Minggu, 01 Mei 2016

Wanita tercantik di dalam hidupku

Hai sob,
hari ini, aku baru mendapat pencerahan. Yakin, ini menjelaskan sejelas-jelasnya bagaimana rupa dan bentuk sebuah rejeki dari Allah. Ceritanya, aku mampir ke sebuah tempat di daerah Terban, selatannya kompleks UGM, Yogyakarta. Lalu, terdengarlah suara seseorang yang terasa empuk dan nyaman di telinga. Maka sayup-sayup di antara keramaian antrian bangjoo KFC Terban, ku cermati setiap penjelasan dari seseorang itu. Rupanya, ada semacam ceramah begitu di sekitar perempatan itu.

Begini penjelasannya (secara garis besarnya saja ya... karena ya cuma sayup-sayup ndengerin-nya):
Ada pertanyaan,
"Apa jadinya, jika lumrahnya saat setiap bayi manusia dilahirkan di dunia ini dengan keadaan kedua mata dapat memandang dengan sempurna berikut berkedip, lalu ada kalanya bayi lahir dengan mata tertutup alias buta? Apa yang akan kita labelkan kepada adik bayi yang kedua? ... apakah si adik bayi yang tunanetra kita sebut sebagai bayi yang cacat?"

Terdengar setelah itu, jawaban koor (bersamaan), "Iya, cacat.."

Si penceramah melanjutkan bertanya, 
"Lalu, jika ternyata, setiap bayi manusia itu lumrah lahir buta semua... dan ada satu bayi yang matanya dapat terbuka dan melihat, akan tetap kita sebut si bayi melihat itu sebagai sebuah ketidaklaziman?"

Kali ini tak ada jawaban berjamaah. Rupanya sesaat kemudian, hening. Terbayang dalam benakku bahwa pertanyaan dan jawaban itu berasal dari satu forum yang hadirin nya banyak. Dan dengan diamnya pendengar pada pertanyaan kedua, menunjukkan bahwa hadirin mulai memahami maksud si penceramah.

"Itu dia. Kita sebut sesuatu itu cacat karena ketidak biasaannya. Padahal yang tidak biasa itu sebetulnya juga lumrah terjadi. Persepsi dan pendapat manusia kebanyakan lah yang membuat pemahaman kita pun menjadi pengikut pemikiran yang berkembang di antara mereka. Kita dengan mudah memandang orang yang mempunyai 'keterbatasan' itu sebagai sesuatu yang cacat. Padahal sekali-kali tidak. Sekali-kali tidak."

"Apa bahayanya? Dengan hanya berpatokan pada penilaian manusia, kita menjadi sangat rentan dan pasti terjerumus pada ketidak-puasan akan apa yang diberikan kepada kita. 'Wah, kok aku tidak dapat yang itu ya?'"

Bener juga ya. Aku tersentak. Betul sekali.
Wallahi what he says is so true. Begitu kata-kata dari Deen Squad - Friday.
Benar dan sangat membuka pemahamanku yang selama ini hanya mengejar penilaian manusia.

Lupa,
bahwa Allah menciptakan sesuatu apapun di muka bumi dan alam semesta ini tanpa cacat. Tanpa cacat! Flawless. Lalu, penentuan cacat atau tidak itu murni karena pandangan manusia. Karena nafsu manusia. Ya Allah, betul sekali - lalu perasaanku teraduk-aduk, bagai es buah. Teraduk-aduk tetapi menjadi nikmat.

"Oke Yan,
mulai saat ini, syukurilah apa yang Allah kasih ke kamu. Bersyukur dan menerimalah dengan lapang dada. Jikapun tak sesuai dengan harapan awalmu, segeralah beranjak dari perasaan 'tidak terima' itu. Sungguh, itu betul-betul yang terbaik bagimu."

Lalu,
si penceramah mengutarakan kembali nasihatnya.
"Lalu, mengapa sampai saat ini, banyak wanita yang dianggap cantik dan di lain tempat ada yang buruk rupa? Mengapa para lelaki seolah membuka mata hanya kepada wanita yang dianggap superior dari fisik? Bukankah yang ternilai dari seseorang itu bukan dari fisik melainkan dari hati dan akhlaknya?"

Oh meeeen, aku tertohok lagi. Hehe... Sangat benar!

"Maka, siapakah wanita yang sesungguhnya paling cantik bagi para setiap manusia?" Agaknya ini pertanyaan terakhir yang aku tangkap.

Si penceramah menjawab sendiri, "Ia adalah ibu."

Oh sob, makin leleh nih.

"Tak akan pernah ada hati nurani seorang anak mengatakan ibunya buruk rupa. Ia akan sangat rela hati mengatakan ibunya-lah wanita tercantik di dunianya. Tak memandang secara fisik. Ingat, ini adalah fatwa hati. Maka dengarkanlah."

*Menjadi kangen dengan Ummi.

Senin, 18 April 2016

Kalahkan Jenuh dengan Peluh

Hai sobat,
pernahkah kamu merasa jenuh saat-saat melakukan rutinitas sehari-hari? Hehe... Namanya saja rutinitas. Apapun itu, bakal ada fase jenuh (well-saturated brain - istilah saya sendiri, hehe). Eits, tunggu dulu sob, setelah sekian lama saya mengingat-ingat setiap jejak langkah saya, ternyata jenuh itu akan sering dijumpai pada aktivitas yang berpihak pada kebaikan. Sementara itu, jenuh  akan susah kita temui saat kita berbuat keburukan. Ya nggak Sob?

Baik kok jenuh?
Iyes... Bener deh, coba buktikan. Kapan saja sih kita merasa jenuh? Mesti saat kita sedang belajar di sekolah atau di kampus, atau mungkin sedang menunggu redanya hujan? Apa saja lah, yang jelas, segala kebaikan yang seharusnya dilakukan itu serasa selalu terhalangi dengan jenuh yang datang beriringan. Mestinya sih, kita pandai-pandai untuk berinovasi saat jenuh dalam berkebaikan. Biar bagaimanapun, tiap detiknya hidup kita adalah waktu yang sangat berharga. Lakukan hobi yang positif Sob, contohnya menulis. Pasti ada kebaikan di dalamnya. Lain kata, mari kalahkan jenuh dengan peluh (bekerja dan belajar).

Dan tak pernah terjumpa jenuh dengan buruk?
Saat kita bermusik ria, melewatkan waktu yang terbuang percuma di tiap detiknya dengan menonton film yang tak berfaedah, atau ngobrolin teman sekolah, kok kayaknya gak ada jenuhnya ya? Mungkin bagi sebagian orang akan merasa jenuh juga. Tetapi, pasti gak akan lama. Sebab, jenuhnya itu bakal terganti dengan setiap episode keburukan yang semakin ter-upgrade di tiap detiknya pula. Bosan dengan yang ini, pindah dengan keburukan yang itu. Bosan dengan yang itu, ganti dengan yang lainnya lagi. Bener kan?

Gimana sih rasanya jenuh?
Setiap kita, pasti merasakan bahwa jenuh itu jelas menjengkelkan, tidak menyamankan hati. Bawaannya, hanya akan marah, gusar, sebel. Ibarat kata, tiap ada makanan di depannya akan dilahap, tiap ada orang akan dimaki, tiap ada batu minta ditimpuk (eh kok gak nyambung yak?). Tiap detiknya menjadi serasa lebih panjang berlipat eksponensial. Intinya, semua sepakat, gak pengin merasa jenuh.

Lalu, apakah menunggu jodoh juga menjenuhkan?
Eyaaa...

Rabu, 20 Januari 2016

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك

- Al-waqtu kas-saif illam-taqtho'hu qatha'aka -

Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu yang akan memotongmu.


Sudah setahun lebih, saya tidak memperbarui catatan di halaman blog ini. Begitulah waktu, tahu-tahu sudah terlewat satu tahun. 2015 menjadi sepi catatan di dunia maya, tetapi percayalah tetap ada catatan di dunia nyata.

Tetap semangat dan optimis untuk waktu yang akan kau habiskan di masa datang.

Minggu, 12 Oktober 2014

PRAKATA

Dengan nama Allah Yang Menciptakan Permulaan dan Yang Memutuskan Akhir Jaman, segala puji dan syukur selalu diucapkan untuk-Nya, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah memberikan kekuatan dan nikmat yang tak dapat dihitung satu persatu kepada saya selama ini termasuk dalam penyelesaian kuliah strata satu ini. Tentu dengan peran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, yang mengajarkan manusia untuk terus berusaha dan beribadah hanya kepada Allah. Semoga kedamaian dan keselamatan dilimpahkan Allah kepadanya.

Setiap orang memberikan peran dan pengaruh yang besar. Begitu besar peran mereka sehingga sulit untuk disebutkan satu persatu. Bukan hal yang mudah untuk membalas setiap kebaikan peran mereka. Oleh sebab itu, dalam prakata ini penyusun mencoba untuk mengabadikan nama mereka dan mengucapkan terimakasih kepada
  1. Orang tua, Bapak Tridadi dan Ibu Siti Sukaptini, yang telah menjadi orang pertama sebagai tempat dalam bercerita keluh-kesah sehingga semangat kembali tumbuh setelahnya. Semoga peran Bapak dan Ibu ini mendapat ridho dari Allah.
  2. Ibu Dwikorita Karnawati dan Bapak Sugeng Sapto Surjono beserta segenap staf sekretaris bidang, staf dosen dan karyawan Jurusan Teknik Geologi yang telah melayani selama kurang lebih 4 tahun dengan sangat baik dan antusias. Semoga kebaikan dan pendidikan yang diberikan dinilai ibadah dan mendapat balasan yang baik oleh Allah.
  3. Bapak Subagyo Pramumijoyo, sebagai dosen perwalian akademik yang terus membimbing dan memberikan motivasi serta saran akademik yang selama 4 tahun. Semoga Bapak terus dapat menjadi teladan bagi civitas akademika kampus ini.
  4. Bapak Agung Setianto, sebagai dosen pembimbing pertama tugas akhir yang menjadi tempat bertukar pemikiran mengenai konsep-konsep penginderaan jauh serta pembimbing dalam beberapa proyek ilmiah. Semoga Bapak senantiasa bersemangat untuk mengembangkan proyek ilmiah yang sudah dibangun dan mendapat apresiasi yang sepadan dengan perjuangan berat Bapak.
  5. Bapak Srijono, sebagai dosen pembimbing kedua yang semula merupakan dosen pembimbing pertama tugas akhir. Terimakasih atas semua motivasi moral yang Bapak berikan selama menggeluti perkuliahan.
  6. Bapak Akmaluddin, sebagai dosen penilai yang memberikan masukan berharga dalam penyusunan draft final naskah saya ini.
  7. Eyang Wartono Rahardjo, yang bukan hanya dosen tetapi juga motivator yang terus menanyakan kabar luar biasa. Pengalaman lapangan bersama Eyang akan terus diingat dan pasti bermanfaat bagi pengabdian nanti.
  8. Mas Atmaja Septa Miyosa, yang berulang kali harus mau ikut menanggung kerepotan teknis penyelesaian tugas akhir ini, termasuk saat pengambilan data lapangan hingga larut sore hari. Semoga dilancarkan dalam mengajar di universitas.
  9. Keluarga Geologi angkatan 2010, khususnya Nadiar Ramadhan, Dimas Pratama Putra serta teman-teman lainnya yang terlalu panjang jika disebutkan satu persatu. Di angkatan ini, semangat tumbuh dalam semak suka duka mulai dari tahap awal masuk kuliah, pengenalan dasar lapangan, setiap kuliah lapangan, kegiatan pemetaan, kuliah kerja nyata, dan semester akhir. Angkatan 2010 menjadikan diri semakin mengerti alasan sebab peran geologis harus ada.
  10. Keluarga Pemetaan Geologi Mandiri 2012: Anggit Anggara Santika, Faisal Arif Permana, Saftyan Yudhanto Kartiko, dan Najibatul Adibah yang memberi peran dalam pembelajaran lapangan. Satu bulan dan satu semester adalah waktu yang cukup untuk mengerti manajemen psikologi lapangan.
  11. Keluarga Cendekia Teknika, khususnya Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, Mirza Rahim, Rezha Aditya Maulana Budiman, Anindya Sricandra Prasidya, Ahmad Raditya CB, Irfan Aditya Dharma, Muanisya Sanjaya, Heru Pranoto, Saptiana Mardhiyah, Niqlatun Nafi’ah, Istiqomah Wahyu, Novi Aristia, Isna Uswatun Khasanah, Lani’ah, Atika Nurul Hidayah, Nur Puji Lestari, dan Najibatul Adibah. Juga kepada Jupri Supriadi, Aji N. Pakha, dan Siti Koiromah. Keluarga ini akan selalu diingat sebab di dalamnya ada banyak sekali pesan moral yang tentu membentuk diri ini.
  12. Keluarga Laskar 38 M. Natsir beserta Mas Aditya Alif Pradana dan Mbak Tetty Harahap yang terus mengajak untuk selalu berkontribusi. Semoga karya ini bisa menjadi salah satu bentuk kontribusi itu.
  13. Keluarga Unit KKN BBL-02 (Bangka Belitung), khususnya Faisal Arif Permana, Demas Bayu Handika, Muhammad Abdurahman, Muhamad Rizki Asy’ari, Tubagus Riyadi, Muhlash Hada, Muhammad Rezansyah, Dhimas Ardhi Herizharmas dan teman-teman lain yang telah banyak memberikan gambaran betapa majemuknya hidup orang dan pembelajaran pentingnya apresiasi kepada orang. Tak lupa serta Sub-unit Kurau: Aiman Haidar Shamlan, Sari Dewi Ayuningrum, Sandra Agustina, Haikal Prima Fadholi. Semoga tetap menjadi pembelajar hidup yang tiada henti mengabdi.
  14. Segenap warga Desa Kurau dan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, yang telah memberikan kesempatan untuk belajar mengabdi sehingga menjadi lebih siap dalam pengabdian sesungguhnya.
  15. Keluarga iRCopter THERMAL, khususnya Mirza Rahim, Verdiaz Refikhanata, dan Anindya Sricandra yang telah membantu proyek ilmiah penginderaan jauh berbasis termal. Walaupun banyak hambatan tetapi proyek dapat berhasil dengan baik. Semoga langkah awal ini dapat menjadikan pondasi kuat pengabdian diri kepada negeri.
  16. Keluarga Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG), khususnya Pengurus Harian periode 2011, 2012, dan 2013, yang telah memberikan wadah berekspresi dan berkarya. Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan sebagai delegasi pada International Geomapping Competition (IGC) 2013. Semoga HMTG terus berada di garis depan dalam berkarya nyata.
  17. Keluarga American Association of Petroleum Geologists Universitas Gadjah Mada Student Chapter (AAPG UGM-SC), yang juga memberikan wadah berekspresi sehingga terbit panduan “How to Make A Research – Series”. AAPG UGM-SC, We are one!
  18. Keluarga Teladan 51 yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Keluarga ini sangat hangat dan nyaman untuk bertukar pikiran positif. Terimakasih atas suntikan semangat dan pengembalian rasa percaya diri untuk mengabdi pada negeri. Semoga masing-masing anggota keluarga ini mampu menjadi agen perubahan yang baik.
  19. Mishary Rashid dengan alunan merdu Qur’an yang membantu untuk menenangkan di saat pikiran sedang kalut dan sesak perasaan. Lantunan Surah Al-Mulk benar-benar menggetarkan hati bagi yang mendengarkan.
  20. Aamir Khan dengan filmnya “3 Idiots” dan “Taare Zameen Par” yang begitu menginspirasi dan membuka sudut pandang baru akan esensi dunia pendidikan dan pengabdian.
  21. Aldo Febriansyah Putra dengan peran sertanya dalam perbaikan dan penyusunan abstract dalam naskah ini serta diskusi-diskusi kritis mengenai tema karya ini.
  22. Ratri Abdatush Sholihah dan Tubagus Riady atas bantuannya dalam pengadaan peralatan pengambilan data lapangan.
  23. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang pernah bertemu di setiap tempat dan waktu. Semoga semua selalu dalam jalan kebaikan.
Akhirnya, dengan penuh harap, semoga penelitian ini dapat berguna bagi kemajuan bangsa dan pembangunan strategis masa depan negeri. Kritik dan masukan sangat diharapkan untuk memperbaiki setiap lubang kekeliruan.

Yogyakarta, Oktober 2014
Yan Restu Freski

Jumat, 07 Februari 2014

UGM: Serius universitas betulan?

Prolog
Entah, kenapa pikiran ini kembali terusik setelah sesorean berbincang dengan kawan akrab jurusan tetangga. Begini lho, saat ini banyak universitas di Indonesia yang bejibun aktivitas akademiknya. Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sleman D.I.Yogyakarta misalnya. Konon saja nih, UGM ini adalah universitas dengan jurusan dan fakultas paling melimpah. Macam-macam. Hampir-hampir semua bidang ada deh. Ada banyak banget acara-acara kampus yang keren-keren. Tapi di balik itu semua, adakah yang sempat terpikir bahwa apa iya, UGM itu sudah bener-bener universitas?

Universitas,
menurut hemat saya nih, isinya ada banyak jurusan dan program studi yang saling terintegrasi. Ada satu bagian atau lebih yang pokok kajian kuliahnya menyinggung bidang lain. Artinya lintas bidang, multidisiplin. Misalnya nih ya, saya kuliah di Jurusan Teknik Geologi, dan saya ada mata kuliah Geokimia yang butuh ke Jurusan Kimia FMIPA. 

Maka, saya harus mendaftar di kelas Jurusan Kimia FMIPA. Kira-kira begitu gambarannya. Memang ada temen saya yang dia sebenarnya mahasiswa Program Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA. Tetapi, dia mengambil mata kuliah Geologi Struktur di Jurusan Teknik Geologi FT. Dia datang ke kelas Geologi Struktur di Jurusan Teknik Geologi.

Ada beberapa jurusan yang sudah mengatur lintas bidang tersebut. Namun, tidak sedikit yang masih berkutat dengan matakuliah-matakuliah masing-masing jurusan. "Ego disiplin ilmu masih besar," itu kata teman saya. Ada benarnya memang.

Lalu,
apakah hanya dengan seperti kuliah lintas jurusan, UGM sudah dimasukkan ke kategori universitas? Uni itu artinya satu. Versitas artinya (nggak jauh dari) keberagaman. Maka, universitas dapat pula diartikan secara bebas jadi begini, keberagaman ilmu yang jadi satu.

Menurut hemat saya lagi,
nggak cukup UGM itu hanya bertopang pada lintas matakuliahnya agar bisa disebut universitas. Ada sesuatu yang bisa diusahakan lebih dari itu, dan memang seharusnya ada, untuk bisa mendukung penyebutan universitas. Riset lintas bidang!

Saya tergerak untuk memulai membangun koneksi antar himpunan mahasiswa di Fakultas Teknik UGM. Koneksi riset tentunya. Melihat trend saat ini, sudah sangat berdebu, it's so yesterday, bila mahasiswa bikin riset yang hanya berkutat dengan satu disiplin ilmu. Kuno.

Saat ini, ketika teknologi modern dikawinkan dengan konsep konvensional, akan menelurkan hasil-hasil riset yang mendobrak. Saya pun sudah menjadi saksi dari beberapa riset yang maju sekian langkah dari riset biasa, bila dikawinkan secara lintas bidang. Permasalahan geologi dipecahkan dan ditemukan solusinya menggunakan teknologi elektro, menghasilkan alat pendeteksi dini gerakan longsor. Hasilnya? Kerugian nyawa dan fisik bisa dikurangi secara signifikan di daerah-daerah rawan longsor.

Ilustrasi jaringan riset mahasiswa Jurusan Teknik Geologi ke jurusan lain. Bayangkan jika masing-masing saling terhubung. Bukankah itulah esensi sebutan universitas?

Lebih dari itu,
jiwa kebersamaan dan persaingan riset kompetitif yang sehat akan terbangun. Atmosfer riset terbentuk di antara mahasiswa-mahasiswa se-Fakultas Teknik UGM. Tidak ada lagi ego disiplin ilmu yang dijunjung-junjung itu. Semua terintegrasi, semua menyatu. Setelah mahasiswa Fakultas Teknik mempunyai jaringan riset yang mapan, baru kemudian menjalin jaringan ke luar fakultas.

Saya disini hanya
melibatkan mahasiswa sebagai bagian utama pembangun jaringan riset ala universitas itu. Saya yakin, bahwa cita-cita world-class research university itu bakal tercapai sesuai dengan apa yang saya sebutkan.