Jumat, 09 Agustus 2019

Layanan Kantor Samsat Sleman - Agustus 2019

Bulan Agustus ini, saya memperpanjang STNK 5 tahunan di Samsat Sleman. Seperti saat mengurus surat sehat di RSUD Sleman atau SKCK di Polres Sleman, saya bermaksud untuk menuliskan pengalaman dan alur layanan di Samsat Sleman, yang terletak di Jalan Magelang, setelah Pasar Sleman - kalau dari arah Kota Yogyakarta. Namun, ternyata sudah ada yang mengulasnya dengan jelas di blog sapacerita. Jadi, bagi Anda yang pengin tahu alurnya, biar tidak terlalu bingung, cek aja di blog sapacerita itu. Walaupun begitu, jaman sekarang ini, layanan-layanan di instansi-instansi pemerintah sudah semakin jelas dan tertata. Saya datang ke Samsat tidak tahu menahu pada awalnya tentang alur perpanjangan STNK, namun melihat khalayak yang juga mengurus hal yang sama di sana, jadinya cepet ngertinya. Belum lagi sama petugas polisi nya juga sudah diarahkan dengan jelas.

Well, karena sudah dijelaskan sapacerita, maka tidak akan saya jiplak disini karena alurnya masih sama untuk Agustus 2019 ini. Di sini, saya akan memposting tambahannya saja, yaitu Jenis Pelayanan di Kantor Samsat Sleman, per Agustus 2019.





Semoga bermanfaat.

Selasa, 16 April 2019

Jejak ekologis: ada dosa yang tidak kita ketahui

Suatu sore, temen saya mengirimkan link film dokumenter berjudul Sexy Killers, besutan Dandhy Laksono dan Suparta Arz. Karena memang baru istirahat dari pekerjaan saya, maka saya klik link itu dan nonton sambil makan siang.

Cerita sekilas, film itu menceritakan dampak negatif pada aspek sosial lingkungan dari kegiatan pertambangan batubara, berikut para pelaku usaha batubara yang ternyata orang-orang penting di pemerintahan, baik di daerah maupun pusat. Batubara yang dikeruk di bumi Kalimantan dibawa menggunakan tongkang-tongkang menuju PLTU-PLTU di Jawa dan Bali. Listrik yang dihasilkan oleh PLTU menyokong kehidupan di Pulau Jawa, Bali dan sekitarnya.

Kita di Jawa, terlupa bahwa listrik yang kita nikmati di rumah selama ini ternyata membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit pada warga di sekitar areal pertambangan dan PLTU, bahkan lingkungan laut di sekitar PLTU. Kita merupakan bagian dari rantai panjang perubahan-perubahan ini. Inilah yang kemudian dibahas oleh para ahli lingkungan, sebagai istilah Jejak Ekologis.

Ternyata, jejak ekologis ini kadang membawa efek buruk, yaitu terdampaknya kehidupan sosial dan lingkungan sekitar. Ini barangkali menjadi dosa kepada kita, dan kita tidak pernah menyadarinya. Oleh sebab sempitnya pengetahuan kitalah, kita diajarkan doa taubat, mohon ampun pada Allah Subhanahu wa ta'ala seperti berikut ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii"

"Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan." (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang tidak ketahui.
Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1463-doa-memohon-segala-ampunan.html

Sabtu, 12 Januari 2019

Pengalaman tentang tidur

Kali ini tentang tidur.

Setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Ada kalanya tubuh bisa beraktivitas prima, namun ibarat mesin, ada waktu untuk istirahat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan waktu malam untuk waktu istirahat bagi manusia, bahkan bagi sebagian besar makhluk hidup. 

“Karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. al-Qashas: 73)

Istirahat yang dimaksudkan adalah tidur. Nah, disini saya bermaksud mengemukakan pendapat saya berdasarkan pengalaman saya saat tidur.

Tidur merupakan suatu misteri bagi kita semua. Proses dan fenomena alamiah bernama tidur ini benar-benar di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, salah satunya untuk menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar lemah, yang masih membutuhkan tidur. Banyak para peneliti yang meneliti dengan seksama proses tidur ini, hingga sampai pada teori fase-fase tidur: Non-Rapid Eye Movement dan Rapid Eye Movement. Silakan cari di google untuk itu.

Saya belum begitu percaya dengan fase-fase tersebut. Namun ada pengalaman menarik yang saya rasakan saat tidur.

Ada kebiasaan orang tidur sambil mendengarkan sesuatu, seperti radio atau televisi. Pun dengan saya, beberapa hari terakhir ini membutuhkan radio sebagai pengantar tidur. Saya mendengarkan Radio Muslim di laman streaming.

Nah, ternyata malam itu saya bermimpi. Mimpi saya isinya tentang sesuatu yang biasa diputar di radio tersebut. Yang membedakan adalah kadang ada satu adegan saya dinasihati oleh suara-suara yang ternyata dari radio. Juga ada suara ngaji al-Qurán yang terbawa sampai mimpi.

Hingga akhirnya terbangun, siaran radio masih aktif dari ponsel saya, yang saya letakkan agak jauh dari bantal.

Saya kemudian berpikir, kalau memang iya suara radio masuk ke dalam alam bawah sadar, maka benar-benar berbahaya jika kita memilih suara pengantar tidur itu dari hal-hal yang diharamkan seperti radio atau televisi penuh musik.

Jadi, lewat tulisan ini, saya berpesan pada siapapun yang biasanya tidur sambil mendengarkan suara tertentu dari radio atau televisi, pilihlah suara yang halal seperti murottal atau radio yang bersih seperti Radio Muslim. Silakan baca juga hukum mendengarkan murottal sebagai pengantar tidur.

#pengin-ketemu-Rasulullah-dalam-mimpi

Senin, 05 November 2018

[1] Mengapa tidak

Disclaimer: Judul diakhiri tanpa tanda titik, koma, tanya, atau apapun. Sengaja, judul dibuat multitafsir agar luwes bisa saya kemudikan kemanapun arah pembicaraan ini. Namun ada penomoran judul yang itu menandakan tulisan ini berlanjut di jilid yang lain. Tulisan ini juga terinspirasi dari mas Aji.

Tepat tanggal 2 Oktober 2018, saya berangkat ke Negeri Belanda. Saya adalah tuna media sosial kekinian kecuali WhatsApp. Risiko yang sudah saya sadari sejak sekitar tahun 2015 yang lalu ketika meninggalkan Facebook dan menutup akun saya secara total. Tak ada penyesalan, toh dulu yang membuatkan akun Facebook juga bukan saya. Dulu saya juga punya akun twitter, tapi juga bukan saya yang mau dan yang membuatkan. Ada beberapa akun yang lain, tapi lagi-lagi bukan saya yang bikin. Mereka adalah teman-teman saya, teman sekolah dan kampus, yang gemas karena saya anti medsos. Jika ada orang yang disebut ansos--antisosial, maka ternyata ada juga anmedsos--anti media sosial, ialah saya.

Kembali ke topik Belanda.
Resiko saya alami dari sebelum keberangkatan: saya buta dengan informasi, saat itu. But, that's fine. Saya masih bisa kontak beberapa teman saya, seperti Reza yang sudah menetap di Belanda dan sabar membantu saya menerangkan apapun, termasuk sekadar "bagaimana cara naik dan memilih kereta di Belanda".

Saya baru mendarat di Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam tanggal 3 Oktober, pagi, menggunakan Garuda Indonesia. Sebelumnya saya diberi tahu Reza untuk naik kereta NS dari Schiphol menuju Enschede, direct intercity.

Syahdan. 
Ponsel saya mati sejak dari pesawat. Dan di stasiun Shciphol saya tidak menemukan tempat colokan listrik. Padahal saya ingin bertanya ke Reza, karena belum tau dimana beli tiket kereta, dan seterusnya.

Inisiatif survival muncul.
Saya melihat lalu lalang orang-orang, akhirnya menuju ke loket NS untuk beli tiket. Tiket kereta pertama yang terbeli 24 euro. Lalu saya melihat-lihat lagi bagaimana orang menggunakan tiketnya, ternyata ada sistem check-in dan check-out pada sebuah mesin kecil yang banyak terpasang di stasiun. Kenapa saya gak nanya saja ke petugasnya? Gak ada inisiatif saat itu. Entah. Akhirnya, Saya masuk ke peron sesuai jurusan, yaitu menuju Enschede.

Begitu singkat cerita, saya sudah settled di Enschede untuk saat ini, 4 November 2018. Alhamdulillah.

Baru saja menikmati ritme hidup di Enschede, mas Aji dan mas Aul, senior di kampus, sesama orang Indonesia, mendorong-ndorong saya untuk maju ke Pemilihan Ketua PPIE--Persatuan Pelajar Indonesia Enschede, per akhir tahun 2018 ini.

Hemm, apakah tidak cukup meragukan, saya kok diminta ikutan Pemilu Ketua PPIE? Bukankah seharusnya saya melihat jejak rekamnya dulu bagaimana PPIE di lapangannya, baru kemudian memutuskan untuk memperbaiki atau meneruskan sistemnya?

Saya muntir. Tidak mau.
Namun, gigih sekali rupanya mereka ini. Ditambah beberapa teman-teman yang lain yang pada akhirnya mendukung saya. Saya tidak tahu persis kehidupan PPIE, namun sudah diminta ikutan nyalon. Yassalam.

Ada perdebatan dalam diri saya: apa sih yang saya cari di Enschede sini? Apakah saya mau fokus menyusun proposal dan artikel jurnal saya? Itu jelas yang utama. Selesaikan saja dulu yang utama. 

Kalau jadi pelajar biasa, apakah kemudian saya tidak bisa bersosialisasi dengan warga/pelajar Indonesia yang lain, yang mana mereka tergabung dengan PPIE? Tidak mungkin tidak kan?

Jadi buat apa nyalon ketua? PPIE tanpa saya juga akan jalan juga. Tetap akan ada juga yang nyalon jadi ketua dan seperangkat pengurusnya. Fokus saja lah, kalau mau kegiatan ekstra, mending ikut pengajian-pengajian kelompok muslim saja yang ada. Atau kalau ada kegiatan yang diadakan PPIE ya gabung aja sebagai peserta.

Akan tetapi,
kemudian saya berpikir. PPIE tidak hanya berisi kegiatan-kegiatan untuk para anggotanya. PPIE juga bertanggung jawab dengan nasib para anggotanya, bahkan ikut berpartisipasi pada nasib WNI di Enschede sini. Setidaknya, sebagai sesama bangsa Indonesia yang minoritas tinggal di negeri orang, legitimasi pada satu badan organisasi legal adalah bentuk manifestasi perlindungan bagi masing-masing anggota. Katakanlah, jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, maka jika kita sudah terakui terlibat dalam PPIE, kita akan dibantu dan dilindungi. 

PPIE adalah sebuah cabang, bagian dari bangsa Indonesia, yang jauhnya 14.000 km dari tanah air, tapi rasa cinta dan bangga terhadap negerinya tak pernah berkurang.

Di situ, saya kembali berpikir untuk menimbang dukungan para teman-teman saya, untuk bisa lebih maksimal bermanfaat walaupun saya merasa belum terbantu PPIE saat kedatangan saya di Enschede (karena mungkin anti medsos). Maka, untuk mencalonkan diri menjadi bagian yang bermanfaat di PPIE, mengapa tidak...

Rabu, 02 Mei 2018

Ketika matahari sepenggalah naik

Dulu saya pikir, sholat Dhuha dan membaca dzikir itu pembuka pintu rezeki, dan dulu juga saya pikir, rezeki itu berwujud uang, gaji yang besar, banyak order, banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan di bank, punya banyak aset, seperti: kendaraan, properti di sana-sini, hingga pada intinya: Harta.

Setelah mencari tahu lebih dalam apa makna rezeki dalam Islam, ternyata saya salah besar selama ini.


Ternyata, langkah kaki yang dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rezeki. Karena dengan hadir di dalamnya, mendengarkan nasihat dan fadhilah (keutamaan) menjadikan diri menjadi tahu tentang agama ini.

Langkah kaki yang dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid, adalah rezeki. Sebab tidak banyak, yang kaki dan hati ini bisa sekonyong-konyong bergerak melangkah ke masjid ketika adzan berkumandang.

Hati yang Allah jaga jauh dari iri, dengki, dan kebencian, adalah rezeki. Sebab semua penyakit hati itu merusak segalanya, termasuk menciptakan suasana hidup yang tidak tenang.

Punya teman-teman yang sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rezeki. Sebab, hidup menjadi lebih baik. Seumpama mereka masuk surga dahulu, sedang diri ini belum, maka Allah membolehkan mereka untuk menjemput kita. "Seseorang bersama dengan yang dicintainya." [1]

Saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga rezeki. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, angkuh bahkan lupa diri.

Punya orang tua yang sakit-sakitan,ternyata itu adalah rezeki, karena merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila kita tulus ikhlas mengurusnya.

Tubuh yang sehat, adalah rezeki. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rezeki karena sakit adalah penggugur dosa.

Dan mungkin akan ada jutaan list lainnya bentuk-bentuk rezeki yang kita tidak sadari. Suami, istri, dan anak-anak sehat itu rezeki, anak-anak Anda sekolahnya lancar itu rezeki, hidup rukun sama tetangga itu rezeki.

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, padahal begitu banyak hak Allah yang belum mampu atau tidak kita tunaikan. Barangkali itu adalah hukuman bagi kita, istidroj.



 ﻭَﻣَﺎ ٱﻟْﺤَﻴَﻮٰﺓُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎٓ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ 
"... Dan kehidupan dunia ini tidak lain 
hanyalah kesenangan yang menipu."
(Al-Hadid - 57:20)


*disadur oleh Muhammad Arifin, via sebuah WA Group. 2018.