Senin, 05 November 2018

[1] Mengapa tidak

Disclaimer: Judul diakhiri tanpa tanda titik, koma, tanya, atau apapun. Sengaja, judul dibuat multitafsir agar luwes bisa saya kemudikan kemanapun arah pembicaraan ini. Namun ada penomoran judul yang itu menandakan tulisan ini berlanjut di jilid yang lain. Tulisan ini juga terinspirasi dari mas Aji.

Tepat tanggal 2 Oktober 2018, saya berangkat ke Negeri Belanda. Saya adalah tuna media sosial kekinian kecuali WhatsApp. Risiko yang sudah saya sadari sejak sekitar tahun 2015 yang lalu ketika meninggalkan Facebook dan menutup akun saya secara total. Tak ada penyesalan, toh dulu yang membuatkan akun Facebook juga bukan saya. Dulu saya juga punya akun twitter, tapi juga bukan saya yang mau dan yang membuatkan. Ada beberapa akun yang lain, tapi lagi-lagi bukan saya yang bikin. Mereka adalah teman-teman saya, teman sekolah dan kampus, yang gemas karena saya anti medsos. Jika ada orang yang disebut ansos--antisosial, maka ternyata ada juga anmedsos--anti media sosial, ialah saya.

Kembali ke topik Belanda.
Resiko saya alami dari sebelum keberangkatan: saya buta dengan informasi, saat itu. But, that's fine. Saya masih bisa kontak beberapa teman saya, seperti Reza yang sudah menetap di Belanda dan sabar membantu saya menerangkan apapun, termasuk sekadar "bagaimana cara naik dan memilih kereta di Belanda".

Saya baru mendarat di Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam tanggal 3 Oktober, pagi, menggunakan Garuda Indonesia. Sebelumnya saya diberi tahu Reza untuk naik kereta NS dari Schiphol menuju Enschede, direct intercity.

Syahdan. 
Ponsel saya mati sejak dari pesawat. Dan di stasiun Shciphol saya tidak menemukan tempat colokan listrik. Padahal saya ingin bertanya ke Reza, karena belum tau dimana beli tiket kereta, dan seterusnya.

Inisiatif survival muncul.
Saya melihat lalu lalang orang-orang, akhirnya menuju ke loket NS untuk beli tiket. Tiket kereta pertama yang terbeli 24 euro. Lalu saya melihat-lihat lagi bagaimana orang menggunakan tiketnya, ternyata ada sistem check-in dan check-out pada sebuah mesin kecil yang banyak terpasang di stasiun. Kenapa saya gak nanya saja ke petugasnya? Gak ada inisiatif saat itu. Entah. Akhirnya, Saya masuk ke peron sesuai jurusan, yaitu menuju Enschede.

Begitu singkat cerita, saya sudah settled di Enschede untuk saat ini, 4 November 2018. Alhamdulillah.

Baru saja menikmati ritme hidup di Enschede, mas Aji dan mas Aul, senior di kampus, sesama orang Indonesia, mendorong-ndorong saya untuk maju ke Pemilihan Ketua PPIE--Persatuan Pelajar Indonesia Enschede, per akhir tahun 2018 ini.

Hemm, apakah tidak cukup meragukan, saya kok diminta ikutan Pemilu Ketua PPIE? Bukankah seharusnya saya melihat jejak rekamnya dulu bagaimana PPIE di lapangannya, baru kemudian memutuskan untuk memperbaiki atau meneruskan sistemnya?

Saya muntir. Tidak mau.
Namun, gigih sekali rupanya mereka ini. Ditambah beberapa teman-teman yang lain yang pada akhirnya mendukung saya. Saya tidak tahu persis kehidupan PPIE, namun sudah diminta ikutan nyalon. Yassalam.

Ada perdebatan dalam diri saya: apa sih yang saya cari di Enschede sini? Apakah saya mau fokus menyusun proposal dan artikel jurnal saya? Itu jelas yang utama. Selesaikan saja dulu yang utama. 

Kalau jadi pelajar biasa, apakah kemudian saya tidak bisa bersosialisasi dengan warga/pelajar Indonesia yang lain, yang mana mereka tergabung dengan PPIE? Tidak mungkin tidak kan?

Jadi buat apa nyalon ketua? PPIE tanpa saya juga akan jalan juga. Tetap akan ada juga yang nyalon jadi ketua dan seperangkat pengurusnya. Fokus saja lah, kalau mau kegiatan ekstra, mending ikut pengajian-pengajian kelompok muslim saja yang ada. Atau kalau ada kegiatan yang diadakan PPIE ya gabung aja sebagai peserta.

Akan tetapi,
kemudian saya berpikir. PPIE tidak hanya berisi kegiatan-kegiatan untuk para anggotanya. PPIE juga bertanggung jawab dengan nasib para anggotanya, bahkan ikut berpartisipasi pada nasib WNI di Enschede sini. Setidaknya, sebagai sesama bangsa Indonesia yang minoritas tinggal di negeri orang, legitimasi pada satu badan organisasi legal adalah bentuk manifestasi perlindungan bagi masing-masing anggota. Katakanlah, jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, maka jika kita sudah terakui terlibat dalam PPIE, kita akan dibantu dan dilindungi. 

PPIE adalah sebuah cabang, bagian dari bangsa Indonesia, yang jauhnya 14.000 km dari tanah air, tapi rasa cinta dan bangga terhadap negerinya tak pernah berkurang.

Di situ, saya kembali berpikir untuk menimbang dukungan para teman-teman saya, untuk bisa lebih maksimal bermanfaat walaupun saya merasa belum terbantu PPIE saat kedatangan saya di Enschede (karena mungkin anti medsos). Maka, untuk mencalonkan diri menjadi bagian yang bermanfaat di PPIE, mengapa tidak...

Rabu, 02 Mei 2018

Ketika matahari sepenggalah naik

Dulu saya pikir, sholat Dhuha dan membaca dzikir itu pembuka pintu rezeki, dan dulu juga saya pikir, rezeki itu berwujud uang, gaji yang besar, banyak order, banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan di bank, punya banyak aset, seperti: kendaraan, properti di sana-sini, hingga pada intinya: Harta.

Setelah mencari tahu lebih dalam apa makna rezeki dalam Islam, ternyata saya salah besar selama ini.


Ternyata, langkah kaki yang dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rezeki. Karena dengan hadir di dalamnya, mendengarkan nasihat dan fadhilah (keutamaan) menjadikan diri menjadi tahu tentang agama ini.

Langkah kaki yang dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid, adalah rezeki. Sebab tidak banyak, yang kaki dan hati ini bisa sekonyong-konyong bergerak melangkah ke masjid ketika adzan berkumandang.

Hati yang Allah jaga jauh dari iri, dengki, dan kebencian, adalah rezeki. Sebab semua penyakit hati itu merusak segalanya, termasuk menciptakan suasana hidup yang tidak tenang.

Punya teman-teman yang sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rezeki. Sebab, hidup menjadi lebih baik. Seumpama mereka masuk surga dahulu, sedang diri ini belum, maka Allah membolehkan mereka untuk menjemput kita. "Seseorang bersama dengan yang dicintainya." [1]

Saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga rezeki. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, angkuh bahkan lupa diri.

Punya orang tua yang sakit-sakitan,ternyata itu adalah rezeki, karena merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila kita tulus ikhlas mengurusnya.

Tubuh yang sehat, adalah rezeki. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rezeki karena sakit adalah penggugur dosa.

Dan mungkin akan ada jutaan list lainnya bentuk-bentuk rezeki yang kita tidak sadari. Suami, istri, dan anak-anak sehat itu rezeki, anak-anak Anda sekolahnya lancar itu rezeki, hidup rukun sama tetangga itu rezeki.

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, padahal begitu banyak hak Allah yang belum mampu atau tidak kita tunaikan. Barangkali itu adalah hukuman bagi kita, istidroj.



 ﻭَﻣَﺎ ٱﻟْﺤَﻴَﻮٰﺓُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎٓ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ 
"... Dan kehidupan dunia ini tidak lain 
hanyalah kesenangan yang menipu."
(Al-Hadid - 57:20)


*disadur oleh Muhammad Arifin, via sebuah WA Group. 2018.

Rabu, 18 April 2018

Tentang Kehormatan

"Seseorang dihormati karena dua hal, yaitu karena akhlak atau karena takut."
Karena akhlak baik, 
penghormatan yg diberikan bersifat tulus. From the deepest part of the heart. Kita kasih senyum tulus kepada orang lain yang kita temui dari awal hari hingga tutupnya kelopak mata, dan kita beri yang terbaik bagi mereka dengan sebaik-baik perbuatan dan sikap kita, maka bersiaplah mendapatkan hal yang sama. Hati menjadi tenang, aman, dan tenteram. Kita dikelilingi orang-orang yang baik kepada kita. Bersyukurlah.

Kalau karena takut, 

penghormatannya dusta. Banyak orang tersenyum di dunia ini bukan karena salut dan takjub pada akhlak baik seseorang, melainkan karena takut padanya. Mengapa? Ia memberi senyum pada seseorang karena malas mendapatkan keburukan dari orang tersebut. Sehingga senyumannya hanya dari sedangkal bibir, bukan sedalam hati. Jika kita menjadi seseorang tersebut, yang diberi senyum karena takut akan keburukan kita, maka bertaubat dan berubahlah!

Which one do you prefer?

Kamis, 29 Maret 2018

Before you feel pressure, watch this!

Saya mendapatkan kiriman video 
yang cukup menggugah pikiran dari dosen saya melalui WAG (WhatsApp Group). Kemudian saya cari video aslinya di Youtube, untuk mendapat versi HD-nya. Berikut ini video yang saya maksud:

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=6S9E0MVteEc

Lalu saya menjadi teringat kata Ulama
bahwa masing-masing dari kita memang sudah punya jatah hidup yang sudah ditentukan semenjak ruh kita ditiupkan ke janin ibu. Itu pun sudah sepaket dengan segenap timeline-nya, entah tentang rezeki, tentang jodoh, tentang nasib dan lain-lain.

😒 Wah kalau gitu,
berarti kita hidup mending let it flow aja dong. Kan semua sudah diplotkan gitu? 

😉 Nope at all. Tetap menjadi kewajiban kita untuk berusaha. Sebab yang dinilai bukanlah hasil, melainkan proses.

😒 Trus kalau gitu pula,
kita bebas sesuka hati berbuat apapun? Asal kita-nya untung? 

😉 Nope at all. Tetap pula menjadi kewajiban kita untuk memilih usaha yang baik-baik saja. 

Usaha yang baik dan menghasilkan yang baik. Bahkan kalaupun harus berhadapan dengan yang buruk-buruk (tidak ada pilihan yang baik), maka pilih yang lebih ringan keburukannya dari pilihan buruk-buruk itu.

But Why?
Sebab, selain yang dinilai itu adalah proses, yang lebih penting lagi adalah bagian akhirnya. Lebih jelasnya, bagian akhir dari hidup kita. Apakah hidup kita diakhiri dengan perbuatan baik atau buruk, itu jelas akan menjadi poin paling penting.

Tapi kita kan gak tau, umur sampe kapan, mati akan kapan?
Yes, itulah alasan kenapa kita menjadi harus terus menerus berbuat baik, karena kita tak pernah tau batas timeline kita akan sampai kapan. Hehehe...

#disclaimer: jangan jadikan video itu bertajuk "Semua akan indah pada waktunya" lalu itu menjadi alasan kita bermalas-malasan untuk menyelesaikan skripsian dan kuliah. Hehe...