Asos.
Saya mendengar pertama kali mungkin di saat masih SMA. Asing memang, panganan opoh kuwi. Asos, adalah singkatan dari anti sosial. Saya tidak tahu apakah istilah itu sudah EYD atau belum, namun ternyata mungkin sudah jadi salah satu label bagi seseorang yang menutup diri dari khalayak, baik disengaja maupun nggak sadar.
Dulu,
saat masih jaman SD, saya bukanlah anak yang suka di rumah. Gatal rasanya jika tangan itu tidak untuk pegang guthik, gatal pula jika kaki itu tidak untuk berlari. Ada saja permainan atau eksplorasi yang dilakukan saat itu bersama kawan-kawan. Bahkan mencuri tebu di sawah sebelah kampung, mengejar belut yang sembunyi di dalam lumpur di bawah teriknya matahari, atau main bola di sejuknya sore. Tidak ada masalah untuk semuanya itu. Jadi, nggak ada yang namanya asos.
Tapi,
semua berubah semenjak saya sekolah di SMP. Yah, walaupun sesekali masih saja sering nongkrong di angkringan tengah kampung. Namun saya pikir, saat itulah saya menjadi asos. Apalagi ketika masuk sekolah di kota saat SMA. Asos di kampung jadi nggak ketulungan. Kegiatan pemuda jarang ikut. Saya pun sebetulnya nggak bersengaja untuk asos. Cuma memang kegiatan di sekolah betul-betul mengasyikkan, sehingga lupa sama yang di rumah. Hehehe.
Namun saat kuliah ini,
saya mulai membaur lagi, ketemu kawan-kawan sepermainan di kampung lagi. Tapi paling pol untuk urusan laden hajatan tetangga. Selebihnya saya tetap tidak bergabung. Soalnya cuma nongki-nongki doang. Saya belum punya ide biar mereka nggak nongkrong saja.
Tentang asos,
saya lebih tertarik untuk asos di media sosial. Percayalah, bahwa saya adalah orang yang kuper dalam media sosial. Sejak jamannya mxit, friendster, lalu ke jaman facebook, twitter. Sampai sekarang ada teknologi Whatsapp, Line, Telegram, Instagram, dan entah apa lagi. Saya pernah punya media sosial hanya facebook, twitter. Tapi semuanya sudah tutup lapak. Hehe... Lagian itu dibikinkan temen juga. Malah ada yang bersedia jadi adminnya.
Saya pun,
akhirnya selektif dalam memilih grup di Whatsapp. Ada beberapa hal yang kemudian menyebabkan saya memutus beberapa grup. Saya keluar dari beberapa grup fundamental. Awalnya berat, tapi pada akhirnya, malah lebih enjoy. Perlahan saya menutup grup-grup dengan cara keluar dari grup tersebut dengan sopan. Sehingga, saat ini saya merasa menjadi orang yang baru. Eh, bukan baru sih, tapi menjadi orang yang hampir seperti dulu saat anak-anak. Dan ini menyenangkan.
#Tapi saya masih berharap bisa ber-whatsapp denganmu. Semoga sesegera mungkin ada alasan agar hal itu tidak lagi berdosa. :D
Selasa, 10 Januari 2017
Jumat, 06 Januari 2017
Baru kurasakan,
Semakin ke usia sekarang, personifikasi diriku semakin menarik. Banyak kemudian tanggung jawab ditaruh di atas bahuku secara bertubi. Pun dalam benak mulai bingung dalam mengurai benang yang semakin ruwet.
Sementara itu, waktu bergulir cepat. Bangun tidur, menyapa matahari pagi, aktivitas rutin, menumpuk masalah di kantor, rumitnya jalan dihadapi, begitu seterusnya, tak terasa waktu sudah sore dan malam menjelang. Pulang, lalu tidur. Seperti tiada habisnya.
Ternyata,
Perjalananku masih panjang yang harus ditempuh, bekalku masih sangat sedikit untuk digamit, namun waktu yang tersedia semakin sempit, makin menghimpit.
Apa yang harus ku lakukan?
Pilih hal yang bermanfaat, kerjakan dengan baik.
Benar kata pak Ustadz, sesungguhnya tidak ada kesempatan berbuat maksiat bagi orang yang menyadari batasnya hidup alias maut.
Selasa, 18 Oktober 2016
Perlukah merasa diperalat?
Dalam keseharian kita, sering kali kita mendengar perkataan "diperalat oleh orang lain". Bahkan barangkali kita pun sering mengatakan hal yang demikian. Mengapa? Sebab kita mendudukkan diri pada pengakuan di mata manusia. Konon, salah satu kebutuhan manusia adalah merasa dihargai. Boleh jadi kita sebut eksistensi dan apresiasi adalah sifat manusiawi.
Saya pun sepakat untuk ini. Tetapi sering pula eksistensi dan apresiasi itu terlalu mendapat berlebih porsi. Sehingga ia menjadi prioritas manusia yang banyak dicari. Banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk muncul ke permukaan. Bersiku dan bersusah untuk mendapat posisi dielukan. Pasang kaca mata kuda, egois, saling menjatuhkan, hanya untuk dipandang semua mata dan tepuk tangan. Itukah yang dicari wahai kawan?
Benarlah barangkali, bahwa eksistensi dan apresiasi itu wujud manifestasi kerukunan dalam bersosialisasi. Namun ketika nafsu menunggangi, semua menjadi timpang dalam diri. Yang ada justru dengki dan iri. Itu kan yang saat ini terjadi?
Saya pun sepakat untuk ini. Tetapi sering pula eksistensi dan apresiasi itu terlalu mendapat berlebih porsi. Sehingga ia menjadi prioritas manusia yang banyak dicari. Banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk muncul ke permukaan. Bersiku dan bersusah untuk mendapat posisi dielukan. Pasang kaca mata kuda, egois, saling menjatuhkan, hanya untuk dipandang semua mata dan tepuk tangan. Itukah yang dicari wahai kawan?
Benarlah barangkali, bahwa eksistensi dan apresiasi itu wujud manifestasi kerukunan dalam bersosialisasi. Namun ketika nafsu menunggangi, semua menjadi timpang dalam diri. Yang ada justru dengki dan iri. Itu kan yang saat ini terjadi?
Bukankah seorang hamba yang jelas dipastikan dicintai Sang Pencipta justru manusia yang hampir tak pernah ditanyakan keberadaannya di mata orang?
Bukankah seorang hamba yang dirindukan Rasulullah adalah manusia yang jika tidak hadir dalam suatu majelis ilmu pun tak ditanyakan kabarnya oleh saudara muslim yang lainnya?
Saya termenung memikirkan ini. Bahwa ego yang diboncengi nafsu ternyata berbahaya bagi hati. Sangat berbahaya. Bagai paradoks sebuah koin. Seolah ego itu membakar semangat untuk naik berprestasi, namun sering pula ego itu membawa tabiat buruk yang sering pula tak disadari.
Paling mudah adalah perasaan tadi, "ah aku kok merasa diperalat sih. Disuruh kerja ini itu, tapi tak ada imbasnya yang dikasih." Sangat akrab di telinga kita kalimat-kalimat ini, sebab memang sering pula kita mengucapkannya walau tanpa disadari.
Lalu, bisakah kita menganggap kalimat itu sebagai sinyal bahwa nafsu tengah berusaha membonceng pada sifat manusiawi (eksistensi dan apresiasi) ini?
Bagi seorang muslim, saya berpikir, sebaiknya pikiran 'diperalat' itu harus dienyahkan dari hati. Sebab bertentangan dengan akhlak dan sifat manusia terpuji yang diajarkan Rasulullah, teladan yang hakiki. Bukankah Beliau bersabda, manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Paling mudah adalah perasaan tadi, "ah aku kok merasa diperalat sih. Disuruh kerja ini itu, tapi tak ada imbasnya yang dikasih." Sangat akrab di telinga kita kalimat-kalimat ini, sebab memang sering pula kita mengucapkannya walau tanpa disadari.
Lalu, bisakah kita menganggap kalimat itu sebagai sinyal bahwa nafsu tengah berusaha membonceng pada sifat manusiawi (eksistensi dan apresiasi) ini?
Bagi seorang muslim, saya berpikir, sebaiknya pikiran 'diperalat' itu harus dienyahkan dari hati. Sebab bertentangan dengan akhlak dan sifat manusia terpuji yang diajarkan Rasulullah, teladan yang hakiki. Bukankah Beliau bersabda, manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Mengapa harus risau ketika mulai terlihat perasaan 'diperalat' itu? Bukankah yang membalas kebaikan itu adalah Sang Pencipta, bukan dari seseorang yang dianggap 'memperalat' itu?
Maka, perlukah kita menambahkan dalam jiwa muslim kita perasaan 'diperalat' itu?
© alfariski. 5 Okt 2016.
© alfariski. 5 Okt 2016.
@ perjalanan Awaji - Kitakyushu.
Kamis, 22 September 2016
Menulis itu (tidak) mudah!
Di suatu saat, ketika saya membuka laman Facebook saya, saya cukup terperangah dibuatnya. Mengapa? Sebab, teman saya mem-posting desain sampul buku terbarunya. Di semester kedua tahun 2016 ini, dia beserta temannya menulis kisah-kisah hebat sepanjang hidupnya dalam 200-an halaman saja. Cukup tebal untuk bacaan sekali duduk. Tetapi menurut saya terlalu tipis jika harus disebandingkan dengan kisah nyata yang dia lakoni selama ini. Dia adalah Ahmad Ataka. Saya mengenalnya secara dekat tidak sejak kecil, namun sekadar tahu saja ketika saya sekolah di SMP. Suatu hari saat itu, saya disodori kakak saya sebuah artikel di koran.
"Nih, temenmu dah bisa bikin novel."
Whaat? Novel? Saya saat itupun masih bergelut dengan lumpur sawah mencari belut. Ini ada seorang anak seumuran yang sudah menaikkan cetak tulisannya menjadi novel. Judulnya pun bombastis, Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter. Dibesut dengan alur cerita bak Detektif Conan Edogawa, Aka (begitu saya memanggilnya) cukup lihai memainkan plot untuk seusianya kala itu.
"Kalau kamu hebat, mestinya bisa nulis juga lho." Timpal kakak saya di antara keterperangahan saya. Terkesiap. Mendidih darah emosi sampai ke ubun-ubun. "Oke, aku bisa kok kayak dia!" Batin saya. Masih membekas di ingatan saya, sebab semenjak itulah saya mengubah haluan saya. Dari semula bermain lumpur dan mencuri tebu, menjadi berteman dengan pensil, bergelut dengan lembaran-lembaran kertas, serta meniti tiap detik jalannya waktu. "Aku harus bisa!"
Hari itu juga, saya mencoba menulis sebuah cerita. Memang kala itu, kakak saya menantang saya dengan menyodorkan sebuah informasi lomba menulis cerita. Sehabis membaca tata aturan lomba, saya sahut "Siapa takut!?" Kakak saya tertawa.
Sejam, dua jam. Tulisan saya mulai panjang. Awalnya asik tetapi lama kelamaan semakin buntu. Bagaimana sih cara membuat tulisan yang baik. Dengan bayang-bayang sindiran kakak saya, akhirnya saya menyelesaikan tulisan dengan asal-asalan. Jelek bentuknya, sakit di mata, dan pusing dibacanya. Biarin, yang penting saya sudah mencoba! Bodo amat! Umpat saya kala itu. Hehe... (saya pun masih tersenyum menahan tawa jika mengingat segmen saat itu).
Menulis itu tidak mudah. Sungguh tidak mudah. Sangat membutuhkan konsentrasi yang khusus dan penuh. Tidak bisa dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain. Harus pada momen perasaan yang pas sehingga bisa membawa emosi diri ke dalam tulisan. Tulisan yang baik adalah tulisan yang betul-betul bisa men-transfer perasaan penulis kepada pembaca.
Akhirnya, thanks untuk Ahmad Ataka, sahabat saya.
Saya semenjak SMA mulai menulis dengan hati yang lebih nyantai. Saya mulai menyadari saat itu, bahwa menulis itu tidak boleh karena paksaan, apalagi karena terbakar iri karena orang lain sudah lebih dulu menulis novel. Hehe... Saya kemudian belajar meneliti. Saya mengenal tim Sagasitas (kapan-kapan saya kisahkan yang ini ya :D). Saya lalu mengenal bagaimana menulis secara ilmiah dan runtut. Ternyata perjalanan sangat panjang. Perjalanan menjadi "bisa" itu cukup melelahkan. Namun semua menyenangkan. Yups, tergantung kitanya sendiri. Apakah mau dan senang untuk melakukan apa yang menjadi hobi kita.
Maka, saya mulai berlatih menulis dalam blog-blog seperti ini. Sesekali saya menulis dalam microsoft word. Lalu saya simpan. Saya tak muluk-muluk harus punya target harus terbit dan segala macem. Itu ntar aja. Yang terpenting, saya harus terus menulis. Saya pun akhirnya menemukan style tulisan saya. Dan itu menjadi jalan saya untuk menikmati dalam menulis.
Sekali lagi, thanks untuk Ahmad Ataka atas inspirasi di tahun 2005 itu, walaupun saya mulai akrab ketika saat-saat lulusan SMA... :D
Senin, 05 September 2016
Kode Pos Kecamatan Godean Sleman yang Benar!
Saya akhir-akhir ini tengah membutuhkan data beberapa alamat kolega-kolega saya, sebab saya ingin mengirimkan banyak hal melalui layanan Pos Indonesia. Saya terkadang lebih suka untuk menggunakan layanan itu daripada JNE, TIKI, atau sejenisnya, sebab barang yang saya kirim sifatnya pribadi dan terasa unik ketika harus dengan menggunakan prangko dan stempel pos di atasnya. Beberapa kali ini terkesan lebih vintage tetapi lebih mengena. Kurang lebih begitu.
Nah, saya akhirnya mengecek satu per satu alamat yang sudah saya buat dalam list alamat yang akan saya kirimi kartu pos. Lumayan sih, kartu pos dari luar negeri. Dikirim dengan prangko luar negeri, otomatis dikirim dari sana. Hehe, mengirim kartupos semacam ini sebetulnya bikin geregetan juga. Kadang nyampe kadang enggak. Tapi gak masalah.
Lalu, tibalah dalam list yang saya baca. Ada yang beralamat di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai calon pengirim yang baik, saya harus mencantumkan alamat yang lengkap pada surat/kartu pos saya dong. Membantu pak Pos dalam mengantarkan selembar surat ini juga kan. Yang diuntungkan juga saya. Hehe...
Biyadalah, oh my... Ternyata nomor kode pos Kecamatan Godean ada 2 nomor: 55564 dan 55264. Wow kan? Emang angka 5 dan 2 kalau di tulisan tangan terkadang mirip sih bentuknya. Tetapi ini tidak boleh dibiarkan dong ya. Bagaimana cara tahu mana yang benar?
55564
Kode pos ini sudah saya kenal sejak SD ketika harus menghafal nomor-nomor kodepos (pelajaran RPUL- jaman SD dulu). Saya seyakin-yakinnya kalau nomor yang benar itu ya yang ini. Saya melihat surat-surat jaman bahula juga seperti ini.
55264
Ini pun saya dapat dari administrasi perbankan dari seseorang. Pernah saya lihat identitas alamatnya, juga Godean tetapi berkodepos 55264. Ia pun telah menanyakan ke admin Customer Service bank-nya. Kata CS, nomor kodepos yang 55264 itu otomatis intenet di data base nya.
Akhirnya saya cek juga di internet.
Dan memang banyak yang sudah membahas dwi angka ajaib ini. Beberapa tidak konklusif dan tidak meyakinkan. Saya pun menelepon kantor pos Godean, dan menanyakan hal ini. Dan taraaa.... akhirnya didapatlah jawaban yang benar sebenar-benarnya.
Kode pos Kecamatan Godean, Sleman adalah 55564 (5 tiga kali, 6 dan 4). Tidak pernah ada angka 2 pada kodepos kecamatan ini menurut bonggol induk bukunya Kantor Pos (PT. Pos Indonesia).
Begitu ya, harap menjadi periksa bagi masyarakat semua, bahwa yang benar adalah 55564, bukan 55264.
Sumber:
Kantor Pos Kecamatan Godean
JL. Raya Godean, Sidoluhur, Godean, Sleman · (0274) 6496622
Nah, saya akhirnya mengecek satu per satu alamat yang sudah saya buat dalam list alamat yang akan saya kirimi kartu pos. Lumayan sih, kartu pos dari luar negeri. Dikirim dengan prangko luar negeri, otomatis dikirim dari sana. Hehe, mengirim kartupos semacam ini sebetulnya bikin geregetan juga. Kadang nyampe kadang enggak. Tapi gak masalah.
Lalu, tibalah dalam list yang saya baca. Ada yang beralamat di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai calon pengirim yang baik, saya harus mencantumkan alamat yang lengkap pada surat/kartu pos saya dong. Membantu pak Pos dalam mengantarkan selembar surat ini juga kan. Yang diuntungkan juga saya. Hehe...
Biyadalah, oh my... Ternyata nomor kode pos Kecamatan Godean ada 2 nomor: 55564 dan 55264. Wow kan? Emang angka 5 dan 2 kalau di tulisan tangan terkadang mirip sih bentuknya. Tetapi ini tidak boleh dibiarkan dong ya. Bagaimana cara tahu mana yang benar?
55564
Kode pos ini sudah saya kenal sejak SD ketika harus menghafal nomor-nomor kodepos (pelajaran RPUL- jaman SD dulu). Saya seyakin-yakinnya kalau nomor yang benar itu ya yang ini. Saya melihat surat-surat jaman bahula juga seperti ini.
55264
Ini pun saya dapat dari administrasi perbankan dari seseorang. Pernah saya lihat identitas alamatnya, juga Godean tetapi berkodepos 55264. Ia pun telah menanyakan ke admin Customer Service bank-nya. Kata CS, nomor kodepos yang 55264 itu otomatis intenet di data base nya.
Akhirnya saya cek juga di internet.
Dan memang banyak yang sudah membahas dwi angka ajaib ini. Beberapa tidak konklusif dan tidak meyakinkan. Saya pun menelepon kantor pos Godean, dan menanyakan hal ini. Dan taraaa.... akhirnya didapatlah jawaban yang benar sebenar-benarnya.
Kode pos Kecamatan Godean, Sleman adalah 55564 (5 tiga kali, 6 dan 4). Tidak pernah ada angka 2 pada kodepos kecamatan ini menurut bonggol induk bukunya Kantor Pos (PT. Pos Indonesia).
Begitu ya, harap menjadi periksa bagi masyarakat semua, bahwa yang benar adalah 55564, bukan 55264.
Sumber:
Kantor Pos Kecamatan Godean
JL. Raya Godean, Sidoluhur, Godean, Sleman · (0274) 6496622
Langganan:
Postingan (Atom)