Selasa, 31 Januari 2012

LKIR 42, Sepenggal Kisah Kemenangan

Liburan kayak gini, kalau gak pinter-pinter ngatur waktu, cuma akan terbuang sia-sia. Yap, liburan cukup panjang ini bisa diibaratkan "kejatuhan duren" bagi kamu para mahasiswa yang sibuknya bukan main, terutama bagi kamu yang kuliahnya di area kebumian seperti geologi, geofisika, geografi, geodesi, dll. Eits, mungkin aja, kuliah2 yang lain juga sama. Saya mah nggak tau segitunya juga.

Mumpung belum ada kerjaan, saya iseng2 buka lembaran2 lama kehidupan saya. Beberapa folder foto2 masih tersimpan rapi. Dan mayoritas berupa rekaman jejak langkah saya bergelut di dunia pendidikan, penelitian, olimpiade, dan lomba. Hem... bukan apa2 lho. Cukup tau aja -,-

LKIR 42
Salah satunya adalah folder LKIR42 tahun 2010. Diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia alias LIPI. Nah, Alhamdulillah, terimakasih atas doa-restu dari temen2 semua. Terimakasih kepada bapak ibu kami, dosen pembimbing kami, kakakku yang telah ngurusi banner, pembina-pembina Taman Pintar Science Club, Taman Pintar Yogyakarta, dan pihak yang nggak bisa disebutkan satu persatu.

Akhirnya saya dan rekan seperjuangan yang telah berkolaborasi sedemikian ribetnya ini, berhasil memboyong kedudukan juara pertama bidang IPA pada Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-42 yang diselenggarakan pada tanggal 21-24 November 2010.

Hari 1
Ini suasana booth pameran di Hotel Bumi Wiyata Depok, tempat berlangsungnya presentasi.

Hari 2
Kami dimampirkan ke Pusat Riset LIPI di Cibinong Bogor. Gilaa, keren banget isinya. Satu aula diisi lemari-lemari besi, dan di setiap lemari ada puluhan specimen spesies kayak gini. Gila, keren banget. Berasa di luar negeri deh.

Ini aku lupa, pokoknya itu bagian dari pohon pisang atau kelapa gitu (-_-)a.
Pokoknya bagi kamu yang suka kayak2 gini, main deh. Kayaknya boleh untuk umum. Gak tau sih aturannya kayak gimana.

Satu botol sangat berharga. Di ruangan ini, jangan sampai mecahin satu botolpun. Bisa 'dibunuh' ntar.

Kalau disini lumayan aman. Kan isinya cuma awetan kering. Tapi sama aja, gak bisa dilihat. Lha dibungkus sama kertas asam gitu.

Ini kertas asamnya dan cara mbungkusnya.
Ini di laboratorium awetan hewan (istilahnya lupa aku..)

Ini ada babi sama monyet. Waww...

Suasana di lab. Tau kan, satu aula gedhe banget, hanya diisi rak2 mahal beraneka macam ini.

Yang bikin wah itu adalah koleksi ini salah satunya. Keren abis.

Gak tau kenapa, liat si monyet itu pasti kepala saya jadi gatal juga. :D

Ini, kalau pengawetan kayak gini gak tanggung2 ya. Hewan dilindungipun diawetkan. Kan untuk kepentingan ilmu pengetahuan :D. Itu burung apa namanya yang kanan? Yoi, itu rangkong.

Ini lab kimianya lah. Alat2nya bikin pusing. Gak mudheng saya. Jadi bisanya cuma takjub sana sini.

Ini semacam pembibitan kultur jaringan gitu nggak sih? Disini semuanya harus steril. Dan ada tumbuhan2 unggul yang disemaikan dalam botol2 itu.

Ini di puncak gedung AJB Bumi Putera Sudirman. Hehe, narsis dikit nggak papa lah..

Hari 2 Malam
Penganugerahan pun dilaksanakan. Alhamdulillah, saya mendapat juara pertama bidang IPA. Hehe.. Itu tampak yang bawah, kontingen Jogja gitu deh (baca: UGM)

Ini suasananya. Meriah bukan?

Ceria bersama2. Duh, mas Azmy malah noleh...
FYI, LKIR LIPI ini merupakan ajang untuk mendapatkan golden ticket keikutsertaan di Intel International Science and Engineering Fair (IISEF) di Amerika Serikat. Dan Alhamdulillah kembali, saya mendapat tiket tersebut! Baca selengkapnya di postingan saya berikut:

Road to IISEF Los Angeles US part 1
Road to IISEF Los Angeles US part 2
Road to IISEF Los Angeles US part 3
IISEF Delegation of Indonesia

Senin, 30 Januari 2012

Galau Akademik Mahasiswa!

Akhir2 ini baru ramai2nya trend 9gag atau yeahmahasiswa, isinya lumayan dong buat refreshing. Apalagi buat para remaja dan mahasiswa seperti ini. Nah, dari sekian posting di 2 tempat tersebut terutama di yeahmahasiswa, ternyata bisa disimpulkan sebuah makna bersaingnya di kehidupan nyata ini. 

"Kalau melihat orang lain kesulitan, jadi ikut sedih. Lalu mulai berpikir, bagaimana bisa membantunya untuk tidak kesulitan lagi."

Tetapi,

"Kalau melihat orang lain lebih sukses, malah jadi lebih sedih. Lalu mulai muncul pikiran-pikiran iri dan dengki."

Hahaha, dasar manusia!
(Post ini mengulang post sebelumnya tentang "3 Idiots")

Kamis, 26 Januari 2012

Gua Pindul, GK

Wah,
Aku itu anak geologi, anak alam. Tetapi kalau disuruh main rafting-arung jeram, naik gunung, caving-susur gua, panjat tebing, tralalala trililili lainnya, mesti harus mikir2. Kalau naik gunung sih sudah lumayan biasa. Otomatis lah, dididik untuk menjadi seorang geologis. Tapi kalau untuk kegiatan-kegiatan pencinta alam, beh mesti bener2 mikir. Kenapa? Aku cukup takut untuk kegiatan macam itu. Arung jeram, susur gua, semuanya harus dilakukan dengan ketrampilan khusus. Gak semua orang bisa. Pikirku, itu semua hanya untuk orang yang memang kenekatan keberanian yang luar biasa.

Aku pasti kepikiran sama film-film pencinta alam semacam "Sanctum" yang akhirnya pada mati gara-gara musibah itu. Kan ngeri betul kalau terjadi nyata. Tiba2 atap gua runtuh gimana jadinya?

Gua Pindul
Temenku akhirnya ngajak aku caving alias susur gua. Mana guanya berair lagi. Ya sudah, daripada belum pernah sama sekali, mending ikut aja deh. Lagipula gak ada alasan yang cukup untuk menolak. Pernah sih bilang, kalau aku gak begitu bisa berenang. Eh, katanya ada pelampungnya. Ya sudah. Ikut aja. Tanggal 25 Januari 2012 akhirnya aku ikut mereka.

Bener kan, akhirnya dari pusat Jogjakarta berangkat ke Gua Pindul di Gunung Kidul yang katanya keren itu. Arahnya, dari Jogja naik ke Patuk terus melaju ke pusat kota Wonosari. Sampai ada bundaran BPD di Wonosari belok ke kanan. Ikuti jalan itu terus, sekitar 5 kilometer. Ada gapura besi besar di kanan jalan pada perempatan jalan, belok kiri masuk gapura itu. Nanti ada orang-orang pribumi yang mau menunjukkan jalan ke Gua Pindul secara gratis alias nggak usah mbayar ke orang itu. Dia sudah dibayari sama Pengelola Gua Pindul alias Pemda.

Sampai di Gua Pindul
Wah, kebetulan gak ada kamera nih yang motret muka obyek wisatanya. Nah, setelah parkir motor, aku dan teman2 langsung ke sekretariatan. Lumayan rame. Dan disinilah kami mbayar sewa pelampung ples ban. Dengan merogoh kocek 30rb untuk susur gua, kalau sekalian rafting di Kali Oyo mbayar 40rb. Tapi karena debit air Kali Oyo baru kecil, maka kami memutuskan untuk susur gua saja. Nah, lumayan lho. Dengan harga segitu, aku merasa sangat diuntungkan. Mengapa? Ada fasilitas pemandu yang attraktif bernama Mbah Ireng dengan ditemani satu pemandu lagi yang membawakan kamera. Jadi pas di dalam gua nanti, para peserta gak perlu jeprat jepret. Takut jatuh ke air. Mending kameranya dititipkan ke pemandu, nanti difotoin. Lumayan hasilnya. Cukup profesional dengan kamera pocket semacam punyaku.


Lihat di foto atas, jadi fasilitas yang kami pakai standar seperti itu. Trus pakai sepatu plastik bawaan dari Pengelola agar nanti gak lecet2. Nah, musti jalan kaki sekitar 500 meter. Guanya sendiri panjangnya 350 meter. Nah, sebelum benar2 masuk gua, ada briefing dulu dari pemandu Mbah Ireng. Safety first lah ya..
  1. Dilarang berbuat anarki.
  2. Dilarang berbicara kotor.
  3. Saling menjaga diri.
  4. Berdoa.
  5. Pakai pelampung yang benar.


Kata mbah Ireng, ada 3 zona di dalam gua. Pertama, zona terang dimana langit masih terlihat. Semakin masuk menjadi zona remang-remang. Zona terakhir, zona gelap abadi. Ohiya, FYI, kedalaman air disini dari 4 - 12an meter.


Nih, sedikit jepretan yang ku tampilkan. Lumayan kan? Nah, menuju zona gelap abadi, harus lewat celah sempit gua (kanan bawah). Makanya kami ditarik satu persatu. Ini sengaja nggak ditampilkan banyak2 karena kalau ingin tahu sebenarnya, datang saja ke Gua Pindul dan rasakan sensasinya. Haha..

Ini bagian terasyik.
Bagian terasyik ini sudah hampir keluar gua. Dan disini kedalaman air masih cukup dalam. Bagi peserta tour yang belum mahir berenang kayak aku, mesti diuji adrenalinnya dilepas sendiri disini. Pakai pelampung tak mengurangi rasa takut lho. Hehehe... tapi teman2ku dengan melenggangkan badan, berani2nya terjun kayak gini.


Akhirnya aku diajari renang sama Mbah Ireng. Gak tau caranya gimana, yang penting tenang, dan tangan kaki digerak-gerakkan. Sudah deh, bergerak jadinya. Hahaha..

Ini foto tim kami sebelum keluar gua. Di sini lah, tempat keren yang pernah aku lihat sendiri. Ada sinar matahari masuk melalui celah atap gua. Jatuh ke air dan membias warna hijau. Keren bet.


So?
Bagi kamu yang merasa takut caving tapi malu diejek temen2mu, datanglah ke sini. Hahaha... nanti bakalan kehapus tuh pendapat orang2 tentangmu. Atau bagi kamu yang suka adventuring, walau gak begitu menantang, tapi datanglah kesini. Karena memang disini didesain untuk refreshing keluarga-semacam desa wisata gitu deh. Sip deh pokoknya.

Rabu, 25 Januari 2012

Etika Jalanan yang Elegan

Petuah jalanan itu memang ada!
Petuah atau aturan-aturan main ketika menggunakan fasilitas jalan dimana pun itu memang ada. Tidak peduli di gang sempit sampai di jalan tol. Suatu hari, saya mengikuti perbincangan keluarga Sagasitas saat Rapat Kerja, beberapa hari yang lalu (22/01), Ibu Prof. Suwarsih Madya - seorang guru besar UNY dan manta Ka Dinas Dikpora - mengatakan bahwa,

"Pakai jalan, itu mesti lihat aturan. Aturannya adalah ketika kita pakai mobil, kita harus menghormati sepeda motor, sepeda genjot, becak, andong, dan pejalan kaki. Ketika kita naik sepeda motor, kita harus menghormati sepeda genjot, becak, andong, dan pejalan kaki. Ketika kita naik sepeda genjot, kita harus menghormati becak, andong, dan pejalan kaki."

Tahu intinya?
Ya, beliau menjelaskan apa maksud dari aturan tersebut. Pada aturan itu, terdapat makna yang sangaaaat dalam. Ketika kita pakai mobil, itu berarti kita merupakan 'petinggi' jalan raya. Kita sekan menjadi orang berstrata sosial tinggi. Nah, aturannya, kita harus menghormati orang-orang yang berstrata di bawah kita. Beliau menambahkan, "Saya kalau di jalan, mesti harus hati-hati. Karena saya sadar, saya harus menghormati orang lain. Saya selalu berhenti sesaat, mempersilahkan para becak untuk menyeberang." Bu Warsih sangat mengapresiasi para pengguna jalan yang lain.

Saya jadi ingat!
Saya ingat sewaktu mendapat kesempatan 'bermain' di Los Angeles, California, di sana orang mau nyeberang, semua mobil antre. Mobil-mobil itu sebenarnya mau belok ketika di persimpangan. Namun ketika ada orang menyeberang, mobil-mobil itu tidak menampakkan mobilnya mau belok kecuali lampu sen. Dan mobil-mobil itu berhenti jauh sekitar 3 meter dari zona penyeberangan.


Coba perhatikan gambar di atas. Sangat elegan dan tentram buat penyeberang. Mereka sangat safety, berbeda dengan Indonesia. Coba bandingkan dengan ilustrasi berikut.


Di Indonesia, orang nyeberang dimaki-maki, pemakai sepeda kayuh dicaci, penarik becak dibenci. Dan rata-rata mungkin yang membenci adalah orang-orang sok berduit, sok berkelas, dengan mengendarai mobil. Dengan angkuhnya, si pengguna mobil marah-marah. Ah, dasar tukang becak. Ah, dasar motor, maunya menang sendiri. Padahal, yang mau menangnya sendiri ya si mobil lah. Spasial 4 motor ditilep buat dia seorang dengan mobilnya. Menuh-menuhin jalan gak karuan. Main senggol sana senggol sini. Walhasil, sebanyak 9 orang terpaksa menanggung akibat keserakahan mobil berbius obat di kompleks Tugu Tani Jakarta kemarin.

So?
Jadilah pengguna mobil yang bijak. Jadilah pengguna jalan raya yang bijak. Hormati pengguna yang memakai sarana lebih rendah darimu. Itu akan berimbas balik ke kamu. Kamu hormat ke orang lain, memberi senyum kepada mereka, mereka juga akan senyum kepadamu dan hormat kepadamu. Temukan itu di Bumi Jogjakarta kalau tidak percaya! ***

Minggu, 22 Januari 2012

Lagi-lagi Mobil!

Masih ingat dengan postingan saya sebelumnya tentang mobil?


Dan saya mendengar dan melihat, pemerintah akan tegas memberlakukan regulasi yang kira2 berbunyi seperti ini:


"Kendaraan bermotor roda empat berplat hitam (milik pribadi) wajib untuk menggunakan Pertamax atau Gas."


Komentar saya: Sangat Setujuuu!!! Saya cukup benci dengan kendaraan beroda empat yang hanya ditumpangi satu orang (sang sopir) beroperasi di jalan-jalan protokol Propinsi Daerah ISTIMEWA Yogyakarta. Apalagi mobil itu berplat bukan AB, tapi B, Z, H, L, AD, dan lain-lain. Gak masalah punya mobil. Tapi berefektiflah ketika mau pakai mobil. Lihat seberapa penting menggunakan mobil? Kalau bisa pake motor roda dua, kenapa musti pake roda empat? Secara spasial akan berpengaruh. Tapi, knalpot berasap jadi lebih banyak? Kalau bisa pakai sepeda, kenapa nggak?

Jumat, 13 Januari 2012

Mahasiswa! (part 3-end)

Mahasiswa: Sumpah Pemuda, bukan Pemuda Sampah!
Banyak diperingati di beberapa tempat di Indonesia yakni tanggal 28 Oktober 2011 sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari itu adalah hari yang diyakini sebagai waktu sakral bagi Indonesia karena pada saat itu beberapa penggal sumpah diteriakkan bersama-sama oleh sejumlah pemuda Indonesia. Sumpah Pemuda merupakan hasil rumusan beberapa kali kongres pemuda. Adapun bunyi Sumpah Pemuda tersebut adalah 

SOEMPAH PEMOEDA 

Pertama 
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA 

Kedoea 
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA 

Ketiga 
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA 

DJAKARTA, 28 OKTOBER 1928 


Sumpah Pemuda dituding-tuding sebagai salah satu perwujudan rasa nasionalisme pemuda terhadap tanah air. Hari ini, para pemuda Indonesia dituntut untuk bisa menghapal Sumpah Pemuda. Setelah berhasil menyimpan teks-teks Sumpah Pemuda ke dalam benaknya, acapkali para pemuda Indonesia sudah merasa bahwa mereka sudah menunjukkan rasa nasionalisme kepada tanah air. 

Padahal sekali-kali tidak hanya seperti itu saja. Jika paradigma pemuda masih seperti itu, bisa dikatakan bahwa mereka bukan tengah menjadi insan nasionalis melainkan pemuda sampah. 

Mengapa menjadi pemuda sampah di masyarakat? Kalau bukan sampah, bagaimana mereka bisa merusak kampus mereka sendiri? Bagaimana mereka bisa saling baku hantam? Tentu, tidak ada kata yang pantas untuk mereka kecuali sampah masyarakat. Lalu akan diapakan sampah tersebut? Ada dua kemungkinan. Sampah akan dibuang karena sudah tidak terpakai atau sampah akan didaur ulang agar bisa berguna lagi. Bayangkan jika asumsi ini diterapkan kepada mereka para sampah masyarakat dalam hal ini para pemuda yang salah menempatkan semangat mereka. 

Jika didaur ulang pun, akan melewati fase penghancuran terlebih dahulu untuk kemudian diolah menjadi suatu barang yang lebih baik dan bermanfaat. Penghancuran karakter buruk harus dilakukan pada para pemuda. Pada akhirnya, semangat yang meledak-ledak akan terarah untuk menghadirkan semangat positif. Secara otomatis, semangat postif akan menghasilkan energi positif. Setiap aksi membutuhkan energi. Jika energi yang tersedia adalah energi positif maka akan terbentuk aksi positif pula. Dengan serangkaian yang positif, para pemuda akan menghasilkan sesuatu yang positif. 

Cara menjadi pemuda yang positif dan berguna adalah salah satunya dengan berkompetisi. Memunculkan sikap kompetitif yang positif dan sehat akan memunculkan pola pikir yang inovatif, kritis, dan prospektif. Sudah banyak dari beberapa pemuda Indonesia yang mempunyai otak brilian yang berhasil menemukan banyak inovasi dan teknologi baru. 

Sudah banyak dari pemuda Indonesia yang menjadi jawara internasional. Mereka mampu bersaing dengan warga asing yang disebut-sebut sebagai ahli teknologi. Mereka dengan gigih mempercantik nama Indonesia di mata dunia. Mereka seolah menutupi masalah-masalah tidak penting di Indonesia. 

Sudah saatnya mahasiswa Indonesia mengubah diri dan membentuk karakter yang baru dan baik bagi Indonesia. Dengan meyakini bahwa peran mahasiswa sangat menentukan roda perjalanan bangsa, mahasiswa Indonesia harus meyakinkan diri untuk bisa memilih jalan mana yang terbaik. 

Tidak perlu berteoritis belaka. Sampai detik ini, coba masing-masing dari kita mengukur seberapa berguna kita sebagai mahasiswa menurut Tri Darma Perguruan Tinggi? Seberapa berguna kita sebagai mahasiswa yang punya rasa nasionalisme tinggi terhadap bangsa dan tanah air? Sampai pada pertanyaan terakhir, apa yang sudah kita persembahkan sebagai kewajiban kepada negara, bangsa, tanah air, dan masyarakat sampai kita sudah berani untuk menuntut hak? [***]

Mahasiswa! (part 2)

Omong Kosong Mahasiswa: Kemunafikan 
Ada kalanya, di perempatan jalan dan di gedung-gedung pemerintah, terdengar ada hiruk pikuk sejumlah mahasiswa menyuarakan demonstrasinya. Dengan semangat, mereka mengayunkan spanduk bercat semprot dengan tulisan tuntutan mereka. Bendera-bendera dikibarkan mulai dari bendera organisasi mahasiswa sampai bendera Merah Putih. Tidak lupa, terdengar nyanyian lagu-lagu kebangsaan dan mahasiswa.

Darah Juang
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Padamu kami berbakti



Perjuangan Mahasiswa
Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta.



Sekilas terkesan menyayat hati dan menyentuh kalbu. Siapapun akan menjadi mendukung mahasiswa pada saat itu. Tetapi, muncul pertanyaan, apakah benar yang disampaikan mahasiswa itu? Apakah mereka benar-benar berada di pihak yang mereka anggap tertindas? Dan bagaimana peran mahasiswa sendiri dalam mengatasi masalah yang mereka gembar-gemborkan? 

Pertanyaan-pertanyaan kritis itu seakan membentengi diri untuk langsung membenarkan apa yang mahasiswa suarakan. Karena setelah melihat fakta bahwa dari mereka yang rela berpanas-panas di jalan, hampir tidak ada yang mereka lakukan selain berdemo secara anarki. 

Logika yang dapat diterima akal adalah ketika mahasiswa memang sedang dalam jalan yang benar dan memposisikan diri sebagai insan berpendidikan, maka mengapa mereka rela menghabiskan waktu untuk sekedar berdemo tanpa penyelesaian yang nyata? 

Mengapa dari mereka tidak sedikitpun berpikir bahwa masalah masyarakat saat ini bukan lagi masalah pemerintah. Namun semua itu menjadi masalah mahasiswa. Bagaimana mahasiswa memecahkan masalah masyarakat itulah yang disebut-sebut sebagai Tri Darma Perguruan Tinggi. 

Cukup muak!
Geli dan muak mendengarkan mahasiswa sampai berurat-urat nadi lehernya meneriakkan “Ganti Pemerintah dengan yang Baru! Pemerintah saat ini telah gagal!” Sangat menyakitkan mendengar bualan mahasiswa seperti itu. Mengapa tidak pernah terbesit dalam benak mereka bahwa saat ini tidak perlu mengganti pemerintah yang baru namun sangat perlu untuk mengganti masyarakat yang baru. "Ganti masyarakat yang baru!"

Tentu dengan pola pikir yang baru, semangat perubahan yang baru, sikap dan budi pekerti yang baru. Bagaimana mahasiswa yang dengan gagahnya mengatakan bahwa mereka adalah pihak independen, tetapi sangat mudah untuk diprovokasi. Omong kosong dengan aksi mereka berpanas-panas di jalanan, Meneriakkan yang tak berarti bagi mereka sendiri. Menjadi mahasiswa tidaklah mudah. Semakin besar kekuatan yang dimiliki, maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan pernah menjadi mahasiswa sampah. Mahasiswa aktif di organisasi (BEM) tapi tetap menjadi sampah. Menjadi mahasiswa yang aktif demonstrasi tanpa tindakan nyata hanya akan menjadikan diri sebagai sampah.