaupun banyak hambatan tetapi proyek dapat berhasil dengan baik. Semoga langkah awal ini dapat menjadikan pondasi kuat pengabdian diri kepada negeri.
  16. Keluarga Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG), khususnya Pengurus Harian periode 2011, 2012, dan 2013, yang telah memberikan wadah berekspresi dan berkarya. Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan sebagai delegasi pada International Geomapping Competition (IGC) 2013. Semoga HMTG terus berada di garis depan dalam berkarya nyata.
  17. Keluarga American Association of Petroleum Geologists Universitas Gadjah Mada Student Chapter (AAPG UGM-SC), yang juga memberikan wadah berekspresi sehingga terbit panduan “How to Make A Research – Series”. AAPG UGM-SC, We are one!
  18. Keluarga Teladan 51 yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Keluarga ini sangat hangat dan nyaman untuk bertukar pikiran positif. Terimakasih atas suntikan semangat dan pengembalian rasa percaya diri untuk mengabdi pada negeri. Semoga masing-masing anggota keluarga ini mampu menjadi agen perubahan yang baik.
  19. Mishary Rashid dengan alunan merdu Qur’an yang membantu untuk menenangkan di saat pikiran sedang kalut dan sesak perasaan. Lantunan Surah Al-Mulk benar-benar menggetarkan hati bagi yang mendengarkan.
  20. Aamir Khan dengan filmnya “3 Idiots” dan “Taare Zameen Par” yang begitu menginspirasi dan membuka sudut pandang baru akan esensi dunia pendidikan dan pengabdian.
  21. Aldo Febriansyah Putra dengan peran sertanya dalam perbaikan dan penyusunan abstract dalam naskah ini serta diskusi-diskusi kritis mengenai tema karya ini.
  22. Ratri Abdatush Sholihah dan Tubagus Riady atas bantuannya dalam pengadaan peralatan pengambilan data lapangan.
  23. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang pernah bertemu di setiap tempat dan waktu. Semoga semua selalu dalam jalan kebaikan.
Akhirnya, dengan penuh harap, semoga penelitian ini dapat berguna bagi kemajuan bangsa dan pembangunan strategis masa depan negeri. Kritik dan masukan sangat diharapkan untuk memperbaiki setiap lubang kekeliruan.

Yogyakarta, Oktober 2014
Yan Restu Freski

Jumat, 07 Februari 2014

UGM: Serius universitas betulan?

Prolog
Entah, kenapa pikiran ini kembali terusik setelah sesorean berbincang dengan kawan akrab jurusan tetangga. Begini lho, saat ini banyak universitas di Indonesia yang bejibun aktivitas akademiknya. Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sleman D.I.Yogyakarta misalnya. Konon saja nih, UGM ini adalah universitas dengan jurusan dan fakultas paling melimpah. Macam-macam. Hampir-hampir semua bidang ada deh. Ada banyak banget acara-acara kampus yang keren-keren. Tapi di balik itu semua, adakah yang sempat terpikir bahwa apa iya, UGM itu sudah bener-bener universitas?

Universitas,
menurut hemat saya nih, isinya ada banyak jurusan dan program studi yang saling terintegrasi. Ada satu bagian atau lebih yang pokok kajian kuliahnya menyinggung bidang lain. Artinya lintas bidang, multidisiplin. Misalnya nih ya, saya kuliah di Jurusan Teknik Geologi, dan saya ada mata kuliah Geokimia yang butuh ke Jurusan Kimia FMIPA. 

Maka, saya harus mendaftar di kelas Jurusan Kimia FMIPA. Kira-kira begitu gambarannya. Memang ada temen saya yang dia sebenarnya mahasiswa Program Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA. Tetapi, dia mengambil mata kuliah Geologi Struktur di Jurusan Teknik Geologi FT. Dia datang ke kelas Geologi Struktur di Jurusan Teknik Geologi.

Ada beberapa jurusan yang sudah mengatur lintas bidang tersebut. Namun, tidak sedikit yang masih berkutat dengan matakuliah-matakuliah masing-masing jurusan. "Ego disiplin ilmu masih besar," itu kata teman saya. Ada benarnya memang.

Lalu,
apakah hanya dengan seperti kuliah lintas jurusan, UGM sudah dimasukkan ke kategori universitas? Uni itu artinya satu. Versitas artinya (nggak jauh dari) keberagaman. Maka, universitas dapat pula diartikan secara bebas jadi begini, keberagaman ilmu yang jadi satu.

Menurut hemat saya lagi,
nggak cukup UGM itu hanya bertopang pada lintas matakuliahnya agar bisa disebut universitas. Ada sesuatu yang bisa diusahakan lebih dari itu, dan memang seharusnya ada, untuk bisa mendukung penyebutan universitas. Riset lintas bidang!

Saya tergerak untuk memulai membangun koneksi antar himpunan mahasiswa di Fakultas Teknik UGM. Koneksi riset tentunya. Melihat trend saat ini, sudah sangat berdebu, it's so yesterday, bila mahasiswa bikin riset yang hanya berkutat dengan satu disiplin ilmu. Kuno.

Saat ini, ketika teknologi modern dikawinkan dengan konsep konvensional, akan menelurkan hasil-hasil riset yang mendobrak. Saya pun sudah menjadi saksi dari beberapa riset yang maju sekian langkah dari riset biasa, bila dikawinkan secara lintas bidang. Permasalahan geologi dipecahkan dan ditemukan solusinya menggunakan teknologi elektro, menghasilkan alat pendeteksi dini gerakan longsor. Hasilnya? Kerugian nyawa dan fisik bisa dikurangi secara signifikan di daerah-daerah rawan longsor.

Ilustrasi jaringan riset mahasiswa Jurusan Teknik Geologi ke jurusan lain. Bayangkan jika masing-masing saling terhubung. Bukankah itulah esensi sebutan universitas?

Lebih dari itu,
jiwa kebersamaan dan persaingan riset kompetitif yang sehat akan terbangun. Atmosfer riset terbentuk di antara mahasiswa-mahasiswa se-Fakultas Teknik UGM. Tidak ada lagi ego disiplin ilmu yang dijunjung-junjung itu. Semua terintegrasi, semua menyatu. Setelah mahasiswa Fakultas Teknik mempunyai jaringan riset yang mapan, baru kemudian menjalin jaringan ke luar fakultas.

Saya disini hanya
melibatkan mahasiswa sebagai bagian utama pembangun jaringan riset ala universitas itu. Saya yakin, bahwa cita-cita world-class research university itu bakal tercapai sesuai dengan apa yang saya sebutkan.

Rabu, 18 Desember 2013

Muhasabah dulu yuk!

Memang, benar adanya. Jika semua sudah ditetapkan, maka tak pernah ada kekuatan apapun yang mengalahkan kekuatanNya. Tak pernah bisa maju sedetikpun, mundur sedetikpun. Semua rezeki ada padaNya, semua garis jodoh ada padaNya, semua garis maut ada padaNya. Masa depan tak pernah ada yang tahu, siapa yang tahu? Hanya Dia yang tahu. Dialah Penggenggam Masa Depan. Manusia itu buta masa depan, ditambah sombong dan serakah. Aku sadar, bahwa urusan dunia itu memang melelahkan. Mencari keridhoan manusia itu bikin penat. Tetapi mencari keridhoanNya? Bikin tenteram.

Lalu bagaimana dengan panggilanNya? Adzan berkumandang teriring ribuan alasan agar mengabaikannya. Astaghfirullah. Adzan, panggilan untuk semua hambaNya. Dia memanggil hamba untuk bersujud dan bersimpuh. Berkomunikasi lewat doa yang pasti dikabulkanNya. Tapi adzan adalah panggilan untuk semuanya.

Ada suatu saat nanti yang pasti walau tak pernah tahu kapan pastinya. Dia akan memanggil satu persatu hambaNya, untuk menghadap khusus kepadaNya. Panggilan suci yang akan menghampiri setiap makhluk bernyawa. Tak akan ada alasan lagi untuk mengabaikanNya. Sekali panggil, harus menghadap.


Ya Allah, tempatkanlah kami dalam kondisi terbaik ketika Engkau panggil kelak. Berilah kami ketenangan ketika Engkau panggil. Ceriakanlah jiwa kami ketika Engkau panggil. Sesungguhnya kami sadar bahwa urusan dunia ini melelahkan dan melenakan. Maka jadikan panggilanMu itu pemutus urusan dunia yang menyenangkan dan menjanjikan bagi kami. Kami mohon ampun kepadaMu Ya Robbana atas segala kesombongan dalam diri kami. Ya Allah, hadirlah dalam kehidupan dan kematian kami. Aamiin.

Jumat, 25 Oktober 2013

Bangga Jadi Indonesia?


Made In Indonesia
Sering kan melihat label ini di banyak produk saat ini? Yup, bahkan label ini nangkring pada produk makanan, minuman, alat tulis kantor, alat-alat rumah tangga, bahkan sampai barang-barang mini macam gantungan kunci. Semuanya tertulis. Semuanya ada. Semuanya bangga.

Banyak pula propaganda yang dilancarkan dan diluncurkan oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan. "Cintailah produk dalam negeri.", "100% Love Indonesia", dsb. Ramai-ramai semua berteriak, semua ada, dan semua bangga.

Dengan mencantumkan label ini, semua produk tersebut seolah-olah benar-benar milik sendiri, milik kita bersama, milik Indonesia. Orang awam (termasuk saya) sering kali terjebak dan jatuh terjerembab dengan iklan-iklan itu. Saat perasaan nasionalisme meninggi pada suatu ketika, kita sering beli dan konsumsi produk-produk berlabel "Made In Indonesia" itu.

Terpikirkah bahwa label itu hanya sekedar label obral jualan? Hanya satu strategi jualan mereka para pengusaha? Terpikirkah bahwa label itu tak mesti menunjukkan nasionalisasi perusahaan?

Made By Indonesia
Bandingkan dengan label "Made By Indonesia". Terkesan sekilas mirip tetapi mutlak berbeda. "Made In Indonesia" tak pernah menyebutkan dengan jelas siapa pemilik usaha. Lalu "Made By Indonesia" jelas bermakna bahwa produk tersebut dihasilkan oleh perusahaan pribumi, dengan pemilik pribumi.

Dan entah..
apakah sudah ada standar operasional untuk pemberian label seperti ini. Namun yang jelas, aku pribadi lebih bangga dengan produk yang berlabel "Made By Indonesia". Hehe.. Bagaimana dengan kamu?

Sabtu, 12 Oktober 2013

Blog: buat apa sih?

Hari gini belum punya blog?
Masih inget gak waktu kamu awal-awal kenal sama internet? Kalau pas jamanku, internet aku kenal ketika SMP. Maklum lah, masih cupu gitu. Tinggal di desa, warnet dapat dihitung pake jari. Dahulu temen-temen asyik-asyiknya buat akun jejaring sosial bernama Friendster. Yaelah, apa itu. Dulu sih heboh di kalangan anak muda. Tapi gak berapa lama, akhirnya tenggelam juga. Eh, dulu itu ada MXit juga gak sih? Itu lho yang mirip Yahoo Messenger. Entah apalah namanya, hingga muncullah Facebook. Boom! Meledak di pasaran. orang-orang rame membicarakannya. "Add aku ya..", "Eh, kita belum friend lhoh..", dan sebagainya.

Aku punya akun FB semenjak kuliah. Itupun semester tengah, ya kira-kira tahun kedua lah. Dan pada waktu itu tahun 2011. Kebayang kan, kalau 5 tahunan aku gak punya FB. Haha. Cupu? Enggak juga. Tetep normal kok hidupnya. Banyak temen juga.

Sampai saat ini, di mana FB mulai ditinggalkan, dan Twitter merajalela di kalangan anak muda, aku masih aja belum punya akun Twitter. Entah kenapa, males aja bikin. Buat apa?

Sampai aku menemukan fakta bahwa aku lebih suka menulis dengan panjang lebar. Tempatnya di mana? Ya di mana lagi kalau bukan blog. Entah wordpress, blogspot, multiply... semuanya pernah aku coba. Dan dari sekian itu, yang masih aktif kupakai adalah blogspot. Kenapa? Enak aja. Haha.

Blog sama seikat dasi
Udah lama aku baru nulis ini dari sebelum bulan Juli. Biasa, tersendat KKN. Makanya, dari sini kutulis lagi blog ku ini. Fungsinya banyak banget. Bisa buat curhat pribadi, bisa buat bagi info kuliner, info wisata, info kuliah, info lomba, macem-macem lagi. Bahkan bisa untuk bisnis juga. Tetapi dari sekian yang aku baca, blog-blog saat ini lebih banyak yang berisi pengalaman hidup dan curhat tertentu.

Barangkali termasuk aku sih. Kadang aku mengulas suatu hal yang sok psikologis, sok agamis, sok saintis. Apapun lahterserah. Haha, karena pada dasarnya orang yang punya blog pribadi akan terjebak dalam curahan hati. Haha, sekali lagi aku ketawa.

Lalu, apa hubungannya dengan seikat dasi? Ini hal penting buat temen-temen yang mau menulis riwayat/biodata hidup. Jangan pernah menulis alamat blog pribadi kayak gini ke dalam CV resmi yang mau digunakan untuk lamar kerja. Kadang pewawancara iseng untuk menanyakan alamat blog/website. Lalu, mereka mengecek isi dari alamat blog tersebut. Bayangkan jika kamu sedang melamar pekerjaan profesional yang katakan, gak ecek-ecek. Kamu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang bombastis dan fantastis. Muluk-muluk seakan kamu bebas sama masalah yang namanya galau. Eh, taunya si pewawancara buka alamat blog yang kamu tulis di dalam CV-mu.

Alamak, ternyata isinya kisah-kisah roman picisan dan puisi-puisi yang tak pernah bertemu dengan penerbit. Haha. Kan bisa jadi bahan ketawaan dan memalukan. Bukan menyalahkan kamu punya blog pribadi, tapi jangan sampai blog pribadi dibawa ke meja resmi. Ingat itu.

Seharusnya bagaimana?
Blog yang akan dimasukkan dalam CV setidaknya blog-blog kamu yang berhubungan dengan tempat kamu melamar pekerjaan. Misal kamu ingin mengusulkan proposal dan CV lamaran kerja ke suatu perusahaan minyak multinasional. Maka, blog yang kamu masukkan adalah blog berisi riset-riset, ulasan-ulasan ilmiah yang terkait dengan minyak dan gas. Bukan malah cerita bulan purnama yang tinggal separo dimakan oleh raksasa. Kagak relevan sama sekali kayak gitu.

Itu aja dulu sih. Semoga bisa dilanjut lagi.