Selasa, 18 Januari 2011

TOEFL itu nggak penting!

Itu kata temen saya yang dapet kasus ini:
Dalam rangkaian seleksi masuk UGM, teman saya mengikuti tes TOEFL. Tes ini nantinya jika berhasil (nilainya lebih dari atau sama dengan 500, secara otomatis nilai bahasa Inggrisnya akan A tanpa harus mengikuti kuliah Inggris). Nah, teman saya mati-matian mengerjakan tes itu. Hasilnya adalah 497. Artinya dia harus ikut kuliah bahasa Inggris untuk bisa dapat A. Mengumpat-umpatlah dia. Nyaris aja, 1 nomor lagi benar, dia bisa melenggang bebas dengan jaminan A. Dia mengumpat lagi, "TOEFL itu nggak penting!"

Dari situlah saya berpikir.
Benarkah TOEFL itu tidak penting? Sebenarnya tujuan TOEFL itu apa? Semata-mata indikator kemampuan berbahasa seseorang? atau ada tujuan khusus dari si empunya bahasa Inggris?

Rabu, 29 Desember 2010

Perjuangan Heroik, Nggak dari Sepak Bola Saja

Garuda Pancasila Di Dadaku!
Bagi para pencinta sepak bola, saya maklumi jika Anda semua kecewa dengan performa TIMNAS kita saat semua sesi pertandingan final AFF Suzuki Cup 2010. Oke, saya paham. Karena saya sesaat setelah melihat pertandingannya, saya juga geram. Sama halnya dengan geramnya Anda semua. Namun, saya orangnya nggak begitu suka dengan sepak bola (sejak kecil sih). Sehingga saya pun sempat bisa berpikir jernih.

Buat apa kita geram, marah, kecewa? 
Toh, semuanya sudah berusaha bukan? TIMNAS, pastinya telah serta merta berjuang menguras keringat. Lalu, memang kondisi saat itu tidak bisa dipungkiri bahwa kita terlanjur larut dalam euforia kemenangan beberapa pertandingan sebelumnya dengan angka fantastis. Bayangkan, dengan Malaysia sempat 5-1!

Pertanyaan yang saya ajukan kepada Anda, lalu mengapa Anda geram? Kepada siapa geram Anda akan ditujukan? Kepada TIMNAS? Nggak mungkin, karena TIMNAS itu bangsa kita. Toh, kita nggak bisa menyalahkan mereka. Kita mungkin sempat mencaci, "Wah, harusnya tadi tu gini, harusnya gini," dan seterusnya.

Kamis, 30 September 2010

Petani Indonesia Masih Miskin, Siapa Peduli? (bag.2-selesai)



Separuh lebih orang miskin adalah petani (tapi kadang2 ada juga petani yang punya mobil bejibun :D). Kondisi ini diperparah dengan sempitnya lahan tanam dan statusnya sebagai buruh. Padahal jika dilihat dari kacamata profesi, pekerjaan ini berasal dari nenek moyang. Dilihat dari sumber daya manusia, seharusnya petani saat ini harus lebih profesional. Artinya, jika profesi ini turun-temurun, harusnya ada banyak perkembangan dan peningkatan dari kualitas dan kuantitas. Namun ada saja pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Jika SDM dan SDA pertanian sudah memadai, tetapi hasilnya masih rendah, pasti ada masalah.

Selasa, 28 September 2010

Petani Indonesia Masih Miskin, Siapa Peduli? (bag.1)

Dikutip dari kuliah Pancasila FT UGM, 21 September 2010. 
 Sumber gambar : antara-sumbar.com

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mencapai 5-6%. Angka tersebut merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Amerika saja, pertumbuhan ekonominya hanya berkisar 1 sampai 2 persen. Hal ini boleh jadi suatu awal yang baik untuk Indonesia ke depan.

Sabtu, 18 September 2010

Memahami Tingkah Laku Manusia

Kemarin, aku menonton film "3 Idiots" untuk kesekian kalinya. Menarik kemasannya. Penuh banyolan. Dikiranya adegan serius, eah malah ternyata plesetan, guyonan. 

Film ini buatan India. Dengan dibintangi Aamir Khan yang berperan sebagai Rancho. Itu awalnya, ternyata dia adalah Chotte, anak tukang kebun dari Keluarga Rancho. Bingung ya? Makanya puter sekarang filmnya. Hehe...

Nah, yang aku suka dengan film itu adalah banyaknya pesan-pesan untuk sistem pendidikan. Jadi, ada kritikan-kritikan pedas tentang bagaimana seorang guru seharusnya mengajar. Sebisa mungkin jangan menjadikan mesin atau robot yang harus mau kemana akan disetir. Tapi jadilah dirinya sendiri. Jadilah siswa itu sendiri. 

Masih banyak lagi pesan-pesan moral yang asyik dan enak untuk diikuti (apa karena di Indonesia, sistem pendidikannya memang seperti itu ya? Jadinya mendengar pesan-pesan itu langsung paham karena contohnya nyata di depan mata). 

Tetapi ada satu adegan yang cukup membuatku setuju juga. Aku pernah merasakannya, dan aku yakin pasti Anda juga pernah merasakannya. Adegannya adalah ketika mereka ujian tes sehabis mengurusi bapaknya Raju yang sakit. Setelah ujian selesai, pengumuman dikeluarkan. Ternyata Farhan dan Raju berada di peringkat bawah. Mereka mencari-cari nama Rancho tapi nggak ketemu. 

Akhirnya Farhan keluar dari kerumunan mahasiswa yang sedang melihat pengumuman itu dan berkata, "Hatiku remuk, bukan karena aku paling bawah, tapi karena temanku tidak lulus!"

Kemudian dia melihat si Chattur berteriak-teriak marah. Raju mendekati Farhan dan ikut duduk. Farhan bertanya, "Mengapa si Chattur marah-marah?"

Raju      : "Karena dia berada di peringkat dua."
Farhan : "Lalu, siapa yang pertama?"
Raju      : "Rancho."
Farhan : "Hah?"
 
Farhan terkejut. Dia bangkit berdiri dan berebutan untuk melihat pengumuman lagi. Benar, Rancho ada di urutan paling atas. Kemudian mereka kembali, dan sembari berjalan, mereka bergumam,
Kami memahami satu lagi tingkah laku manusia
Jika temanmu  gagal, kau akan merasa sedih!
Tapi jika temanmu menjadi yang terbaik.
Kau akan lebih sedih!
Haha, ungkapan itu ada benarnya. Aku pernah merasakannya. Memang, perkuliahan dan sekolah memberikan pelajaran-pelajaran informal yang harus disadari untuk bisa dimanajemen ke depannya. Seperti ungkapan itu, kita tahu bahwa kita harus mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Nah, caranya, kita coba lihat apa yang sudah kita dapat, prestasi yang telah kita dan teman kita raih. Setidaknya, perhatikan apa kekurangan dia yang kita tidak punya itu. Maka, rasa syukur akan berkembang dengan sendirinya. Semakin merenungkan itu semua, maka lidah dan mulut ini akan dengan entengnya mengucap, "Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar!"

---