Selasa, 07 Mei 2013

Susahnya Membangun Komitmen


Komitmen
Komitmen itu ibarat suatu arsitektorat kehidupan, maka komitmen membutuhkan perancangan yang matang mulai dari permulaan hingga perawatannya. Komitmen itu dibangun, bukan asal hinggap dan pergi. Komitmen itu dibangun di atas suatu pondasi yang kokoh. Kemudian, secara kontinyu dan bertahap, komitmen didirikan dengan memancangkan tiang-tiangnya. Dilengkapi dengan dinding penguat dari segala bentuk rasa suka dan duka. Baru setelah itu, pematutan atap dengan konstruksi yang ada di bawahnya. Harus terukur, berat dan kualitas atapnya. Harapannya, bangunan ini akan kuat dan tetap tegar walau dibantai seribu kali oleh badai, didera oleh seribu kali gempa, diliput segala banjir, dan tetap terlindung dari segala kobaran api yang membakar segenap hati. Itulah komitmen.

Sumber: http://suzannita.files.wordpress.com/2010/11/komitmen.jpg

Komitmen kadang mudah dibangun
Komitmen kadang mudah diucapkan tetapi dalam pelaksanaannya, banyak yang hangat-hangat tahi ayam. Komitmen, dalam kasus ini gampang untuk menggambarkan hubungan antar manusia, hubungan antara seorang lelaki dengan perempuan. Banyak orang bilang, tentang cinta. Cinta monyet, cinta yang diobral, dan sebagainya. Bagiku, cinta itu satu kata sederhana saja. Ada yang lebih agung dari sekedar bilang, “Aku cinta kamu”. Yaitu, “Aku berkomitmen sama kamu”.

Aku komitmen denganmu
Gampang terucap, susah terungkap. Suatu ketika, aku bercengkerama dengan seorang kawan. Dia mengaku sudah mendekat dengan salah seorang yang sudah memikatnya. Dia mengaku sudah berbicara dengannya, bersepaham dengannya, berkomitmen padanya. Bukan suatu hal yang luar biasa memang. Bukankah hidup khalayak ramai seperti itu?

Komitmen versi saya, suatu cita-cita yang masih asing
Komitmen dalam hal ini adalah komitmen berhubungan dengan seseorang yang kepadanya kamu menaruh hati. Saat ini, termasuk kawan saya tadi, telah salah kaprah, memasung makna komitmen dan menggantinya dengan caranya sendiri. Komitmen dijadikan kambing hitam. Hina.

Saya bukanlah orang yang cukup paham dengan akidah dan akhlak, namun saya mempunyai suatu keyakinan dalam hati, keyakinan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Bismillah.

Komitmen tak perlu dengan cara yang biasa layaknya orang pacaran. Dalam pandangan Islam yang saya pegang, tak ada kata pacaran di dalamnya. Tak ada bermesraan sebelum menikah syar’i. Tak ada pacaran islami, tak ada berkhalwat pranikah yang halal. Berkhalwat sederhananya adalah berduaan lain jenis kelamin tanpa mahram di tempat yang sepi. Dengan alasan apapun, banyak pemuda dan pemudi yang berlaku seperti ini. Saya belum juga mengerti, bagaimana bisa seorang muslim dan muslimah, yang sedewasa ini, sudah paham tentang arti kesucian diri, masih saja melakukannya.

Saya sok suci?
Bukan, bukan begitu maksud saya. Agaknya untuk saat ini menyindir secara fisik baik bicara maupun perbuatan sudah tak mempan lagi. Justru ‘memperkuat’ keyakinan kawan-kawan untuk berbuat demikian. Maka, sesuai sunnah Rasul, hadapilah dengan hati. Menyindir dengan hati, sepertinya lebih bermakna. Karena secara sadar atau tidak, ucapan dalam hati akan membekas dalam diri ini. Sebagai kewajiban sesame muslim adalah saling mengingatkan untuk tidak bermaksiat dan mendekati diri dari zina.

Nasib komitmen yang dikorbankan
Kasihan memang. Makna komitmen dikambing hitamkan, sebagai dalih “Aku sama dia sudah komitmen kok, satu pandangan, maka terserah dong apa yang kami lakukan. Maka terserah kata orang tentang kami. Toh, yang ngerti isi hati kami sesungguhnya hanya Allah yang Maha Mengetahui.” Naudzublillah, sampai membawa-bawa nama Allah, untuk ‘menghalalkan’ pacaran itu.

“Serius, kami gak melakukan apa-apa!”
Sampai sesewot itu, bisa jadi diucapkan. Apa yang tidak kalian lakukan? Kalian tidak berduaan, tidak bersentuhan, tidak bermesraan, tidak berkata-kata syahdu? Serius? Itu pertanyaan dasar yang akan saya ajukan jika kawan-kawan saya menolak sindiran saya.

Saya dianggap tidak dewasa?
Saya hanya sedang mengamati dan belajar. Bagaimana komitmen yang disalahgunakan, sehingga saya mengerti arti komitmen hidup dan cinta sesungguhnya. Tentu dengan aturan islami, yang dimulai dengan khitbah (melamar) sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Pada waktu rentang antara khitbah dan pernikahan itulah, masa taaruf (perkenalan) diperbolehkan. Kedua pihak boleh mencari tahu hal-hal yang membuat keduanya semakin ingin menikah. Tentu dalam masa ini pun tetap didampingi oleh mahram. Baru setelah semuanya tetap sepakat hingga tanggal pernikahan, maka segerakanlah prosesi akad itu.

“Tapi pacaran, PDKT, dan sebagainya itu buat mengatasi masalah saat nikah lho.”
Banyak statistik justru menunjukkan pacaran itu membutakan diri akan keburukan-keburukan masing-masing pihak, sehingga baru ketahuan setelah menikah dan serumah. Munculah percekcokan rumah tangga yang tidak harmonis.

“Lalu, apakah taaruf yang singkat mampu menjamin keberlangsungan hubungan?”
Permasalahan dalam rumah tangga itu sangat wajar, sebagai bumbu nikmatnya bersuami istri. Seorang muslim dan muslimah ketika memutuskan untuk menikah, secara penuh akan mendasarkan hubungan mereka karena Allah semata, sehingga permasalahan rumah tangga akan diputuskan dengan cara tawakal kepada Allah. Keduanya saling mengingatkan akan dasar-dasar pelaksanaan rumah tangga yang sudah dituliskan dalam Al-Quran dan hadits.

“Apakah hanya itu, masalah langsung kelar?”
Ya bukan begitu juga. Artinya, kalau dimaknai dengan firman Allah, maka penyelesaian akan mudah karena dilandasi ketenangan dan ketakwaan hati kepadaNya. Bukan karena harta, tahta, dan dunia.

Jadi, jangan pernah mengulangi menyalahgunakan komitmen!

Minggu, 03 Maret 2013

Adil

Heran.
Banyak orang bilang, "Wah Tuhan itu gak adil. Masak aku dapet sengsara terus?"



Konyol,
aku bilang. Kenapa? Coba lihat deh, di luar sana, bejibun banget orang-orang yang tidak lebih baik kondisinya dari kita. Banyak orang kelaparan karena tak ada makanan, sedangkan kamu bermewah-mewah makan di KFC atau Solaria. Banyak orang di luar sana kedinginan karena kehujanan, sedangkan kamu hidup di apartemen mewah yang hangat.

Tapi,
gara-gara satu permasalahan sepele. Ada satu hal yang orang lain lebih baik dari kamu, lalu kamu merasa iri dan bilang, Tuhan tidak adil. Apanya? Coba tengok diri kamu, wajahmu, badanmu. Tampan, pas-pasan, gendut atau kerempeng. Kamu gak suka, tapi itu kamu sobat. Itu badan kamu, diri kamu, rezekimu. Mesti harus disyukuri.

Aku kadang termenung,
di depan cermin gedhe yang nempel di lemari dalam kamarku. Bukan sok ngeksis di depan kaca, bukan sok bergaya atau kagum dengan perawakan. Aku kurus, dekil, tapi itu aku. Jam tangan hitamku yang setiap hari aku pakai, selalu ku kunci pada slot terujung paling pangkal. Itu pun masih saja longgar. Aku kurus. But, itu aku.

Apa yang Allah kasih ke kita,
itu adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Kalau mau capek seumur hidup, hitung aja segala kenikmatan yang Allah beri ke kita. Mulai dari fisik deh, ujung rambut sampe ujung kuku kaki. Itu dah buaaanyak nyak banget. Belum lagi secara ruhani, yang terjalin tali silaturahmi dengan sesama. Rasa nyaman dan aman beraktivitas itu termasuk kenikmatan dari Allah lho. Keren gak?

Sekarang dah ngerti kan,
kalau Allah itu Maha Adil. Percaya deh, hidup-mati-rezeki itu hanya Allah yang tahu dan mengaturnya bagi makhluk-makhluknya.

Konyol sih,
suatu ketika main ke kebun binatang. Si ular sanca dalam kandangnya diberi makan beberapa buah tikus marmut putih yang lucu-lucu. Seketika ada orang dewasa bilang, "Eh kasihan tau, tikus selucu itu untuk dimakan ular. Jahat banget e. Gak adil memang hidup ini." Weitss.. tunggu dulu sob. Itu adalah bagian rantai makanan yang mesti terjaga. Karena goyah sedikit, bakalan berpengaruh bagi semuanya.

Misal saja kamu.
Kamu makan ayam setiap hari, makan telurnya setiap hari. Apa gak kasihan dengan si ayam, gara-gara telurnya kamu makan. Enggak juga kan? Ya, karena itu bagian dari perputaran energi kehidupan di dunia. Allah sudah mengaturnya untuk itu. Tenang saja.

Rezeki gak akan pergi kemana.
Ngomong-ngomong tentang rezeki, memang benar banget. Rezeki untukmu itu gak akan pernah pergi dari kamu. Entah bagaimanapun manusia menghalanginya, kalau sudah digariskan ya akan tetap menjadi milikmu. Termasuk jodoh, hahaha... (karena jodoh itu termasuk rezeki :p)

Aku pernah bercerita ke kamu mungkin,
di postingan-postingan yang lalu. Suatu hari, Tere Liye, sang novelis terkemuka, pernah bilang dalam satu acara bedah buku di suatu sekolah di Yogyakarta. Dia bilang bahwa, tenang saja. Rezeki itu gak akan lari kemana. Berkah itu gak mungkin salah alamat.

Dia bercerita,
bahwa saat-saat pemakaman Gus Dur, diriwayatkan terjadi hujan yang cukup deras di daerah desa tersebut. Banyak orang mengira, Gus Dur mendapati rahmat dari Allah lewat hujan yang mengguyur, menyejukkan bumi, mendinginkan siksa kubur. Banyak orang yang terkagum-kagum dengannya, dengan Gus Dur. Mereka bilang, Gus Dur memang orang yang alim.

Tetapi, sempatkah terpikirkan bahwa
hujan deras itu, sebenernya ditujukan oleh Allah untuk seseorang yang juga meninggal di desa seberang? Siapa tau kan? Bisa jadi, orang di desa seberang justru lebih alim dari Gus Dur yang alim itu? Siapa yang tahu.

Masih ingat dengan kisah Ketika Cinta Bertasbih,
garapannya novelis Habiburrahman El-Shirazy? Anna Althafunnisa tetap menjadi istri bagi Khoirul Azzam walaupun sempat bersama dengan Furqon. Setiap peristiwa itu terjadi sah-sah saja, tidak ada keburukan termasuk peristiwa cerainya Furqon dengan Anna. Bukankah, itu jelas menunjukkan rezeki itu gak akan lari kemana, gak akan salah alamat? Meskipun pada perjalanannya, harus melewati onak duri, malang melintang, melewati jalan dengan memutar rute perjalanan, sehingga yang seharusnya dapat ditempuh 2 jam bisa menjadi 5-6 jam?

Ingat sobat, kawan-kawanku semua.
Banyak hal yang terjadi di muka bumi ini. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan, yang mungkin kamu anggap buruk atau baik. Tapi tentunya, semuanya itu akan indah pada waktunya seperti banyak orang bilang. Semuanya juga akan tiba juga, segala rezeki yang beralamatkan dirimu. Cepat atau lambat itu tergantung cara kita menjemputnya!

Ganbatte,
awal tahun!

Minggu, 20 Januari 2013

Habibie-ku

Habibie
ialah orang Indonesia yang paling aku kagumi selama ini. Tak pernah ada orang yang seperti dia. Presiden kapanpun di Indonesia tak ada yang sebagus dia, dalam pandanganku. Sangat tidak adil, karena aku hanya menilai sepihak. Aku tak pernah bertemu dengan presiden-presiden lainnya. Bertatap muka. Berbincang-bincang. Tersenyum dan tertawa bersama. Hanya dia yang pernah mengisi sejarah hidupku. Bahkan dia berpesan kepadaku, khusus.


Profesor
satu-satunya yang pernah menghampiriku. Menanyakan kabarku, kabar ibu bapakku. Menanyakan apa yang sudah aku lakukan. Riset apa yang sudah aku lakukan. Lalu aku ceritakan, dari awal hingga akhir. Profesor Habibie mendengarkan dengan seksama. Mencoba mengerti apa risetku. Dan beliau menanyakan beberapa hal. Beliau paham. Aku senang bukan main. 

Apalagi
ketika Profesor Habibie diberitahu kalau risetku ini akan aku bawa ke Amerika, tepatnya ke Los Angeles. Beliau tertawa lebar. Seketika beliau bersemangat, menasihatiku dengan motivasi luar biasa. Termasuk nasionalisme seorang ilmuwan. Dimana seorang ilmuwan harus cinta kepada bangsanya. Habibie mengalah, lebih memilih 'apa yang dia cintai' daripada 'apa yang dia sukai'. Profesor Habibie menyukai riset aeronautika - pesawat terbang dan konstruksi ringan. Tetapi dia cinta kepada bangsa Indonesia. Sehingga dia memilih pulang ke Indonesia setelah bekal ilmunya cukup untuk diaplikasikan di Indonesia. Mulia banget. So sweet.


Pesan itu
menjadi cambukan semangatku saat ini. Itulah mengapa aku harus tetap menjadi orang digaris depan dalam berkarya nyata.

Habibie
secara harfiah, berarti cintaku. Semoga suatu ketika aku bisa bertemu kepada Profesor Habibie lagi. Kalau sempat, akan aku beritahu kepadanya bahwa aku akan mengikuti jejak langkahnya. Dan aku akan menjadi lebih baik darinya.

#terharu setelah melihat sejarah Habibie-Ainun.
#ingin membangun keluarga yang tak kalah romantisnya Habibie-Ainun.
#nowplaying Cinta Sejati, Bunga Citra Lestari - OST. Habibie Ainun

Selasa, 15 Januari 2013

Dominasi Manusia

Pertama aku mendengar
istilah ini, terasa asing di kupingku. Aneh. Dominasi Manusia. Memangnya kayak apa wujudnya di hidup sehari-hari? Itu pertanyaan waktu masih SMA. Suatu ketika aku mendapat sms dari sahabat dekat. Dia mengirim sebaris doa yang lumayan panjang. Hehe, seperti layaknya sms-sms yang lain, biasanya kalau aku udah baca, ya sudah. Tinggal.

Tapi beberapa hari di semester ini
aku menjadi sedikit mengerti. Menjadi sedikit paham, mungkin inilah yang disebut sebagai dominasi manusia. Menurut pikiranku, dominasi itu adalah saat dimana ada keadaan yang hanya dipenuhi oleh satu unsur tertentu. Misalnya, "Acara itu didominasi oleh kelompok dari desa A", maka ada satu unsur yang menduduki atmosfer di acara tersebut.

Lalu dominasi manusia?
Yoi mas bro mbak sis, dominasi manusia berarti dalam hidup kita, hati kita, terlalu banyak pikiran dan perasaan terhadap orang lain. Sederhana kelihatannya. Tapi bahaya jika dilanjutkan. Secara fitrah, dalam hati setiap manusia haruslah didominasi rasa rindu kepada Tuhannya, tanpa terjebak rasa jadi sok-sokan sudah taqwa.

Dunia ini,
isinya manusia dan manusia. Jadi wajar bila seriiiing beud hati dan pikiran kita didominasi oleh manusia. Entah apapun sebabnya dan kasusnya. Bisa tentang pekerjaan, relasi, hingga percintaan. Contoh konkrit dominasi manusia nih ya, kalau ada orang pacaran, setiap harinya sms pacarnya. Pagi siang sore. SMS? Kagak lah yaw, hari gini telpon dong. Pulsa murah2, banyak gratisannya. Sekali SMS dapet gratis pulsa telpon seharian #eh.

Pertanyaan sang pacar
kadang gak penting, gak to the point, sok dekat, sok perhatian. Dia hubungi pacarnya, bilang "Dah makan belum, ay?", "Yang, lagi dimana ini?", "Cintaku, sehat kan?", "Kapan kita bisa hang out ya?", dsb. What the.... Bayangkan. Sampai tanya-nya gak penting. Ujung-ujungnya ngegombal kagak jelas. (Gombalannya sih jelas, tapi waktunya gak pas).

"Ay, kamu tau gak bedanya kamu sama Honda?"
"Emh, apa ya? Emang apaan?" (muka sok polos)
"Gini, kalau Honda itu OneHeart, kalau kamu myheart!"
Buset dah.

Tapi, apakah si penulis blog ini juga pernah didominasi manusia? 
Hahaha, pertanyaan bodoh tapi jenius. Ya sudah laah, gue juga manusia gitu. But, I'm different with you. I realize that I was in wrong way. Yoi, aku tetep pernah didominasi manusia dalam hidupku, dalam pikiran serta hatiku. Tapi ya itu tadi, aku menyadarinya! Dan aku sadari, jika ini dibiarkan, maka akan mampus hidup ku. Karena serasa diperbudak oleh perasaan fatamorgana ini. Orang bilang sih, galau.

Taraaa, dan aku menemukan serangkaian penangkal kegalauan!
Boleh banget di coba (dan kayaknya harus deh Yan, buat kamu). Pertama dengan doa, kedua mantapkan hati, ketiga perawatan tubuh (--> what? eh serius!)

Pertama, doa.
Banyak sekali lho doa yang bisa dibaca, diucapkan tiap pagi sore. Buka deh, al ma'tsurat.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan abu Dawud, dari Abi Sa’aid Al_Khudri ra, berkata : “Suatu hari Rasulullah masuk masjid, tiba-tiba beliau berkata kepada Abu Umamah ra : mengapa kamu duduk-duduk di masjid di luar waktu sholat? Abu Umamah menjawab : karena kagalauan yang melanda hatiku dan hutang-hutangku, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw bersabda lagi : Bukankah aku telah mengajarimu beberapa bacaan, bila kau baca niscaya Allah akan menghilangkan rasa galau dari dirimu dan melunasi hutang-hutangmu?” Abu Umamah berkata : “betul Rasulullah. “
Rasulullah pun bersabda : “ketika pagi dan sore hari, ucapkanlah doa berikut : Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan. Wa a’udzubika minal a’jzi wal kasal. Wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min gholabatid daini wa qahrii rijaal…”
Kemudian Abu Umamah membaca doa tersebut, dan Allah menghilangkan rasa galau dari dirinya. (HR.Abu Dawud)
Yups, ada doa yang aku cetak tebal di atas. 
Kurang lebih maknanya adalah ini: 
"Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari lilitan hutang dan dominasi manusia."

Kedua, mantapkan hati.
Biasanya galau, gelisah itu adalah tentang cinta.
"Kenapa melamun bro?"
"Galau."
(biasanya ogah ngomong kalau pas galau)
"Kenapa? Diputusin pacar? Atau pacar jalan sama orang lain?"
(menganggukkan kepala).

Buset dah, kalau udah kayak gini, dah parah bro dominasi manusia di hati kamu. Aku dikasih tips pemantapan hati bro. Mesti kamu juga pernah denger. "Perempuan yang baik HANYA untuk laki-laki yang baik pula."
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” Q.S An Nuur:26

Yakinlah, 
kalau memang ada sosok yang kamu pandang baik, tapi ternyata dikemudian hari berpaling dari kebaikan, kamu harus sabar. Dua kemungkinan, dia khilaf atau memang sudah niatan mau berubah dari kebaikan. Menjaga diri memang susah, sangat amat susah. Apalagi ketika manusia dituntut-tuntut harus supel dan sebagainya. Well that's not the main problem, bro. Yang penting adalah ketika dia berpaling dan sudah niatan, berarti dia tidak cocok untukmu. Dia tidak baik untukmu. Kamu pantas untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia. Oke?

Ketiga, aksi nyata dalam perawatan tubuh.
Relaksasi itu ada benarnya lho. Main ke spa atau sauna. Secara medis, memang katanya bisa menyegarkan kulit dan fisik tubuh. Alhasil, akan ngefek juga ke pikiran, perasaan, dan hati. Akan menjadi tenang, pikiran plong. Segar.

Kalau gak mau mahal yaudah, bangun pagi-pagi. Shalat Shubuh, dan doa minta perlindungan Allah dari dominasi manusia, langsung mandi. Dingin memang, tapi setelah itu. Segaaar.

Itu obrolan tentang dominasi manusia yang ingin aku bagi ke kamu. Kalau kamu setuju, bagikan ini ke orang lain. Kalau nggak, silakan protes di kolom komentar. Wkwkwk...

Sumber: 
Kakak-ku, yang mau ndengerin ocehanku via sms atau langsung.

Minggu, 13 Januari 2013

Aku Benci Dosen! (2)

Sore ini
aku membuka-buka jejaring sosial. Dari sekian banyak postingan orang, ada satu yang menggelitik dan mengerikan. Aku tak pernah tau ada angin apa yang menerpa hati si penulis. Sehingga tega sekali menuliskan hal itu. Sangat mengintimidasi orang yang disebut-sebut oleh sang penulis. Haha, itu cerita orang kawan. Aku sih cuma tersenyum membacanya. Andai aku jadi orang yang diintimidasi, andai aku jadi orang yang mengintimidasi. Ah entahlah.
Maaf banget, semua tulisanku di blog ini abstrak banget yak. Tak pernah aku tulis masalah yang gamblang di setiap tulisan kontroversialku... :D hanya untuk introspeksi dan bacaan ringan aja.
Aku jadi teringat
akan postinganku di blog ini beberapa minggu yang lalu, tentang 'Aku Benci Dosen'. Lucu memang. Waktu itu, aku menulis catatan hati itu pada saat memuncaknya ketidakpuasanku dengan pihak-pihak yang 'menjegal' keberangkatanku di luar negeri, waktu itu aku mau berangkat ke Amerika Serikat.

Kesal, membuncah
naik pitam hingga ke ubun-ubun, halah lebay. Sangat amat kesal sehingga tertulislah emosiku pada postingan 'Trust me, it works'. Bahkan dengan atap rumah yang sama, bisa jadi satu keluarga itu pecah. Saling tidak mempercayai, saling jegal menjegal, bacok membacok, hunus menghunus, dan parahnya, yang terkena bacokan, hunusan, jegalan itu malah tamu rumah. Apa-apaan?

Aku benci dosen lagi.
Somehow obvious, isn't it? :D

Aku kembali tidak suka dengan profesi dosen,
karena selama ini aku merasa ada beberapa dosen, beberapa saja, yang tetap bermain curang. Dosen adalah sosok yang menjadi panutan dan apa yang diucapkannya akan dikenang oleh muridnya sepanjang hidupnya. Apalagi ucapan yang dikeluarkannya bersamaan dengan momen yang 'cantik'.  Pasti akan terngiang.

Dan benar saja, tak selang sebulan.
dosen itu mengatakan sesuatu lagi yang berbeda dengan apa yang diucapkan dulu. Inkonsistensi. Bertolak belakang dengan apa yang diujarkan kepada mahasiswa pada awalnya.

"Lupakan saja, jangan pernah membicarakan ini lagi." Tak selang sebulan, dosen sendiri yang mengungkit dan mengangkat hot topic itu.

"Don't do that, prohibited!", tapi dengan segera setelah mengungkit masalah lagi, dibilang ini itu, dengan sasaran perkataan yang sangat menyinggung. Intimidasi. Intimidasi? Is that prohibited too? Pada saat yang tepat pula. Dimana mahasiswa sedang sibuk2nya ujian.

Aku benci dosen.
Satu kalimat, yang pasti akan aku kenang terus. Konsistensi pada diriku akan aku jaga. Penting, untuk menjaga martabat dosen masa depan.
Aku, ketika jadi dosen nantinya, harus menghormati mahasiswaku. Karena merekalah masa depanku. Merekalah tim risetku di masa depan. Jangan pernah membandingkan apa yang kuperoleh dengan apa yang mereka akan peroleh. Beda. Mereka harus lebih bisa, lebih hebat dari aku. Ingat, setiap detiknya, perkembangan IPTEK itu berlipat ganda layaknya eksponensial.
#introspeksi plis. Stay professional!
#and keep smile my friends :'D, I see that you're better than them.